OMAI Terus Berproses Masuk JKN
Tanggal Posting : Sabtu, 1 Agustus 2020 | 06:51
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 152 Kali
OMAI Terus Berproses Masuk JKN
Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX, DPR RI.: OMAI Terus Berproses Masuk JKN.

Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) terus berproses agar dapat masuk dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Bahkan kini, sudah ada enam Rumah Sakit di berbagai daerah yang memiliki Unit Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi yang dapat meresepkan obat herbal kepada pasien.

Para dokter dapat menggunakan obat tradisional untuk: Promotif, Preventif, Kuratif, Rehabilitatif. Dalam hal ini, diperlukan edukasi tentang Jamu, sedangkan OHT dan Fitofarmaka (OMAI)  dapat   digunakan pada praktek mandiri atau di Rumah Sakit (Formularium Nasional/Formularium RS).

Berita Terkait: Enam Yankestrad Integrasi di Berbagai Rumah Sakit

Komisi IX DPR RI. mendesak pemerintah mengintensifkan penelitian dan pengembangan Obat Modern Asil Indonesia (OMAI) dengan menggali potensi sumber daya alam. "OMAI masuk dalam JKN terus berporses," kata Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX, DPR RI. seusai Rapat Kerja dengan dengan Menteri Kesehatan RI, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan Direktur Utama PT. Biofarma, pada 14 Juli 2020.

Dalam rapat tersebut, anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani meminta pemerintah menyusun grand design penelitian dan pengembangan kemandirian obat dan alat kesehatan dengan mempertimbangkan pola penyakit di Indonesia dan kebutuhan obat dan alat kesehatan, sehingga Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dapat dilaksanakan secara terukur.

"Inpres ini adalah upaya percepatan menciptakan obat dan alkes, maka pertama yang harus kita punya adalah road map, skala prioritas dan tata niaga. Kita mendukung penelitian ini yang akan membangun kemandirian bangka kita," tegasnya.

Pada Rapat Kerja ini, membahas hal-hal berikut ini:

1. Penjelasan Menteri Kesehatan RI, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kepala Badan POM mengenai :

  • Perkembangan pelaksanaan Inpres No.6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan;
  • Terobosan dalam mendukung upaya kemandirian obat dan vaksin untuk COVID-19, termasuk pemanfaatan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

2. Penjelasan Direktur Utama PT. Biofarma tentang dukungan atas pelaksanaan Inpres No.6 Tahun 2016, khususnya terkait pengembangan vaksin serta sumber penganggarannya.

Komisi IX DPR RI mendesak pemerintah untuk memberikan dukungan penuh dalam seluruh proses  penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin virus corona jenis baru untuk mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia, serta menjamin seluruh masyarakat mendapatkan akses terhadap vaksin tersebut. Hal ini menjadi salah satu poin kesimpulan yang dibacakan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI., Emanuel Melkiades Laka Lena.

Selain itu, Pihaknya juga mendesak pemerintah memperkuat koordinasi dalam upaya penangan COVID-19, termasuk riset dan inovasi. "Mendorong Kemenkes, Kemenristek/BRIN, dan Badan POM memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, serta bersinergi dengan lembaga riset, universitas, dan TNI/Polri dalam upaya penangan COVID-19, termasuk dalam riset dan inovasi," tuturnya.

Berita Terkait: Daftar Obat Modern Asli Indonesia 2020

Kemandirian Obat Dalam Negeri

Pada Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI ini, Menteri Kesehatan RI., dr. Terawan Agus Putranto menjelaskan untuk meningkatkan Kemandirian Obat Dalam Negeri, Kemenkes membina ratusan Industri Farmasi. Salah satu amanat Presiden Joko Widodo kepada Menteri Kesehatan RI. adalah meningkatkan kemandirian obat dan alat kesehatan. Rencana aksi Kemenkes dalam meningkatkan kemandirian obat adalah dengan mengembangkan bahan baku sediaan farmasi.

Pengembangan bahan baku sediaan farmasi dilakukan secara bertahap dalam 4 fokus utama yakni bahan baku Natural, Kimia (API), Biopharmaceutical, dan vaksin. Telah dicapai peningkatan jumlah industri yang dibina oleh Kemenkes, antara lain dalam kurun waktu 2016-2019 perkembangan jumlah industri farmasi dalam negeri bertambah dari 209 menjadi 230 industri.

Industri bahan baku obat bertambah dari 8 menjadi 14 industri, industri obat tradisional bertambah dari 88 menjadi 120 industri, industri ekstrak bahan alam bertambah dari 8 menjadi 17 industri, industri alkes dalam negeri bertambah dari 215 menjadi 313 industri. Jumlah industri bahan baku obat tahun 2016 berjumlah 8 dan berkembang menjadi 14 industri di tahun 2019.

’’Sampai tahun 2019, bahan baku yang sudah dikembangkan sebanyak 21 yang terdiri dari 1 item produk bioteknologi, 1 item produk vaksin, 7 item produk natural, dan 12 item produk bahan baku obat kimia.’’ kata Menkes Terawan di Gedung DPR, Selasa, 14 Juli 2020.

Sampai dengan tahun 2020, beberapa bahan baku farmasi telah dapat diproduksi di dalam negeri. Contohnya bahan baku untuk obat yang digunakan dalam pengendalian penyakit tidak menular, seperti Atorvastatin, Klopidogrel, dan Simvastatin. *Program Edukasi OMAI (Obat Modern Asli Indonesia)


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: