Penguatan Budaya Jamu Era New Normal
Tanggal Posting : Jumat, 12 Juni 2020 | 05:40
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 465 Kali
Penguatan Budaya Jamu Era New Normal
Sebagian peserta FGD Virtual dan Pembicara yang digelar oleh Direktorat Penelitian UGM pada Kamis, 11 Juni 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Gelaran FGD secara virtual oleh Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Kamis, 11 Juni 2020 memunculkan spirit baru dalam menghadapi era new normal yaitu memberikan penguatan aspek sosial-budaya dalam pengembangan Jamu, agar kontribusi Jamu menembus pasar dunia.

Model-model pendekatan, yang menarik-narik Jamu- berbasis empiris, dari warisan nenek moyang dan sudah melekat menjadi kultur sosial budaya masyarakat, ke proses standarisasi mengacu pada model penemuan obat kimia, dinilai menghilangkan ’ruh’ Jamu sebagai ramuan berbagai tanaman obat- yang kerjanya holistik-multi khasiat.

Kemajuan teknologi riset dan metodologi ilmiah yang digunakan dalam pengembangan Jamu, tidak serta merta melupakan begitu saja akar sosial- budaya Jamu yang seharusnya menjadi keunggulan yang perlu dipupuk dan dikembangkan sebagai faktor pembeda.

Demikian, salah satu benang merah yang dapat ditarik dari Focus Group Discussion (FGD) Seri 2 dengan tema: "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia", yang digelar oleh Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM)- menampilkan narasumber: 

1. Direktur Eksekutif GP. Jamu Jawa Tengah, Stefanus Handoyo Saputro yang mewakili Ivana Lucia (Ketua GP. Jamu Jawa Tengah), membahas topik: Tantangan yang Dihadapi Industri Jamu dalam Launching Produk Baru. 2. Drs. Bambang Priyambodo, Apt (PT Air Mancur), topik: Masalah Perijinan Obat Tradisional. 3. Dr. Bondan Ardiningtyas, M.Sc., Apt (PT Swayasa Prakarsa), topik: Tantangan Hilirisasi hasil Penelitian Obat Tradisional di Perguruan Tinggi.

FGD yang dipandu oleh moderator: Dr. dr. Setyo Purwono, M.Kes., Sp.PD.  (Fakultas Kedokteran-Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM) berlangsung cair, setelah masing-masing narsum presentasi, semua peserta bebas meberikan masukan dan menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan Jamu.

Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes., Direktur Direktorat Penelitian UGM menjelaskan bahwa hasil FGD ini, nantinya akan dikompilasi dan akan disampaikan kepada pihak-pihak terkait sebagai masukan dan untuk dijadikan rujukan untuk pengembangan obat tradisional di masa datang.

Berita Terkait:

Bambang Priyambodo mencermati akhir-akhir ini akar sosial-budaya Jamu diabaikan, dan lebih mengejar pada upaya-upaya membawa Jamu ke arah OHT dan Fitofarmaka. "Seharusnya industri Jamu-Obat Tradisional menggali dan memperkuat akar budaya Jamu," ujarnya.

Kearifan lokal, lanjut Bambang Priyambodo, tentang bahan baku Jamu dari tanaman di berbagai daerah sangat banyak sebagai khasanah kekayaan etnomedisin. "Perkembangan teknologi yang canggih, jangan mengabaikan akar budaya Jamu," tambahnya.

Model pengembangan Jamu- yang out of the box, memang perlu terus digali, sehingga persoalan pengembangan Jamu tidak hanya berkutat untuk pemenuhan regulasi yang didorong menuju OHT atau Fitofarmaka. Dani Pratomo (PT. Mersifarma Tirmaku Mercusana) memberikan contoh bagaimana lagu-lagu Bahasa Jawa yang dilantunkan almarhum Didi Kempot dapat diterima oleh generasi milenial. Model pendekatan seperti ini, menurut Dani Pratomo, dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan Jamu.

Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD. pada FGD sebelumnya mengangkat potensi Jamu untuk digarap pasarnya sebagai pangan fungsional. "Beberapa opsi Jamu sebagian besar untuk pencegahan. Sebagian Jamu dapat dikembangkan melalui jalur makanan/minuman fungsional," paparnya.

Sementara itu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman (Ketua GP. Jamu Pusat), dan Erna Setiyawati, (Ketua DPD GP. Jamu Jawa Barat) menilai riset-riset diberbagai lembaga dan institusi semestinya dilakukan dari formula Jamu yang sudah beredar di pasar yang sudah memiliki registrasi di Badan POM. Sehingga ada manfaat langsung bagi pengusaha Jamu, ada tambahan dukungan kajian ilmiahnya.

Seringkali riset yang dilakukan, setelah selesai tidak dapat dilakukan hilirisasi menjadi produk, karena pemilihan tanaman obat yang diriset tidak mudah diperoleh bahan bakunya. Kalau diproduksi menjadi mahal dan sulit mendapatkan sumber bahan bakunya.

Stefanus Handoyo menuturkan potensi Jamu sebagai produk wisata perlu dikembangkan. Jamu sebagai warisan budaya yang dikonsumsi turun-temurun dapat dijadikan model bisnis wisata Jamu yang menarik di Indonesia. "Wisatawan yang datang ke Indonesia dapat dikenalkan dengan budaya Jamu, sehingga juga membuka prospek untuk ekspor Jamu," jelasnya.

Karyanto JamuDigital

Keterangan Foto: Suasana ruang Redaksi JamuDigital saat mengikuti "FGD  Virtual Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis, 11 Juni 2020"   

Perkuat Brand, Tetapkan Ciri Jamu Indonesia 

Prof. Drs. Subagus Wahyuono, Apt., MSc., PhD menilai perlunya ada penetapan ciri apa dari Jamu yang akan ditonjolkan. Seperti di Korea terkenal dengan Ginsengnya. "Nah di Indonesia, Jamu atau herbal apa yang akan dijadikan ciri Jamu Indonesia," urainya.

Karyanto, Founder Jamu Digital memberikan masukkan agar brand Jamu Indonesia diperkuat. Jika brand Jamu sudah kuat, seperti halnya brand TCM yang sudah mendunia, maka pasar Jamu akan otomatis  terbuka luas- baik untuk memenuhi pasar OTC, dan juga peluang dilirik oleh tenaga kesehatan untuk menggunakannya.

Pasar OTC- melalui swamedikasi memiliki potensi bisnis yang sangat besar, karena akan menjadi produk global, banyak dibeli oleh masyarakat dunia. "Itu jika brand Jamu tersebut sudah mengglobal, menjadi produk global," pungkasnya. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: