Uji Klinis Memastikan Khasiat Obat Fitofarmaka Meyakinkan
Tanggal Posting : Selasa, 29 Desember 2020 | 07:30
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 313 Kali
Uji Klinis Memastikan Khasiat Obat Fitofarmaka Meyakinkan
Fleksibilitas dari Badan POM, tetap berpegang pada pemenuhan aspek keamanan, manfaat dan mutu. Keseimbangan ini terus dilakukan, agar OMAI dapat masuk dalam pelayanan kesehatan.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Badan POM terus mendukung pengembangan obat herbal, termasuk menyiapkan Rancangan Pedoman Uji Klinik Obat Bahan Alam. Obat herbal Fitofarmaka yang telah melalui uji klinik- sesuai Good Clinical Pratice-GCP untuk memastikan bahwa khasiatnya meyakinkan.

Demikian diungkapkan oleh Deputi Bidang Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik- Badan POM, Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si. pada saat wawancara dalam rangka Penyusunan Buku Putih "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia" oleh Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada Rabu, 23 Desember 2020.

Ikut menggali informasi pada kegiatan diatas antara lain: Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes., Direktur Direktorat Penelitian UGM, Prof. Drs. Subagus Wahyuono, Apt., MSc., PhD, Ketua Tim Peneliti, Fouder JamuDigital, Karyanto, Tim Periset, seperti: Prof. Dr. Mae Sri Hartati, Apt., MSi. (Fakultas Kedokteran-Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM), dr. Ulfatun Nisa  (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu), Arko Jatmiko Wicaksono, Apt., MSc. 

Reri Indriani didampingi oleh Tim Badan POM, antara lain: Martin Suhendri, Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, Badan POM, dan Dra. Cendekia Sri Murwani, Apt, MKM, Direktur Registrasi Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan POM.

Badan POM memberikan fleksibilitas regulasi untuk mendukung pengembangan riset obat herbal. "Kami sosialisasikan kepada teman-teman stakeholders. Ini sudah dilaksanakan pada April atau Mei 2020, sebelum saya menjadi Deputi 2. Bahkan Buku OMAI sudah kita launching di bulan Mei 2020," papar Reri Indriani secara daring.

Informatorium Obat Modern Asli Indonesia pada Masa Pandemi COVID-19 sudah diterbitkan pada bulan Mei 2020, lanjut Reri Indriani. Kami terus mensosialisasikan di berbagai media sosial kami, linknya tersedia untuk mengakses buku tersebut. Termasuk, baru minggu kemarin, dilakukan dua kali berturut-turut sosialisasi.

Reri Indriani menambahkan karena masih banyak pertanyaan masyarakat terkait hal tersebut, baik dari perguruan tinggi maupun peneliti. Dalam Informatorium Buku OMAI pada masa Pandemi COVID-19 dijelaskan mengenai tata laksana obat herbal.

Dia menjelaskan bahwa uji pra klinik dan uji klinik pada masa pandemi untuk obat herbal, merujuk pada CUKB-Cara Uji Klinis yang Baik atau Good Clinical Practice-GCP, hampir tidak ada bedanya dengan obat konvensional. "Saat ini, kami sedang finalisasi pedoman uji klinik herbal dengan semangat pengembangan OMAI," ungkap Reri Indriani.

Berita Terkait: Badan POM Terbitkan Informatorium OMAI 

Berita Terkait: Gerakan Moral Dukung OMAI Masuk JKN

Dukungan Badan POM dalam pengembangan obat herbal, tentunya dalam rangka mewujudkan instruksi Presiden. Mungkin kita masih ingat, salah satunya dalam pembukaan kongres ilmiah IAI- Ikatan Apoteker Indonesia. Dimana saat itu, Bapak Presiden menjelaskan kita wajib mendukung pengembangan obat bahan alam asli Indonesia, Reri Indriani mengingatkan.

Dan tentu dalam menterjemahkan instruksi tersebut, kami juga sejalan dengan Bapak Menristek yang sudah menyatakan bahwa OMAI ini sudah saatnya masuk dalam pelayanan kesehatan formal atau JKN.

Jangan pelaku usaha sudah menggebu-gebu melakukan riset, tetapi kemudian dari aspek lain tidak menyemangati. Dan kami tentu mendukung Menristek, oleh karena itu kami juga didalam berbagai kesempatan mendukung kemungkinan adanya perubahan Permenkes 54 Tahun 2018 (silakan download).

Uji Klinik Fitofarmaka yang sudah dikawal oleh Badan POM melalui tahapan penelitian, uji pra klinik dan uji klinik- yang sampai saat ini juga sebagai pembandingnya atau kelompok kontrolnya menggunakan obat konvensional atau obat kimia, sehingga khasiatnya sudah meyakinkan.

Jadi kami tentu berharap, pendampingan yang sudah kami lakukan ini sudah memberikan keyakinan yang memadai terhadap tenaga kesehatan untuk dapat meresepkan atau menggunakan obat herbal Fitofarmaka, urai Reri Indriani kepada Tim Peneliti UGM.

Fleksibilitas dari Badan POM, tetap berpegang pada pemenuhan aspek keamanan, manfaat dan mutu. Keseimbangan ini terus dilakukan, agar OMAI dapat masuk dalam pelayanan kesehatan.

Detil wawancara Reri Indriani beserta Tim Badan POM akan menjadi bagian yang menarik dari Buku Putih "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia" oleh Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tunggu ya...! Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: