Badan POM Apresiasi Riset Pengurus PDHMI
Tanggal Posting : Kamis, 20 Februari 2020 | 04:31
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 531 Kali
Badan POM Apresiasi Riset Pengurus PDHMI
Kepala Badan POM, Penny K. Lukito saat berkunjung di booth PDHMI pada Bursa Hilirisasi Herbal Indonesia 2020.

JamuDigital.com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Kepala Badan POM, Penny K. Lukito usai membuka "Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia 2020" pada 19  Februari 2020, di Balai Kartini Jakarta berkeliling disejumlah stand peserta pameran. Saat mengunjungi booth PDHMI, Penny K. Lukito yang didampingi oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Mayagustina Andarini sempat berdialog dengan Ketua Umum PDHMI (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia), dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MARS.

Dr. Hardhi Pranata menyebutkan bahwa Kepala Badan POM ikut bangga denga prestasi DR. Dr. Reza Yuridian Purwoko, SpKKRSA- Pengurus PDHMI,  yang meneliti khasiat Kedelai Indonesia sebagai anti aging, dan akan membantu dalam proses perijinan dan patennya.

Berita Terkait: Kiprah Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia

Reza Yuridian Purwoko saat dihubungi Redaksi JamuDigital.Com secara terpisah menjelaskan tentang hasil disertasinya di Universitas Indonesia pada 2016 berjudul: "Pengembangan Sediaan Liposom Ekstrak Terpurifikasi Kedelai Indonesia Varietas Argomulyo dan Uji Aktivitas Apoptosis Pada Sel Punca Asal Jaringan Lemak Bawah Kulit Manusia".

Berikut ini, sekilas riset DR. Dr. Reza Yuridian Purwoko, SpKKRSA- yang juga sebagai Ketua lkatan Lulusan Alumni Program Doktoral Ilmu Biomedik FKUI:

dr. Reza

Keterangan Foto: DR. Dr. Reza Yuridian Purwoko, SpKKRSA (paling kiri) bersama Ketua Umum PDHMI (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia), dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MARS. (baju hitam) di depan booth PDHMI pada Bursa Hilirisasi Herbal Indonesia 2020.

Terapi berbasis sel punca telah banyak digunakan mengingat kemampuannya untuk memperbaiki dan meregenerasi berbagai jenis jaringan dan organ. Hal ini melibatkan penerapan berbagai jenis sel punca. Sel punca mesenkim asal dari jaringan adiposa subkutan menunjukkan plastisitas pengembangan multi garis keturunan dan sekresi faktor pertumbuhan yang mengontrol dan mengelola sel tetangga yang rusak (Kim et al., 2009).

Pemilihan penggunaan secara luas sel punca mesenkim asal jaringan lemak dengan mempertimbangkan kemudahan dalam mendapatkannya, jumlahnya yang melimpah dan kemampuannya untuk berdiferensiasi menjadi mesenkim, endodermal (Zarei and Abbaszadeh, 2018). Dalam dermatologi, telah diteliti tentang sel punca asal jaringan lemak sebagai antioksidan dan efek pemutihan (Kim et al., 2008; Chang et al., 2014).

Untuk aplikasi medis, liposom umumnya digunakan sebagai pembawa obat sehingga dapat pula digunakan sebagai media penghantar pada sel punca.Komponen ssutama penyusun liposom adalah fosfolipid (Martins S dkk, 2007). Fosfolipid yang paling sering dijumpai adalah fosfatidilkolin (phosphatidyl choline/PC).

Fosfatidilkolin yang paling sering digunakan adalah fosfatidilkolin dari ekstrak biji kedelai karena dianggap paling baik kandungan kimianya. Ekstrak kedelai sendiri memiliki kandungan fosfolipid sebanyak 65-75% (Purwoko dkk, 2016). Sehingga memungkinkan sebagai bahan dasar pembuatan liposom.

Selama 15 tahun terakhir telah diluncurkan 37 varietas kedelai unggulan oleh Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Departemen Pertanian Republik Indonesia, yang pada penelitian ini dipilih kedelai unggul varietas Argomulyo dengan kadar lipid tertinggi yaitu dapat mencapai 20,8% berat kering dengan bobot 100 biji terbesar yaitu 18,0-19,0 gram (Purwoko dkk, 2016).

Pengembangan sediaan Liposom ekstrak terpurifikasi kedelai Indonesia varietas Argomulyo bisa dijadikan sebagai bahan nutrisi atau apoptosis sel punca asal jaringan lemak bawah kulit dan conditioned mediumnya sebagai bahan penghambat melanin kulit.

Method: Liposom terbuat dari ekstrak terpurifikasi kedelai Indonesia varietas Argomulyo di preparasi menggunakan metode hidrasi lapis tipis.

Kesimpulan: Telah dilakukan Tiga Penelitian, sebagai berikut:

1. Novia Aditia Sapitri (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta): "Liposom dari Ekstrak Kedelai (Glycine Max (L.) Merill) Varietas Argomulyo untuk Bahan Nutrisi Sel Punca Jaringan Lemak Bawah Kulit Manusia’’ dapat disimpulkan bahwa: liposom ekstrak kedelai dapat meningkatkan pertumbuhan sel paling tinggi pada konsentrasi 10μg/mL dan viabilitasnya paling tinggi pada konsentrasi 20μg/mL.

2. Lydia Dewi Kemala Lay (Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar, 2015): "Pemberian Injeksi Subkutan Ekstrak Kedelai dalam Bentuk Liposom Mengurangi Timbunan Lemak Setempat Tikus Putih (Rattus norvegicus)" dapat disimpulkan bahwa: Pemberian injeksi subkutan ekstrak kedelai dalam bentuk liposom dapat mengurangi timbunan lemak setempat pada tikus putih jantan yang obesitas sebesar 47,98%.

3.Disertasi dr. Reza Yuridian Purwoko, Sp.KK (Universitas Indonesia, 2016:: "Pengembangan Sediaan Liposom Ekstrak Terpurifikasi Kedelai Indonesia Varietas Argomulyo dan Uji Aktivitas Apoptosis Pada Sel Punca Asal Jaringan Lemak Bawah Kulit Manusia" dapat disimpulkan bahwa: Ekstrak terpurifikasi kedelai varietas Argomulyo dapat menginduksi apoptosis sebagai bahan pengurang pemupukan lemak subkutan yang lebihi aman dibandingkan produk-produk impor yang beredar dipasaran yang dapat menimbulkan efek samping berupa nekrosis sel punca asal jaringan lemak bawah kulit manusia. Penelitian ini telah dipublikasian dan didaftarkan paten. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: