Peran Tenaga Kesehatan Pada Pengembangan OT
Tanggal Posting : Kamis, 25 Juni 2020 | 05:04
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 386 Kali
Peran Tenaga Kesehatan Pada Pengembangan OT
Universitas Gadjah Mada pada Kamis, 25 Juni 2020 mengadakan FGD untuk mengupas Peran Tenaga Kesehatan Pada Pengembangan Obat Tradisional..

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, DFM., SH, M.Si.Sp.F (K)- Ketua PP KESTRAKI (Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia) akan menjadi pembicara pada FGD "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia".

FGD (Focus Group Discussion) diadakan oleh Direktorat Penelitian UGM pada Kamis, 25 Juni 2020 dengan moderator: Prof. Dr. Mae Sri Hartati W, Apt, M.Si. Sebagai Penanggung Jawab Kegiatan (PIC), Prof. Dr. Mustofa, Apt, M.Kes, Direktur Direktorat Penelitian UGM. Sedangkan Peneliti Utama untuk Kajian ini adalah Prof. Drs. Subagus Wahyuono, MSc., PhD (Fakultas Farmasi UGM).

Kegiatan FGD "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia," seriak ke-3 ini, dengan Sub Tema: "Peran Tenaga Kesehatan dalam Pengembangan Obat Tradisional."

Tujuan Kegiatan ini adalah: a. Memperoleh informasi kondisi terkini pemanfaatan OT oleh tenaga medis di Indonesia b. Mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai hambatan dan tantangan pengembangan obat tradisional dari sisi praktisi kesehatan

Berita Terkait: Penguatan Budaya Jamu Era New Normal

Latar Belakang. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah merumuskan Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KOTRANAS) melalui Peraturan Menteri Kesehatan nomor 31/MENKES/SK/III/2007. KOTRANAS memiliki tujuan untuk memenuhi ketersedian obat tradisional (OT) yang terjamin mutu, khasiat serta keamanannya sehingga dapat dimanfaatkan secara luas.

Usaha  mewujudkan tujuan  telah dilakukan oleh semua pihak yang terlibat baik Pemerintah, Perguruan Tinggi, Industri, Tenaga Kesehatan dan Masyarakat. Namun usaha itu belum membuahkan hasil, karena masing-masing pihak masih bekerja sendiri-sendiri sehinggasulitdiintegrasikan untuk mencapai satu tujuan.

Dengan terbentuknya Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka melalui Keputusan Menko PMK No. 22 tahun 2019, pengembangan OT didorong untuk menuju fitofarmaka selain melakukan langkah-langkah konkret pengembangan jamu sebagai warisan budaya Indonesia. Terdapat 5 bidang Satgas antara lain (1) bidang bahan baku, (2) bidang teknologi manufaktur dan standardisasi, (3) bidang uji praklinik dan uji klinik, (4) bidang pengembangan pelayanan kesehatan tradisional, dan (5) bidang produksi dan promosi fitofarmaka.

Kelima satgas tersebut bertujuan untuk mendorong peningkatan supply and demand  OT  yang  aman, bermutu, dan bermanfaat. Sehingga harapan ke depan, OT dapat dimasukkan dalam daftar pilihan pengobatan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Tenaga kesehatan mempunyai peran di dalam satgas terutama di bagian hilir pengembangan OT. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan tradisional, tenaga kesehatan menjadi aktor utama pemanfaatan  OT  kepada masyarakat. Berdasarkan hasil pada FGD sebelumnya, sector industri menilai pengembangan OT menuju fitofamaka mengalami hambatan salah satunya karena minimnya pangsa pasar OT di pelayanan kesehatan. Walaupun sudah menjadi fitofarmaka, penggunaan OT di kalangan tenaga medis masih sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah menurut mereka, bukti-bukti ilmiah (evidence based) OT masih sedikit dan sulit untuk dicari atau ditemukan.

Pemerintah Indonesia  melalui PP Nomor 103 tahun 2014 mendorong pemanfaatan obat tradisional melalui pelayanan  kesehatan tradisional di fasilitas kesehatan. Sampai saat ini, terdapat beberapa fasilitas kesehatan membuka layanan kesehatan tradisional seperti puskesmas, klinik, rumah sakit bahkan praktek pribadi. Jenis layanan yang diberikan bervariasi dari akupresur, akupuntur, pijat, sampai ramuan baik lokal maupun dari luar negeri.

Variasi penggunaan OT di yankestrad selama ini belum terdata baik macamnya maupun alasannya. Hal ini merupakan aspek yang memliki peran dalam pangsa pasar OT sehingga berpengaruh terhadap pengembangan OT itu sendiri. Melihat kenyataan ini Tim Peneliti UGM mencoba untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pengembangan OT di Indonesia terutama di sektor hilir.

Strategi yang dilakukan antara lain melalui focus group discussion (FGD), penyebaran kuesioner, wawancara dengan stake holder untuk mendapatkan gambaran secara utuh permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan OT. Permasalahanpermasalahan yang berhasil dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis untuk dapat dirumuskan jalan keluarnya dan akan dijadikan rekomendasi bagi pengembangan OT kedepan. Pada FGD ketiga ini akan mengundang parapraktisi tenaga kesehatan yang memafaatkan OT. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: