Posisi Daya Saing Herbal Indonesia di ASEAN
Tanggal Posting : Jumat, 27 Desember 2019 | 06:50
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 421 Kali
Posisi Daya Saing Herbal Indonesia di ASEAN
Founder JamuDigital, Karyanto saat berada di depan jaringan apotik Mercury Drug- terbesar di Manila-Filipina, pada 13 Desember 2019.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Herbal Indonesia memiliki keunggulan komparatif, dan mempunyai beragam dimensi kemanfaatan: di bidang kesehatan, ekonomi, sosial- budaya. Lantas, dimanakah posisi daya saing herbal Indonesia di Kawasan ASEAN?

Pada kegiatan "The 30th ACCSQ on Traditional Medicines and Health Supplements Product Working Group Meeting and Its Related Events" di Yogyakarta pada 1 November 2018, Badan POM RI. bersama perwakilan negara anggota ASEAN melakukan harmonisasi standar obat tradisional dan suplemen kesehatan. Standarisasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kerja sama yang nyata, antara lain dalam bentuk kemudahan ekspor-impor antarnegara ASEAN.

Hal ini, sebagai upaya menjamin mutu, keamanan, dan manfaat dari obat tradisional dan suplemen makanan yang dipasarkan di ASEAN, tegas Kepala BPOM, Penny K. Lukito usai membuka kegiatan diatas.

Kesamaan budaya dan keanekaragaman terkait dengan obat tradisional, lanjut Penny K. Lukito, maka penting untuk berinteraksi, berkomunikasi dan menyamakan standar agar ada kemudahan pada saat proses impor dan ekspor.

Berita Terkait: Obat Tradisional dan Kerja Sama Kesehatan Bilateral ASEAN

Daya Saing Herbal Indonesia
Untuk melihat daya saing herbal Indonesia, kita dapat menjadikan rempah Indonesia sebagai salah satu tolok ukurnya. Sebab, eksistensi rempah Indonesia terkait langsung dengan produk herbal Indonesia.

Dalam paper berjudul "Daya Saing Rempah Indonesia di Pasar ASEAN Periode Pra dan Pasca Krisis Ekonomi Global," karya Iwan Hermawan, P3DI Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik, Setjen DPR RI., disebutkan bahwa perdagangan rempah berkembang pesat, didukung oleh: Pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia dan negara maju, Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan manfaat rempah, Perkembangan wisata kuliner, di mana ikon makanan khas suatu negara menjadi branding untuk menarik devisa negara, Perubahan budaya.

Indonesia tercatat sebagai negara eksportir rempah terpenting di dunia. Pada 2013, rata-rata rempah Indonesia menyumbang 21,06 % dari total pasar rempah dunia. Sedangkan di wilayah ASEAN, menurut data Comtrade 2013, dari total nilai ekspor rempah Indonesia ke pasar dunia sebesar 31,43% diekspor ke ASEAN. Maka, pasar ekspor rempah ASEAN didominasi oleh rempah Indonesia.

Bagaimana langkah yang perlu diambail oleh Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan potensi daya saing rempah? Berikut ini, sarannya: Teknik budidaya yang baik, Pengembangan industri hilir, Pemanfaatan bursa komoditas, dan Perbaikan fasilitasi perdagangan.

Kendati demikian, Indonesia juga masih mengimpor rempah dari pasar dunia. Khususnya Kayu manis dan Vanili. Impor kayu manis dari Vietnam, Srilanka, dan China. Impor Vanili dari Madagaskar, USA, dan Singapura.

Rempah Indonesia yang diimpor oleh negara ASEAN, antara lain: Pala, Cabai, dan Capsicum (impornya didominasi oleh Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura). Vanili mayoritas diimpor Singapura. Kayu manis diimpor Vietnam. Cengkeh diimpor Singapura. Pala, Bawang, dan Kapulaga diimpor Vietnam dan Malaysia. Jahe, Kunyit, Safron, Timi, Daun salam, diimpor Malaysia, Myanmar, Thailand, Bangladesh, Singapura, dan Vietnam.

Berita Terkait: Obat Herbal Indonesia Menyerbu Pasar Dunia

Berita Terkait: Kabar dari Manila: Membidik Pasar Obat Herbal di ASEAN

Sedangkan Eka Intan Kumala Putri dkk. (Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia- JIPI), dalam artikel berjudul: "Tangible Value Biodiversitas Herbal dan Meningkatkan Daya Saing Produk Herbal Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015," menyampaikan beberapa saran, sebagai berikut:

  • Herbal Indonesia agar mampu berdaya saing dan masuk ke pasar MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) harus meningkatan mutu, dan melakukan prioritas pengembangan produk
  • Herbal Indonesia tetap menjaga keaslian (orisinilitas) rasa dan racikan dalam pembuatan dan proses produksi, agar herbal dapat lestari di pasar domestik dan kedepannya merambah ke pasar internasional
  • Peningkatan kualitas SDM dalam rangka meningkatkan competitive advantage herbal Indonesia
  • Komitmen Pemerintah Indonesia perlu ditingkatkan dalam berbagai kebijakan untuk mengembangkan herbal Indonesia, agar comparative advantage herbal meningkat dan mampu bersaing di pasar global. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: