Korporasi Petani dan Tata Niaga Tanaman Obat
Tanggal Posting : Sabtu, 10 Oktober 2020 | 04:48
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 226 Kali
Korporasi Petani dan Tata Niaga Tanaman Obat
Menko PMK, Muhadjir Effendy berkunjung ke B2P2TOOT didampingi Kepala Badan POM, Penny K. Lukito, diterima oleh Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu M.Sc.PH, pada Kamis, 8 Oktober 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Korporasi petani tanaman obat dan tata niaga yang efesian akan mendukung pengembangan Jamu dan obat herbal yang dapat menjadi keunggulan daya saing bangsa.

Pemerintah akan membentuk korporasi petani tanaman obat dan memperbaiki tata niaga tanaman obat. Dukungan berbagai pihak  untuk memajukan jamu juga akan didorong oleh pemerintah salah satunya dengan mempromosikan pemanfatan obat asli Indonesia secara masif. 

Dukungan kuat terhadap pengembangan tanaman obat dan jamu tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy dalam kunjungan kerja ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) pada 8 Oktober 2020.

B2P2TOOT merupakan satuan kerja di bawah Badan Litbangkes mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional, dari hulu ke hilir.

Jamu, sebagai warisan budaya nusantara, turun temurun dari nenek moyang, diberikan bukti ilmiah keamanan, mutu dan khasiat melalui penyelenggaraan riset-riset. Hasil riset mendukung perencanaan pembangunan kesehatan di Kementerian Kesehatan melalui program-program yang bersifat preventif, promotif dan kuratif.

Hadir bersama Menko PMK, 10 pejabat eselon 1 di Kemenko PMK diantaranya yaitu Sekretaris Kemenko PMK, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, dan Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga.

Berita Terkait: Pengembangan OMAI Tingkatkan Kesehatan Masyarakat 

Berita Terkait: Karanganyar Potensi Menjadi Sumber Bahan Baku OT 

Selain rombongan dari Kemenko PMK, Bupati Karanganyar, Drs. H. Yuliatmono, M.M. dan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Dr. Ir. Penny Lukito, MCP , dan Kapuslitbang Sumber daya dan Pelayanan Kesehatan, Dr. dr. Irmansyah Sp.K.J.(K.), juga hadir di Satker Badan Litbangkes yang berlokasi di Tawangmangu tersebut.

Dalam kunjungan kerja ini Menko PMK bermaksud menyerap aspirasi masyarakat khususnya petani tanaman obat sebagai ujung tombak penyediaan bahan  baku obat tradisional. Demikian siaran pers B2P2TOOT yang diterima Redaksi JamuDigital.Com

Petani tanaman obat menjadi perhatian Prof Muhadjir karena dipahami bahwa Indonesia masih melakukan impor bahan baku obat tradisional.  Mencoba mengurai permasalahan tersebut, Kemenko PMK memulai dengan mengidentifikasi  permasalahan di tingkat produsen tanaman obat yaitu mereka para petani. 

Dialog Petani Tanaman Obat

Dialog yang diikuti perwakilan petani tanaman obat binaan B2P2TOOT mengungkap sejumlah permasalahan yang dihadapi para petani antara lain fluktuasi harga jual hasil pnanen tanaman obat, belum terbukanya pasar untuk jenis-jenis tanaman obat tertentu,  banyaknya hama dan penyakit sebagai kendala budidaya, dan masih rendahnya kualitas sejumlah komoditas tanaman obat. 

Terkait permasalah tersebut para petani menyampaikan permohonan adanya kepastian harga, dan pembukaan pasar misal dengan diterbitkannya peraturan yang mewajibkan masyarakat untuk minum jamu; bantuan teknis pelatihan budidaya, pascapanen, dan pembuatan produk olahan tanaman obat; serta kemudahan perizinan untuk membuka usaha mikro obat tradisional, hon ada aturan minum jamu. 

Harapan para petani itu diperkuat dengan pernyataan Bupati Yuliatmono tentang perlunya sebuah sistem bulog yang diberlakukan untuk produk tanaman obat yang tetap menjaga harga beli hasil panen dari petani dengan cara memberlakukan keanggotaan yang ketat dan permodalan dari pemerintah non pinjaman.

Menko PMK menjelaskan Kemenko PMK concern terhadap jamu karena lingkup tanggung jawab dan wewenang Kemnko PMK sangat luas meliputi koordinasi, sinkronisasi, mengendalikan program  pembangunan manusia dan kebudayaan.  Kementerian yang berada dalam lingkup koordinasi Kemenko PMK adalah  Kemendikbud, Kemenag, Kemnkes, Kemensos, Kemenpira, Kemendes, dan Kementerian Pemberdayaan Wanita.  Selain kementerian, lembaga yang berada dalam koordinatornya adalah BNPB, BPOM, BKKBN, dan BPJS.

Menyinggung isu yang sedang memanas saat ini, Menko PMK mengatakan bahwa  omnibus law dimaksudkan untuk memotong birokrasi, memperluas lapangan kerja, dan memperluas usaha.  Di Indonesia saat ini terdapat 137 juta angkatan kerja dan 7 juta diantaranya pengangguran.

UU Cipta Kerja ditujukan untuk mempermudah izin usaha termasuk UMKM sehingga akan memperbanyak lapangan kerja yang terbuka.  Diperlukan peraturan turunan dari undang-undang tersebut  agar implementasinya dapat mencapai tujuan yang diharapkan yaitu menciptakan kesejahteraan masyarakar melalu pembukaan usaha dan lapngan kerja seluas-luasnya.

Terkait tugas Kemenko PMK untuk emastikan pembangunan manusia berjalan baik, diterangkan bahwa pembangunan manusia dilakukan sejak manusia ada dalam kandungan.  Pemenuhan kesehatan janin, ibu, dan anak sampai lapangan kerja dan penangann bencana alam adalah tugas besar yang diemban oleh Kemenko PMK.

Kepala Badan POM, Dr. Dr. Ir. Penny Lukito, MCP mengatakan bahwa BPOM mendukung perizinan industri jamu. Kepala BPOM juga menyampaikan apresiasi kepada B2P2TOOT yang telah membantu pengembangan jamu/obat tradisional yang berkualitas dan mendukung penelitian bahan baku yang terstandar. Perwakilan dari Kementerian Pertanian mengatakan bahwa permasalahan yang muncul dan harus diatasi dalam produksi bahan baku obat tradisional adalah produktifitas, kualitas, dan kontinuitas.

Sebelum berdialog dengan petani, Menko PMK meninjau kebun tanaman obat Tlogodlingo B2P2TOOT yang berada di ketinggian 1.800 mdpl. Di kebun tanaman subtripis dan aromatis tersebut Menko PMK melakukan panen Thymus vulgaris (timi, untuk obat batuk) dan kamilen (Matricaria chamomila, untuk antioksidan). Kegiatan Menko PMK setelah dialog dengan petani di Aula RM Santoso Soerjokoesoemo adalah mengunjungi Laboratorium Pascapanen.

Laboratorium pascapanen berfungsi sebagai tempat pengolahan pascapanen untuk menghasilkan bahan jamu yang berkualitas melalui alur pengolahan: sortasi basah, pencucian, pengubahan bentuk, pelayuan, pengeringan, pengepakan, pelabelan, dan penyimpanan.  Bahan jamu yang dihasilkan di laboratorium pascapanen selanjutnya digunakan di RRJ. 

Bahan jamu diramu menjadi jamu dan diberikan kepada pasien yang merupakan subyek penelitian jamu berbasis pelayanan.  Penelitian jamu berbasis pelayanan di RRJ  Hortus Medicus dan jejaringnya

Kepala Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa hasil riset bidang tanaman obat dan obat tradisional yang disebut riset hulu-hilir Saintifikasi Jamu di  B2P2TOOT menunjukkan eksistensi B2P2TOOT dalam mendukung program pembangunan kesehatan melalui aktivitas litbang tanaman obat dan obat tradisional.

Sebagai bagian dari Badan Litbang Kesehatan, B2P2TOOT berkontribusi dalam penyediaan data, informasi,  dan produk yang dapat direkomendasikan kepada pemegang kebijakan di tingkat pemerintahan pusat dan daerah. 

Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu M.Sc.PH. menyatakan bahwa B2P2TOOT  bermitra dengan pemerintah daerah dan petani di wilayah Kabupaten Karanganyar dalam penyediaan bahan baku jamu melalui kegiatan pembinaan petani tanaman obat. Diharapkan sinergi ini mampu secara langsung meningkatkan kesehatan dan sejahteraan petani tanaman obat di Tawangmangu dan sekitarnya.   

Sebagai informasi, hingga tahun 2020, B2P2TOOT telah menghasilkan 12 ramuan jamu saintifik yaitu ramuan jamu saintifik untuk asam urat, tekanan darah tinggi, radang sendi, kolesterol, wasir, gangguan fungsi hati, pelancar asi, batu saluran kemih, penurun berat badan, penurun kadar gula darah, maag/gangguan lambung dan kebugaran jasmani.

Pada sisi hulu, B2P2TOOT melakukan kegiatan eksplorasi pengetahuan etnomedisin dan tumbuhan obat berbasis komunitas yang dilakukan dalam skala nasional. Riset khusus tersebut dikenal dengan nama Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja).

Kegiatan ini dilaksanakan pada 405 etnis di 34 provinsi di Indonesia pada tahun 2012, 2015 dan 2017 dan berhasil menginventaris 32.014 informasi ramuan, 47.466 informasi tumbuhan obat dan mengkoleksi 27.743  herbarium spesimen tanaman obat. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: