Badan POM Dukung Riset Obat Bahan Alam
Tanggal Posting : Jumat, 20 November 2020 | 13:33
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 136 Kali
Badan POM Dukung Riset Obat Bahan Alam
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito saat membuka acara Focus Group Discussion (FGD) secara virtual bertema Pemanfaatan Tanaman Sebagai Bahan Baku Obat Tradisional, Kamis, 19 November 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Badan POM menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara virtual bertema Pemanfaatan Tanaman Artemisia Spp., Ephedra Spp., dan Mitragyna Speciosa/Kratom Sebagai Bahan Baku Obat Tradisional, Kamis, 19 November 2020.

Acara dihadiri oleh perwakilan dari beberapa kementerian dan lembaga, para akademisi, dan organisasi kefarmasian.Obat tradisional kini makin diminati untuk diproduksi.

"Menurut estimasi WHO, pengguna herbal di dunia mencapai 4 miliar orang, Pertumbuhan industri jamu dan obat tradisional di Indonesia juga meningkat yang menembus 6% pada tahun 2019, di atas pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito saat membuka acara.

Kepala Badan POM lebih lanjut menyampaikan bahwa pemanfaatan potensi ini perlu dikawal sejak dikembangkan pada skala penelitian hingga dihilirisasi menjadi produk komersil oleh industri agar dapat memenuhi kebutuhan obat bahan alam yang semakin meningkat. Badan POM telah melakukan berbagai langkah untuk mendukung obat berbahan baku alam tersebut.

"Badan POM melakukan pendekatan pendampingan regulatori bagi para peneliti dan pelaku usaha sejak penyusunan protokol uji hingga pelaksanaan uji klinik sesuai Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB)," ungkap Kepala Badan POM. Lebih lanjut disampaikan bahwa Badan POM memberikan pendampingan, coaching clinic/workshop, pelatihan CUKB dan fleksibilitas baik dalam uji praklinik maupun uji klinik.

Berita Terkait: Badan POM Kawal Terus Vaksin COVID-19

Berita Terkait: OMAI HerbaCOLD Mengandung Zat Aktif Silfamin Redakan Flu


Selain pendampingan, berbagai produk regulasi telah dibuat Badan POM sebagai respon makin mengglobalnya penggunaan obat tradisional. Beberapa negara di ASEAN telah membuat regulasi mengenai pelarangan Artemisia spp., Ephedra spp., dan Mitragyna speciosa/Kratom.

Beberapa negara memiliki aturan beragam dalam melakukan pembatasan atas 3 tanaman obat tersebut seperti membatasi baik dari aspek tumbuhannya, pembatasan penggunaan untuk pasien, atau perlunya evaluasi dari otoritas kefarmasian di negara masing-masing.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antar negara ASEAN, Badan POM membuat Peraturan Kepala BPOM No. 1384 tahun 2005, Nomor HK.00.05.41.2803 Tahun 2005, dan Peraturan BPOM Nomor 11 tahun 2020. 3 regulasi ini untuk mengatur mana tanaman obat yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk obat tradisional seperti Artemisia spp., Ephedra spp., dan Mitragyna speciosa/Kratom.

Namun, kajian lebih lanjut masih harus dilakukan pada 3 tanaman obat tersebut. Dalam penjelasan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Badan POM, Artemisia spp, Ephedra spp dan Mitragyna speciosa/Kratom memiliki manfaat lain seperti potensi aktivitas farmakologi sebagai antimalaria, imunomodulator, antiinflamasi, antikanker, antivirus dan sebagai antioksidan untuk Artemisia spp.

Sedangkan Mitragyna speciosa/Kratom dapat digunakan sebagai subtitusi pengobatan untuk mengatasi ketergantungan terhadap morfin. (Sumber: https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/20341/Dukung-Riset-Obat-Berbahan-Dasar-Alam.html). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: