Cara Aman Konsumsi Obat Tradisional Saat Pandemi
Tanggal Posting : Rabu, 7 April 2021 | 08:01
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 57 Kali
Cara Aman Konsumsi Obat Tradisional Saat Pandemi
Badan POM terus melakukan post-market surveillance melalui pengawasan terhadap promosi dan informasi, serta monitoring efek samping.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Masyarakat Indonesia mengonsumsi ramuan obat tradisional sudah menjadi tradisi untk memelihara kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan. Juga saat terjadi pandemi COVID-19.

Terkait hal itu, Badan POM menyelenggarakan webinar "Cara Aman Menggunakan Obat Tradisional di Masa Pandemi" secara daring dan luring, pada Selasa, 6 April 2021, dibuka oleh Kepala Badan POM RI., Penny K. Lukito.

Hadir secara langsung Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan POM, Reri Indriani, para narasumber, Profesor, dan para ahli yang terkait dengan produk dan pengobatan herbal.

Badan POM mengingatkan masyarakat untuk memilih produk obat tradisional yang sudah memiliki izin edar dari Badan POM, memperhatikan informasi pada kemasan, antara lain: aturan pakai, tanggal kedaluwarsa, peringatan/kontraindikasi dan khasiat.

Masyarakat juga perlu memeriksa kondisi kemasan dan bentuk fisik produk dalam keadaan baik, serta berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar penggunaannya aman dan tepat. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa obat tradisional selalu aman dan bermanfaat belum tentu benar.

Obat tradisional juga berpotensi untuk menyebabkan efek samping. "Pengawasan terhadap aspek keamanan obat tradisional dilakukan melalui aktivitas farmakovigilans untuk mendeteksi, menilai, memahami, dan mencegah efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat tradisional setelah dikonsumsi," ujar Penny K. Lukito.

Kepala Badan POM menjelaskan bahwa Badan POM terus mendorong percepatan hilirisasi penelitian obat tradisional untuk menjadi produk komersial melalui keterlibatan di Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka.

Langkah yang dilakukan, antara lain melalui asistensi regulatori, bimbingan teknis, coaching clinic, pendampingan penyusunan protokol uji pra-klinik dan uji klinik, serta pendampingan selama uji klinik. Tujuan dari komersialisasi ini adalah agar produk obat tradisional produksi dalam negeri dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan nasional.

 "Badan POM terus melakukan post-market surveillance melalui pengawasan terhadap promosi dan informasi, monitoring efek samping, pengujian laboratorium untuk produk, penegakan hukum, serta mengedukasi masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas. Peningkatan pemanfaatan pelayanan pengobatan tradisional pemerintah juga terus didorong untuk menggunakan obat dan pengobatan tradisional, antara lain dengan telah diterbitkannya Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia (FROTI)," lanjut Kepala Badan POM.

Saat ini, terjadi peningkatan demand dalam penggunaan obat tradisional. Tidak hanya obat tradisional asli Indonesia, namun juga obat tradisional Tiongkok atau yang dikenal dengan Traditional Chinese Medicine (TCM) yang penggunaannya telah mengglobal.

Selama masa pandemi, terdapat TCM yang diimpor sebagai donasi dengan tidak memiliki izin edar dan bahkan ada yang masuk dalam negative list di Indonesia, seperti Ephedra dan Phellodendron. Penggunaannya perlu menjadi perhatian tenaga kesehatan dan untuk itu, Badan POM telah berkoodinasi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan pengawasan lebih intensif.

Masyarakat untuk lebih cermat terhadap promosi produk obat tradisional, termasuk TCM, yang berlebihan. Badan POM belum pernah mengeluarkan persetujuan untuk obat herbal dengan indikasi mengobati COVID-19, termasuk TCM.

Obat Tradisional termasuk Traditional Chinese Medicine (TCM) banyak digunakan, terutama pada masa pandemi COVID-19. Beredar promosi dan pemberitaan online dan media social bahwa terdapat TCM yang diklaim dapat menyembuhkan gejala dan mengobati COVID-19.

Badan POM belum pernah mengeluarkan persetujuan untuk obat herbal dengan indikasi mengobati Covid-19, termasuk untuk TCM. Jumlah produk OT terdaftar di Badan POM dari Negara China dari tahun 2016-2021, sebanyak 363 produk.

Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, M.Si., Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Apoteker Indonesia, Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik UNPAD, pada webinar ini- antara lain menjelaskan tentang penggunaan OMAI-Obat Modern Asli Indonesia di masa pandemi COVID-19.

Yaitu: Obat Herbal Terstandar: 1. Memelihara Daya Tahan Tubuh: Stimuno, Niran, Sehat segar. 2. Meredakan gejala masuk angin: Tolak angin, Antangin JRG + Madu 3. Meredakan batuk:  OB Herbal. 4. Meringankan gejala pilek, sakit tenggorokan: HerbaCold. FITOFARMAKA: 1. Memelihara/memperbaiki sistem imun:  New Divens, New Divens rasa jeruk beri, Stimuno forte, Stimuno rasa anggur, Stimuno rasa jeruk beri, Stimuno syrup.

Dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D, Pengurus Pusat PDHMI presentasinya berjudul "Cara Penggunaan Tcm Yang Tepat di Masa Pandemi", membahas penyebab penyakit secara TCM dan strategi terapi secara TCM. Juga dijelaskan tumbuhan yang sering digunakan untuk pencegahan pada infeksi COVID-19.

Herbal TCM

Prof. Dr. dr. Purwantyastuti, MSc. SpFK, Fakultas Kedokteran UI membawakan makalah "Kebutuhan akan Obat Tradisional Indonesia dimasa Pandemi".  Penuhi kebutuhan OT dimasa pandemi dengan cepat,  berlomba dengan produk herbal, saran Prof. Purwantyastuti. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: