Problema Mengembangkan Wisata Kesehatan
Tanggal Posting : Senin, 30 Desember 2019 | 13:55
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 826 Kali
Problema Mengembangkan Wisata Kesehatan
Sosialisasi Mengembangkan Wisata Kesehatan di Banyumas, Jawa Tengah, pada 26 Desember 2019.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah berupaya mengembangkan Wisata Kesehatan untuk mengoptimalkan kearifan lokal dan meningkatkan potensi daerah.

Hal ini terungkap saat kegiatan "Sosisalisasi Wisata Kesehatan" yang digelar bersama oleh PPUIN, PPKESTRAJAMNAS dan Griya Sehat Nektaria Honey di Bappedalitbang Banyumas, pada 26 Desember 2019.

Kepala Bapedalitbang Kabupaten Banyumas, Drs. Purwadi Santoso, M.Hum menjelaskan bahwa pihaknya membuka ruang eksplorasi dunia wisata Kabupaten Banyumas seluas-luasnya. Sebab, saat ini pariwisata semakin diminati, terlebih di era digital- dimana informasi mudah diakses.

"Sebagian besar pariwisata di Banyumas berbasis alam, budaya, dan wisata buatan sebagai pendukung. Baturaden sebagai ikon wisata Banyumas, berada di kaki Gunung Slamet. Hawanya sejuk, pemandangan indah, di sekitar lokasi Baturaden juga ada wahana wisata dan kebun raya Baturaden", ujar Purwadi Santoso.

Dia meambahkan, bahwa Kecamatan Baturaden mencerminkan keanekaragaman hayati, yang sebenarnya di Kecamatan lain juga punya potensi walaupun berbeda-beda. Dalam rangka mengoptimalisasi dan mengeksplor keanekaragaman hayati, maka kekayaan tanaman obat perlu dimunculkan sebagai bagian dari Back to Nature.

"Moto Back to Nature merupakan cara hidup lebih sehat, yaitu dengan tanaman organik, tanaman herbal, dengan lebih mengedepankan promotif dan preventif. Tanaman organik, herbal dan tanaman obat menjadi andalan. Jika kuratif baru dipadukan dengan obat kimia. Niscaya kesehatan masyarakat akan lebih baik. Jika mengedepankan herbal dan obat tradisional, maka dapat menghemat anggaran BPJS,"ujarnya.

Menurut Mochamad Subechan, Ketua Umum PPUIN, Ketua PPKESTRAJAMNAS, dan Griya Sehat Nektaria Honey menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata kesehatan mengacu pada UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pariwisata Kesehatan (Health Tourism) yang disepakati oleh Kementrian Kesehatan dan Kementrian Pariwisata pada Konsinyering tanggal 20 Agustus 2017, memiliki dua tujuan yaitu: Pariwisata Kebugaran (Wellness Tourism) dan Pariwisata Medis (Medical Tourism).

Hal ini sudah dimulai sejak tahun 2012 yang menghasilkan MOU tahun 2012, MOU tahun 2017 dan Perjanjian Kerjasama tahun 2017 (26 September 2017-2019) bahwa Pariwisata Kesehatan yang dikembangkan meliputi upaya untuk pencegahan (preventif), pengobatan dan pemeliharaan, dilengkapi dengan fasilitas dan layaan untuk mendukung terwujudnya pengalaman wisata kesehatan yang berkualitas.

Dari dua tujuan pariwisata kesehatan tersebut dapat dikembangkan menjadi empat klaster wisata kesehatan meliputi wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olah raga untuk menunjang kesehatan dan wisata ilmiah kesehatan.

Kabupaten Banyumas yang memiliki lebih dari 39 objek wisata alam dan sumber daya pedukung wisata kesehatan yang memadai sangat pontensi untuk dikembangkan. Selain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan wisata kesehatan, akan meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat serta dapat menekan biaya pengobatan masyarakat sehingga dapat mengurangi anggaran biaya kesehatan.

Dalam mengembangkan pariwisata kesehatan memiliki berbagai problematika, yaitu:  Permasalahan Makro: Pemahaman terhadap pariwisata kesehatan, biaya tindakan medis tinggi, asuransi internasional yang diterima rumah sakit masih sangat terbatas, data, informasi yang masih terbatas, dukungan pemerintah sangat terbatas dan regulasi izin praktek dokter.

Permasalahan Mikro: Ketersediaan fasilitas dan pelayanan khusus masih terbatas, pengorganisasian kegiatan wisata kesehatan di rumah sakit, sumber daya manusia dan kendala Bahasa.

Sedangkan Indah Yuning Prapti, Praktisi wisata JEJAMON, dari Tawangmangu- Jawa Tengah yang juga menjadi pembicara pada kegiatan ini, mengatakan bahwa wisata kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat diperlukan, beban kehidupan modern dengan beban/target kerja yang tinggi, gaya hidup instan dan pola makan yang tidak sehat dapat menurunkan kualitas hidup.

Situasi seperti ini menumbuhkan kesadaran untuk hidup sehat dan berupaya mencari penyembuhan mandiri. Manusia tidak hanya membutuhkan sehat, tetapi juga membutuhkan kebugaran tubuh/wellnes untuk mencapai keseimbangan kesehatan yang paripurna.

Pengembangan wisata kesehatan mempunyai pengaruh positif terhadap lingkungan yang lebih sehat, mendidik masyarakat sehat secara mandiri, membuka sumber pendapatan baru bagi rumah tangga, meningkatkan pendapatan asli daerah dan mengurangi tingkat penangguran.

Kegiatan sosialisai ini juga dalam rangka ulang tahun Kabupaten Banyumas pada bulan Februari dan sekaligus mensosialisasi wisata kesehatan, dab akan mengadakan gerakan minum Jamu bersama diharapkan dapat memecahkan Rekor Muri Minum Jamu Bersama. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: