Direktur Yankestrad Kemkes: Peningkatan Pemanfaatan OMAI di Masyarakat
Tanggal Posting : Jumat, 9 Juli 2021 | 07:44
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 179 Kali
Direktur Yankestrad Kemkes: Peningkatan Pemanfaatan OMAI di Masyarakat
Pengembangan Iptek dalam produk obat tradisional dan obat herbal mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

JamuDigital.Com- Media Jamu, Nomor Satu. Dr. I Gede Made Wirabrata S.Si., Apt., M.Kes., M.H, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan RI. menegaskan perlunya kolaborasi antara peneliti dan Industri dalam pengembangan Obat Tradisional dan ketersediaan data kebutuhan obat tradisional di Fasyankes.

Juga mewujudkan koordinasi yang harmonis antar instansi dalam kerangka sinergisme ABG terkait pengembangan dan pemanfaatan OMAI (Obat Modern Asli Indonesia). Perlunya peningkatan kompetensi dokter dalam pemanfaatan OMAI, agar OMAI meningkat pemanfaatannya di masyarakat.  

Demikian antara lain dikemukakan saat menjadi pembicara utama International Seminar Traditional Herbal Medicine (ISTHM). Indonesian Medicinal Plants. "Future Research and Technology on Herbal Medicine Application for Diabetes and Other Degenerative Disorder". Dilaksanakan pada 8-9 Juli 2021.

Berikut ini paparan lengkap Dr. I Gede Made Wirabrata S.Si., Apt., M.Kes., M.H:

Pembangunan nasional dan pembangunan kesehatan nasional ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2020 yang dinyatakan sebagai salah satu kebijakan dan strategi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) menuju cakupan kesehatan semesta.

Terutama penguatan pelayanan kesehatan dasar, dengan mendorong peningatan upaya promotif- preventif. Mendukung inovasi dan peran teknologi. Kalau kita lihat di slide- peningkatan kesehatan ibu, anak, KB, kesehatan reproduksi. Percepatan perbaikan gizi masyarakat. Peningkatan pengendalian penyakit. Pembudayaan Germas, penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan.

Ini menjadi satu kesatuan pelayanan health delivery dengan penguatan preventif dan promotif. Tentunya penguatan dengan sistem kesatuan. Dan ini sangat dibutuhkan pada saat pandemic seperti ini, agar masing-masing sistem menjadi satu kesatuan nasional.

Permasalahan kesehatan saat ini, memang kalau ini prespektif saja, jadi dari beberapa peneliti bahwa 70% yang merasa sehat. Kemudian 30% yang merasa sakit. Dari 30% tadi akan berusaha untuk mencari pelayanan kesehatan kuratif sebesar 52%.

Untuk masuk ke Puskesmas lini pertama dari pelayanan JKN. Dari sini termasuk yang tadi masuk ke rumah sakit yang telah mendapatkan informasi bahwa ini harus dirujuk untuk mendapatkan pelayanan rujukan.

Sedangkan 48% itu mengobati sendiri (self care). Ini sebenarnya targetnya. Di kesehatan tradisional ini menjadi target. Kalau dilihat dari 70% merasa sehat, ini kembali ke paradigma sehat tadi. Ini kan ada Griya Sehat. Suatu lembaga yang berdiri sendiri di luar rumah sakit yang menyelenggarakan kesehatan tradisional.

Kesehatan tradisional yang sebenarnya inilah yang turun-temurun yang saya kira menjadi satu kebanggaan kita melanjutkan apa yang sudah ada sejak dulu kala untuk dapat ditingkatkan dalam rangka menyehatkan masyarakat.

Tentunya usaha ini terkait usaha promotif preventif dan pemulihan pasca pengobatan. Kalau dilihat dari riset kesehatan dasar 2013 dan riset kesehatan dasar 2018, ada peningkatan prosentase masyarakat menggunakan pelayanan kesehatan tradisional.

Karena sudah 44,30% masyarakat menggunakan Yankestrad. Berarti proporsi pemanfaatan upaya kesehatan meningkat dengan total survei sebesar ini. Kalau dilihat jenis tenaga kesehatan kita yang nakes tradisional dan Hattra ini pasti terbatas memang jumlahnya.

Kampus-kampus yang memiliki fakultas kesehatan tradisional juga terbatas. Kedepan ini adalah peluang, bagaimana nanti kampus-kampus akan melahirkan tenaga kesehatan baru. Kami juga di Kementerian Kesehatan sedang mengupayakan jabatan fungsional untuk tenaga kesehatan tradisional.

Nanti akan muncul kelompok atau jenis tenaga kesehatan baru yaitu tenaga kesehatan tradisional. Ini memang diharapkan kalau dapat hadir, tentunya dapat membantu kesehatan nasional secara utuh dan menyeluruh.

Yang melatar-belakangi pemanfaatan kesehatan tradisional. Indonesia kaya akan bahan baku. Jelas banyak sekali, kalau cerita menanam apaun di Indonesia itu hidup. Nah ini menarik permintaan kebutuhan akan obat tradisional terus meningkat dimasa pandemi COVID-19.

OMAI Mendunia

Pemanfaatan OMAI di Pelayanan Kesehatan

Selanjutnya adalah pengembangan Iptek dalam produk obat tradisional mendorong pertumbuhan ekonomi dan produk industri OT. Selanjutnya nanti yang penting tahun depan adalah Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) dimana yang mempunyai khasiat yang hampir sama dengan obat kimia sintesis.

Riset tanaman obat dan Jamu saya kira RISTOJA dari tahun ketahun temuan-temuannya dapat dimanfaatkan. Tentunya spesies tanaman obat banyak di laut dan di darat. Jumlah populasi peluang BPJS ini meningat drastis. Bahwa pelayanan kesehatan tradisional itu Jamu akan berperan sekali nantinya untuk membantu kesehatan dari sisi promotif preventif.

Bahkan pasca pelayanan kuratif, pada saat pengembalian pemulihan kesehatan pasien. Kalau dilihat dari sistem WHO Traditional Medicine Strategy 2014-2023, untuk product, practice dan practitioner. Di Jamu itu sudah ada 11.000 produk. OHT ada 75 produk. Fitofarmaka ada 26 produk. Ini sangat membanggakan hasil dari para peneliti.

Untuk kedepannya tambahkan lagi temuan-temuan itu. Selanjutnya kami akan mencoba apakah Fitofarmaka yang telah melakukan uji klinis tadi dapat masuk ke pelayanan JKN nantinya. Sekarang sudah masuk beberapa, nanti dapat dikembangkan lagi.

Ini menjadikan satu peluang besar. Jangan sampai memisahkan antara konvensional medicine dengan traditional medicine. Tapi bagaimana ini dapat saling mengisi. Dapat menjadi saling menggantikan atau sebagainya.

Tentunya untuk para pakar yang hadir di sini sepakat bahwa ini adalah asli Indonesia. Yang patut kita kembangkan. Selanjutnya saya ingin menyampaikan bagaimana peluang ke depan bahwa OMAI dapat menggantikan kekosongan obat kimia.

Misalnya pelayanan tradisional terapi adjuvant terhadap kanker, ini bagus untuk meningkatkan quality of life. Melengkapi pengobatan konvesional sebagai pendamping contoh: misalnya obat anti diabetes atau lupus.

Pemanfaatan obat tradisional sejak zaman dahulu merupakan tradisi budaya masyarakat Indonesia sebagai salah satu kearifan loka (local wisdom). Ini nanti akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kita sebagai pemerhati kesehatan disini tentunya berharap hasil dari budidaya di daerah masing-masing dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Kalau kita lihat regulasi, regulasi sudah banyak. Ini penting seperti Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 tahun 2016 tentang Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah.

Di dalam situ dana tersebut dapat digunakan untuk membeli obat walaupun obat tradisional. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka terbatas dengan persetujuan kepala dinas. Artinya diregulasi sudah ada. Di Permenkes Nomor 85 tahun 2019 tentang Petunjuk Operasional Penggunaan Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2020.

Pemanafaatan obat tradisional- Jamu teregister. Sehingga dokter nanti dapat melihat. Untuk pelayanan herbal medik ada dokter, dokter gigi dan dokter spesialis dengan pendidikan pengobatan herbal dasar yang mempunyai sertifikasi kompetensi herbal.

Dokter yang melakukan pelayanan medik herbal diharapkan menerapkan kode etik profesi yang tidak bertentangan dengan kode etik kedokteran Indonesia. Sehingga didalam pelaksaaan di fasyankes nanti ada obat jadi, ada yang meracik sendiri.

Sehingga dokter pelaksana pelayanan perlu didampingi asisten apoteker. Sebagai farmasis yang membantu peran penyediaan sediaan obatnya. Ini diatur di dalam Permenkes 3 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu, sebagai bentuk penelitian berbasis pelayanan.

OMAI ada Griya Sehat, ada di rumah sakit dan Puskesmas. Kami mencoba menjelaskan secara terpisah bagaimana Griya Sehat itu dapat berdiri sendiri. Ada tenaga kesehatan disana, dan juga ada nakestrad tradisional juga disana. Ada standarnya disana. Kemudian melakukan peresepan disana ada yaitu OMAI.

Sedangkan di Fasyankes atau puskesmas ada dokter disana. Ada dokter DPJP-nya disana. Jadi perlu peningkatan kompetensi dokter dalam pemanfaatan OMAI. Jadi peresepannya OMAI. Tujuannya agar dapat ditingkatkan pemanfaatan OMAI di masyarakat.

Prinsip pemanfaatan obat tradisional: Mengacu kepada kepentingan terbaik pasien. Pimpinan Fasyankes berwenang menetapkan jenis OT yang digunakan. Diutamakan sebagai promotif dan preventif. Harus aman berkhasiat dan bermutu.

Menggunakan OT yang teregistrasi oleh BPOM. OT yang bersumber dari hewan memiliki sertifikat halal. Tidak dalam bentuk simplisia, kecuali dalam rangka penelitian berbasis pelayanan. Tidak boleh digunakan dalam keadaan kegawatdarutan dan keadaan yang potensial memberikan bahaya jiwa.

Permenkes No. 71 Tahun 2015 tentang Penanggulangan PTM yaitu: Promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan khusus dan penanganan kasus. Semua diperlukan multisektor dalam kolaborasi. Dan untuk strategi intervensi PTM dibagi menjadi: populasi sehat, populasi berisiko, penyandang PTM dan Penyandang PTM terkontrol.

Prioritas saat ini pemanfaatan OMAI untuk pengendalian hipertensi, diabetes dan penurunan kolesterol. Adapun pemanfaatan TOGA dan Akupresure di populasi untuk memelihara kesehatan/kebugaran, mengatasi gangguan kesehatan ringan, mengurangi faktor resiko, meningkatkan daya tahan tubuh.

Dalam menyiapkan sistem pelayanan Kesehatan, agar OT dapat diterima di Fasyankes: pengembangan dan peningkatan penggunaan OT untuk mendukung industri farmasi menjadi prioritas berbasis riset. Sosialisasi dan advokasi terkait PMK No. 37 Tahun PMK No 37/2017 tentang Yankestard Integrasi.

Revisi KMK No. 121 tentang Penyelenggaraan Obat Herbal di Faksaynkes, agar pemanfaatan OMAI dapat diimplementasikan. Membuat seminar bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), industri farmasi dan perguruan tinggi terkait Pengembangan dan Pemanfaatan OT dan OMAI.

Kolaborasi antara peneliti dan Industri dalam melakukan OT dan ketersediaan data kebutuhan obat tradisional di Fasyankes. Mewujudkan suatu koordinasi yang harmonis antar instansi dalam kerangka sinergisme ABG terkait pengembangan dan pemanfaatan OMAI. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: