Wawancara Khusus Pendiri PDHMI Manfaatkan DAK dan APBD untuk Fitofarmaka
Tanggal Posting : Rabu, 22 Juni 2022 | 09:08
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 33 Kali
Wawancara Khusus Pendiri PDHMI Manfaatkan DAK dan APBD untuk Fitofarmaka
Pendiri dan Penasehat PDHMI, dr. Hardhi Pranata, Sp.S., MARS.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sosialisasikan kepada para profesional khususnya dokter, apoteker, Fasyankes, Dinas Kesehatan, agar dapat memanfaatkan dan mencairkan Dana Alokasi Khusus, APBD untuk penggunaan Fitofarmaka, sebagaimana yang terdapat pada Formularium Fitofarmaka.

Fitofarmaka yang sudah lulus diseleksi oleh KomNas Formularium Fitofarmaka, dapat dikategorikan sebagai obat yang sejajar dengan obat berbahan kimia, dan saya setuju dengan penggunaan istilah OMAI (Obat Modern Asli Indonesia), agar dapat masuk Formularium Nasional (ForNas) yang menjadi acuan oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Demikian antara lain, kutipan wawancara khusus Pendiri dan Penasehat Perkumpulan Disiplin Herbal Medik Indonesia (PDHMI), dr. Hardhi Pranata, Sp.S., MARS, dengan Redaksi ObatNews pada Rabu, 22 Juni 2022.

1.Kemenkes Launching Formularium Fitofarmaka

Sejarah baru bagi Obat Herbal Indonesia dengan ditetapkannya Formularium Fitofarmaka oleh Kementerian Kesehatan, sebagai acuan perencanaan dan pengadaan Fitofarmaka, agar tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.

Adalah Wakil Menteri Kesehatan RI., dr. Dante Saksono Harbuwono, SpPD-KEMD, PhD. yang meluncurkan Formulairum Fifofarmaka, di Jakarta, pada Selasa, 31 Mei 2022.

Hal diatas berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor HK.01.07/MENKES/1163/2022 Tentang Formularium Fitofarmaka, yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2022, oleh Menteri Kesehatan, Budi G. Sadikin.

Dr. Dante Saksono dalam sambutan sebelum peluncuran menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi sistem kesehatan dalam rangka resiliensi sektor kefarmasian. Fitofarmaka merupakan produk natural yang didorong untuk dikembangkan.

Kementerian Kesehatan dan stakeholders terkait sudah menyusun Formularium Fitofarmaka yang merupakan acuan bagi sarana pelayanan kesehatan dalam pemilihan, pengadaan dan penggunaan Fitofarmaka.

"Formularium Fitofarmaka diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan Fitofarmaka yang pada akhirnya akan meningkatkan kegiatan riset dan produksi di Indonesia," jelas dr. Dante Saksono.

Kementerian Kesehatan mentargetkan 50% bahan baku obat dapat diproduksi di Dalam Negeri, sebagai upaya mewujudkan resiliensi bidang kefarmasian (Kemandirian Obat Nasional).

"Itu yang membuat Kemenkes mau, at least 50 persen obat-obatan kita dari hulur ke hilir di produksi di dalam negeri," ungkap Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, ketika memberikan sambutan pada Kick Off Change Source Penggunaan Bahan Baku Obat Dalam Negeri, yang dilaksanakan di PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Cikarang, Bekasi, Kamis, 2 Juni 2022.

2.Wawancara Khusus Pendiri PDHMI

Berikut ini wawancara khusus Pendiri dan Penasehat (PDHMI) dr. Hardhi Pranata, Sp.S., MARS, dengan Redaksi ObatNews pada Rabu, 22 Juni 2022:

1.Penerbitan Formularium Fitofarmaka oleh KeMenKes merupakan daftar fitofarmaka yang terseleksi, agar dapat tersedia di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

2.Manfaat Formularium Fitofarmaka bagi para Dokter,menjadi acuan dalam peresepan obat kepada pasien yang aman, bermutu, berkhasiat sesuai Evidence Based Medicine(EBM).

3.Manfaat Formularium Fitofarmaka bagi pengembangan herbal untuk memperluas penggunaannya sebagai obat berbasis bahan alam yang melimpah di Indonesia, dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, pelaku usaha,Tenaga Kesehatan dan yang lainnya.

4.Formularium Fitofarmaka akan mendorong kemandirian obat nasional berbahan baku alam, karena Pandemi COVID-19 memberi pelajaran kepada kita, bahwa masing-masing negara harus memikirkan rakyatnya sendiri pada saat krisis obat, karena saat ini Indonesia masih mengimpor obat bahan kimia sekitar 90%.

5.Langkah strategis setelah terbitnya Formularium Fitofarmaka:

a.Sosialisasi kepada para profesional khususnya dokter, apoteker, Fasyankes, Dinas Kesehatan agar dapat memanfaatkan Dana Alokasi Khusus, APBD mencairkan untuk penggunaan Fitofarmaka dan Obat Herbal Terstandart (OHT).

b.Fitofarmaka yang sudah lulus diseleksi oleh KomNas Formularium Fitofarmaka, dapat dikategorikan sebagai obat yang sejajar dengan obat berbahan kimia, dan saya setuju dengan penggunaan istilah OMAI (Obat Modern Asli Indonesia), agar bisa masuk Formularium Nasional (ForNas) yang menjadi acuan oleh Jaminan Kesehatan Nasional. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/omai/pr-4463718198/wawancara-khusus-pendiri-pdhmi-manfaatkan-dak-dan-apbd-untuk-fitofarmaka-sehingga-memacu-kemandirian-obat?page=3 ). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: