Strategi Meningkatkan Bahan Alam Indonesia Menjadi Bahan Baku Obat
Tanggal Posting : Minggu, 15 Agustus 2021 | 10:02
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 278 Kali
Strategi Meningkatkan Bahan Alam Indonesia Menjadi Bahan Baku Obat
Strategi meningkatkan bahan komoditas Indonesia sebagai bahan baku obat telah disusun secara lintas kementerian di level nasional.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sebagai negara mega biodiversitas yang sangat kaya bahan alam, Indonesia semestinya menjadikan potensi ini sebagai sumber bahan baku obat dalam rangka kemandirian obat nasional.

Bagaimana strategi yang jitu, agar potensi ini dapat dioptimalkan menjadi keunggulan daya saing bangsa?

Akhmad Saikhu, M.Sc.PH., Kepala Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Obat Dan Obat Tradisonal, Kementerian Kesehatan mengupasnya pada Webinar Kefarmasian Himfarnas - STIKES Nasional- Surakarta, pada 14 Agustus 2021, berjudul "Strategi Meningkatkan Bahan Alam Komoditas Indonesia Sebagai Bahan Baku Obat."

Sebagai moderator adalah apt. Diah Pratimasari, M.Sc., Dosen S-1 STIKES Nasional Surakarta, webinar ini juga menampilkan narasumber Karyanto, Sarjana Farmasi, MM, Founder JamuDigital yang mengupas "Optimalisasi Bahan Alam untuk Obat Era 4.0"

Disebutkan oleh Akhmad Saikhu bahwa ada 5 Pilar Pengembangan Tumbuhan Obat: 1. Pemeliharaan mutu, keamanan dan kebenaran khasiat, 2. Keseimbangan antara suplai dan permintaan (demand), 3. Pengembangan dan kesinambungan antara industri hulu, industri antara, dan industri hilir, 4. Pengembangan dan penataan pasar, termasuk penggunaan pada pelayanan Kesehatan, 5. Litbang dan pendidikan.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 381/2007 Tentang Kebijakan Obat Tradisional Nasional, disebutkan perlunya untuk: 1. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. 2. Menjamin obat tradisional yang aman, bermutu dan bermanfaat serta melindungi masyarakat dari penggunaan obat tradisional yang tidak tepat.

3. Tersedianya obat tradisional yang memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam pelayanan kesehatan formal. 4. Mendorong perkembangan dunia usaha di bidang obat tradisional yang bertanggung jawab agar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan diterima di negara lain.

OMAI Mendunia

Strategi Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional (KEMENKES):

  • Ketersediaan BBOT yang terstandar dan bermutu, dengan strategi
  • Mendorong pelaksanaan transformasi industri farmasi dari industri farmasi formulasi menjadi industri famasi berbasis riset.
  • Menigkatkan priroritas penggunaan bahan baku obat produksi dalam negeriMelakukan koordinasi sinergisme ABGCI
  • MemfasilitasiHealth Business ForumdanBusiness matchinguntuk mendorong hilirisasi produk bahan obat.
  • Mengawal progres pengembangan bahan baku obat dan pendampingan produk sesuaiEmpat Pilar, yaitu:Bioteknologi, Vaksin, BBO Natural dan Bahan Baku Obat Kimia. Antara lain melalui Litbang TOOT (RISTOJA, BUDIDAYA TO,SAINTFIKASI JAMU, FITOFARMAKA dan lain-lain).

Ketersediaan BBOT yang terstandar dan bermutu untuk memenuhi:

  • Ketersediaan Obat Tradisional (Jamu, OHT, Fitofarmaka)
  • Pengobatan Tradisional yang berkkelanjutan, bermanfaat dan bermutu
  • Ketahanan Kesehatan bidang farmasi dan alat Kesehatan
  • Kemandirian bangsa dalam mewujudkan masyarakat hidup sehat

Program Pengembangan Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional:

  • RISTOJA
  • Penyediaan Bahan Baku Jamu yang berkualitas.
  • Saintifikasi Jamu
  • Percepatan Fitofarmaka
  • INTEGRASI OBAT TRADISIONAL DALAM PELAYANAN KESEHATAN

RISTOJA. Kekayaan keanekaragaman  tumbuhan obat berpotensi sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku obat dan bahan baku obat tradisional. Upaya eksplorasi dan inventarisasi kekayaan sumber daya genetik tumbuhan obat berskala Nasional. Eksplorasi dan inventarisasi pengetahuan tradisional tentang pengobatan yang berbasis tanaman berskala Nasional. Perlindungan Kekayaan Tumbuhan Obat dan Kearifan Pengobatan  dari Pengakuan Negara Lain. Hal ini dalam rangka Pembangunan Database Nasional

Manfaat RISTOJA:

  • Didapatkan database tentang pengetahuan lokal etnomedisin, ramuan OT, dan keragaman TO
  • Diperoleh pengetahuan kearifan lokal tiap etnik dalam menjaga kelestarian dan memanfaatkan tumbuhan obat
  • Diperoleh ramuan potensial untuk pengembangan/ penemuan obat baru.
  • Data dasar penelitian lebih lanjut
  • Masukan untuk membuat kebijakan dalam perlindungan kekayaan TO dan etnomedisin Indonesia

Saintifikasi Jamu:

  • Pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan
  • Permenkes No. 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu
  • Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu
  • Mendorong jejaring peneliti dan pelayanan jamu (dual system)
  • Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, bermutu dan berkhasiat

Dukungan Kemenkes dalam Pengembangan dan Hilirisasi Produk

Saintifikasi Jamu: Ramuan Jamu Saintifik yang telah teruji klinik secara RCT Hilirisasi hasil penelitian. Pengembangan Nilai Tambah Pemanfaatn Tanaman Obat; Pengembangan pemanfaatan tanaman obat berupa makanan sehat, functional food.

Riset Pengembangan Produk: Fasilitasi penelitian dan pengembangan herbal Hilirisasi hasil litbang. BIMTEK: Perberdayaan masyarakat agar mandiri dalam memanfaatkan tanaman  obat dan jamu (swa medikasi, income generate).

Pemanfaatan OHT dan Fitofarmaka di Pelayanan Kesehatan dan Dana Kapitasi JKN

Permenkes Nomor 54  Tahun 2018, Tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, Tidak Memasukkan OHT dan FF.

Permenkes Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Penggunaan Dana Kapitasi JKN untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada FKTP milik Pemda, Pasal 5 ayat (6): Dalam hal obat dan bahan medis habis pakai yang dibutuhkan tidak tercantum dalam formularium nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (5), dapat menggunakan obat lain termasuk obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka secara terbatas, dengan persetujuan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Pada kesempatan ini, Akhmad Saikhu mengemukakan take home message, yaitu:

  • Strategi meningkatkan bahan komoditas Indonesia sebagai bahan baku obat telah disusun secara lintas kementerian di level nasional.
  • Strategi pengembangan Bahan Baku Obat Lokal Indonesia merupakan bagian dari ketahanan bangsa dalam kemandirian di bidang Kesehatan dan Pertanian.
  • Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dalam standarisasi proses penyediaan bahan baku, peningkatan kapasitas SDM dan pemberdayaan petani
  • Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat perlu ditingkatkan sesuai dengan perkembangan teknologi dan tantangan perubahan zaman. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: