Potensi Immunomodulator Tanaman Obat Indonesia Saat COVID-19
Tanggal Posting : Sabtu, 31 Juli 2021 | 10:57
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 293 Kali
Potensi Immunomodulator Tanaman Obat Indonesia Saat COVID-19
dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D. menilai potensi herbal Indonesia sebagai immunomodulator sangat besar, tepat dikembangkan saat pandemi COVID-19.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Di tengah pandemi COVID-19 ini, upaya meningkatkan kekebalan tubuh (imunitas) dari bahan alam Indonesia menjadi bahasan yang menarik. Karena hingga kini, belum ditemukan obat yang spesifik untuk COVID-19. Sejumlah perusahaan juga meluncurkan produk immunomodulotor. Apa dan mengapa immunomodulator jadi penting saat wabah COVID-19 melanda?

Simak yuks, ulasan pakar, dan informasi produk untuk immunomodulator yang dibahas pada Webinar Series PDHMI bekerjasama dengan KABIOGAMA dan PT. Mustika Ratu dengan tema "Peran Gizi dan Herbal untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh dan Awet Muda", yang diadakan pada Jumat, 30 Juli 2021,

Ketua PDHMI, Dr. dr. Slamet Sudi Santoso. Mpd.Ked pada sambutannya menjelaskan perlunya kolaborasi bidang Ilmu Biologi dengan Kedokteran, karena biologi adalah salah satu cabang ilmu dari biomedik terutama di bidang kedokteran dulu waktu saya kuliah masih ada mata kuliah Biologi. Tapi sekarang berubah menjadi menjadi Biomedik.

Kalau dilihat dari kekayaan alam Indonesia, kita memang patut bangga karena 30.000 jenis tanaman yang di Indonesia dan ada sekitar 9.600 tanaman obat. Di Indonesia sudah ada 64 OHT (Obat Herbal Terstandar). Perjalanan OHT memang cukup panjang, dengan uji pracklinik. Kemudian setelah uji klinik akan diakui sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

"PDHMI yang berdiri tahun 2009, adalah suatu komunitas pekumpulan dokter yang memang pemerhati tanaman herbal medik. Dan ada pendidikan sebagai magister herbal medik. Dari sini, kita lalu berkembang, karena aturan Hukum dan HAM kita berubah menjadi perhimpunan disiplin, karena tidak boleh menggunakan kata dokter lagi untuk dapat diakui secara akte notaris," jelasnya.

Sedangkan Ketua KABIOGAMA, Edy Setyabudi, M.Si mengatakan pada masa pandemi ini, kita harus menjaga 3M. Disamping itu, adanya seminar seperti ini, akan sangat bermanfaat pada saat terjadi pandemi COVID-19.

Sebagai pembicara- Dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D. menyajikan makalah berjudul "Peran Gizi & Herbal untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh dan Awet Muda." Mengingat pada musim COVID-19 ini, istilah meningkatkan imunitas tubuh banyak menjadi pembahasan penting. Maka Dr. Fenny Yunita sangat renci menjelaskan tentang sistem imun tubuh.

"Immunomodulator adalah zat alami atau sintetis yang membantu mengatur atau menormalkan sistem kekebalan tubuh. Immunomodulator dibagi menjadi Immunostimulant dan Immunosuppressant," jelas Fenny Yuita yang mengambil Program S3- Ph.D. on Clinical Studies of Integrated Chinese and Western Medicine Hunan University of Chinese Medicine, China.

Adapaun jenis imunostimulan, terdiri dari: Imunostimulan Spesifik memberikan spesifisitas antigenik dalam respon imun: Vaksin, Antigen. Dan Imunostimulan Non-Spesifik merangsang terbentuknya respon imun non-spesifik: Adjuvan, Obat alami.

Imunostimulan biologik: Nukleotida, Kolostrum, GnRH, Hormon Timus, Limfokin, Interferon,  Antibodi monoclonal. Imunostimulan sintetik: Herbal, Vaksin, Imunoterapi spesifik.

Empirical/Experiential Evidence: Temu manga, Temulawak, Kunyit, Meniran, Bawang merah, Bawang putih, Jahe. Scientific Evidence: Temulawak, Jambu biji, Daun kelor, Kulit jeruk, Kunyit, Pegagan, Bawang putih, Kembang lawing, Jahe, Sambiloto, Akar manis, Jambu mete. Clinical evidence: Meniran, Echinacea, Jinten hitam. Bioaktif Antivirus: Curcumin Hesperidin, Kaempferol, Quercetin, Phyllantin, Allicin, Asiaticoside, Rhamnetin, Catechin, Myrcetin.

Klaim obat tradisional pada saat pandemi: Memelihara kesehatan tubuh, dan  meningkatkan daya tahan tubuh. Regulasi di Indonesia belum pernah menyetujui produk herbal maupun suplemen kesehatan dengan klaim mencegah atau mengobati penyakit COVID-19, tanpa adanya uji klinik baik di negara lain maupun Indonesia.

Dr. Feny Yunita mengingatkan agar pada pandemi ini untuk Menghindari dan mengendalikan penyakit komorbid: Diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik, penyakit ginjal, penyakit liver, kanker. Mengenali dan menghindari faktor risiko: kegemukan, aktivitas kurang, merokok, paparan racun/toksin/mikroorganisme.

Menatalaksana sesuai dengan beratnya penyakit: Menjaga pola makan dan kebiasaan, Latihan fisik/olah raga, Menjaga/menurunkan berat badan, Mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter, Rehabilitasi. Menjaga kebugaran dan aktivitas: Olahraga teratur dan terukur minimal 5 hari 30 menit atau 150 menit dalam 1 minggu, Latihan ringan atau sedang: jalan/jalan cepat, lari, bersepeda, Latihan penguatan otot, Latihan keseimbangan.

Tetap melakukan aktivitas sehari-hari, Tetap memperhatikan penyakit komorbid dan kondisi secara umum, Menghindari atau mengendalikan stress psikis, Cukup tidur, Mengerjakan hobi/hal-hal yang menyenangkan, Mengkomunikasikan masalah, Mempertahankan kontak sosial, Bersikap santai dan optimis.

Cara mengingkatkan sistem imun di era new normal. Tips mudah jaga sistem imun PERALMUNI & BPOM: Tidur yang cukup, Berhenti merokok, Hindari strees, Latihan fisik/olah raga teratur, Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang (termasuk konsumsi suplementasi), Minum air putih 8 gelas per hari, demikian saran Dr. Fenny Yunita.

Inovasi Mustika Ratu, Jamu Immunomodulator

Herbamuno Mustika Ratu

Sesi knowledge product disampaikan oleh Apt., Irma Maelani, S.Farm., Brand Manager Health division PT. Mustika Ratu. Pada kesempatan ini, dijelaskan tentang formula Herbamuno yang merupkan inovasi terkini dari perusahaan Mustika Ratu.

Herbamuno dengan tagline: Menjaga Imun Tubuh Tetap Prima merupakan produk inovasi terkini dari Mustika Ratu sebagai Jamu Immunomodulator. Herbamuno dikembangkan dari kombinasi 5 (lima) bahan yang sudah terbukti secara empiris keamanan dan efektifitasnya dalam menjaga daya tahan tubuh, yang bersinergi dengan khasiat lain di masing-masing ingredient seperti antiradang anti nyeri, batuk dan sesak napas, anti diare, hepatoprotektor dan gastroprotektor.

Terbuat dari ramuan herbal berkhasiat dari alam Indonesia: Sambiloto, Akar Manis, Meniran, Jahe Emprit, Daun Jambu Mete.

Sambiloto (Andrographis paniculata). Ekstrak sambiloto mengandung diterpenoid, diterpene glycosida, lakotona, flavonoid, dan flavonoid glikosida. Sambiloto berfungsi sebagai anti demam, anti radang, anti nyeri, dan hepatoprotector. Telah dilakukan uji klinik randomized double blind pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan bagian atas tanpa komplikasi. Dari penelitian klinik ditunjukkan bahwa ekstrak Sambiloto efektif untuk mengurangi gejala dari infeksi saluran pernafasan atas dengan efektivitas 2 kali (52,7 %) lebih tinggi dari plasebo (Saxena et al., 2010)

Akar Manis (Glycyrrhizae Radix). Akar manis digunakan sebagai antiinflamasi, hepatoprotector, gastroprotector, meredakan batuk dan sesak nafas. Flavonoid yang terkandung menunjukkan aktivitas sebagai antiinflamasi salah satunya dengan menekan ekspresi inducible nitric oxide synthase (iNOS) yang memiliki peran penting timbulnya inflamasi  (Jiang et al., 2018)

Meniran (Phyllanthus urinaria). Senyawa yang terkandung dalam meniran adalah lignan, flavonoid, tanin, dan konstituen benzonid. Meniran memiliki fungsi anti radang, hepatoprotector, dan gastroprotector. Uji in vivo pada rentang dosis 0,002 - 20 mg menunjukkan peningkatan yang signifikan pada aktivasi neutrofil dan respon antibodi. Hasil pengujian ini mengindikasikan ekstrak Meniran memiliki potensi sebagai imunostimulan (Muthulakshmi et al., 2016)

Jahe Emprit (Zingiber Officinale). Mengandung gingerol, shogaol, dan zingibere yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, analgesik, imunomodulator, dan gastroprotector. Uji in vivo menunjukkan bahwa minyak atsiri jahe yang diberikan sehari sekali per oral selama seminggu dapat meningkatkan respon imun humoral. Imunitas humoral melibatkan interaksi antara sel-B dengan antigen untuk selanjutnya terjadi proliferasi dan diferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi (Carrasco et al., 2009).

Daun Jambu Mete (Anacardium occidentale). Berbagai penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun A. occidentale mengandung senyawa fenolik seperti kuercetin, antosianin, dan tanin serta berkaitan dengan sejumlah efek farmakologi seperti antiinflamasi, hepatoprotector, antioksidan, bronchodilatory, meredakan diare, dan anti radang. *) Inforial Kerjasama PDHMI & JamuDigital.

Apt., Irma Maelani, S.Farm., Brand Manager Health Division PT. Mustika Ratu saat menyampaikan paparan.

Brand Manager Mustika Ratu


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: