Pemaparan Hasil Riset Balitbangkes 2020
Tanggal Posting : Selasa, 21 Juli 2020 | 07:39
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 606 Kali
Pemaparan Hasil Riset Balitbangkes 2020
Sejumlah peneliti memaparkan Hasil Riset Balitbangkes yang diadakan pada 20 Juli 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Sejumlah hasil riset dipaparkan pada Seminar Daring "Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan", pada Senin, 20 Juli 2020. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat, Ir. Doddy Izwardi, MA. memberikan arahan, dilanjutkan laporan oleh Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu.

Akhmad Saikhu menjelaskan bahwa tujuan Seminar Daring ini, menyampaikan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh para peneliti Balitbangkes. Peneliti tersebut berasal dari Pusat Litbangkes Humaniora dan Manajemen Kesehatan dan dari UPT-UPT Badan Litbangkes yang ada di daerah.

"Tugas dan fungsi dari Balitbangkes antara lain melaksanakan penelitian dan pengembangan bidang Kesehatan, melaksanakan desiminasi hasil-hasil penelitian dan advokasi transformasi hasil penelitian menjadi kebijakan Kesehatan," ungkap Akhmad Saikhu.

Peneliti yang mempresentasikan hasil risetnta, adalah:

  • Prof. Dr. drg. Ninik Lely Pratiwi, MKes., Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan, dengan judul: "Mengembangkan Agen Perubahan dengan pendekatan Partsipatory Action Research dalam upaya persalinan aman di Kecamatan Blang Pegayon Kab. Gayo Lues, Aceh"

Yunita Fritianti, S.Ant, MSc, Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan dengan judul: "Pengobatan Tradisional Ibu Hamil dan Nifas di Kab. Gayo Lues, Aceh"

  • Fani Indrian Mustofa, SSi, MPH, B2P2TOOT dengan judul: "Studi Penggunaan Jamu oleh Masyarakat untuk meningkatkan Daya Tahan Tunuh selama wabah COVID-19"
  • Sunaryo, SKM, MSc, Balai Litbangkes Banjarnegara dengan judul: "Indikator Surveilance Leptospirosis di Wilayah DI Yogjakarta"
  • Hana Krismawati, MSc, Balai Litbangkes Papua, dengan judul: "Aplikasi Molekular Biomarker dalam Penanganan Dapsone Hypersensitive Syndrome pada pasien-pasien Kusta di Tanah Papua"

Dengan pembahas, yaitu:

  • DR. Pinky Saptandari, MA, Departemen Antropologi FISP, Program Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana, UNAIR.
  • Prof. DR. Muhammad Sudomo, Ketua Komisi Pengendalian Vektor Binatang Penular Penyakit.

Bertindak sebagai moderator adalah Kepala Balai Litbangkes Banjarnegara, Jastal, SKM, MKes.

Ballitbangkes

Sunaryo menyampaikan kesimpulan:

1.Indikator surveilans  leptospirosis

  • Diperlukan kesiapan petugas puskesmas (medis, laboratorium, surveilans) terlatih dan dukungan sarana laboratorium (RDT) dalam pelaksanaan sistem surveilas berbasis puskesmas
  • Sistem surveilans berbasis puskesmas akan menekan angka kematian karena leptospirosis
  • Kebiasaan masyarakat yang berisiko tertular leptospirosis:

           a. Tidak memakai sarung tangan saat kontak dengan tikus  dan hewan piaraan

           b. Tidak menggunakan pelindung tangan (APD) saat aktivitas di lingkungan kotor

           c. Tidak mencuci tangan setelah kontak dengan tikus dan hewan piaraan

2. Ditemukan tikus dan hewan piaraan positif leptospira. Ratio tikus  positif leptospira dengan kasus tersangka leptospirosis adalah 1:3, berarti apabila terdapat 1 ekor tikus positif, diprediksi ada 3 kasus tersangka leptospi-rosis.Rata-rata trap succes di Kab Bantul 12,25 %, kemungkinan 1/7 merupakan tikus positif  leptospira. Ternak positif leptospira sebesar 25 % dari yang diperiksa.

3.Aplikasi surveilans leptospirosis (E Sule) di wilayah Gunungkidul dan Kab. Bantul  belum berjalan  sebagai-mana  mestinya, masih diperlukan pembinaan  dan pendampingan dalam pelaksanaan dan perbaikan sistem e-sule.

Sedangkan Fani Indrian Mustofa, menyampaikan kesimpulannya, sebagai berikut:

  • Pada umumnya tingkat pengetahuan masyarakat dalam menggunakan jamu untuk mencegah COVID-19, termasuk dalam kategori sedang. Kondisi tersebut potensial untuk ditingkatkan karena dukungan sikap yang positif dari masyarakat. Promosi dan edukasi penggunaan jamu yang tepat diperlukan untuk meningkatkan praktik masyarakat. Hal tersebut merupakan salah satu upaya preventif dalam rangka tatanan new normal.

Kemudian Hana Krismawati mengungkapkan rekomendasi dan saran, sebagai berikut:

  • Pada populasi yang memilki frekuensi pembawa gen rendah perlu dilakukan studi lanjut pada kantung-kantung lepra yang lain sehingga dapat dilakukan langkah preventif yang diperlukan
  • Provinsi Papua Barat direkomendasikan untuk menjalankan tes HLA-B* 13:01 pada pasien lepra sebelum menjalani terapi MDT
  • Penguatan sistem pelaporan DHS harus diperbaiki mengingat keterlambatan penanganan DHS mengakibatkan kematian
  • Melakukan pemetaan komunitas-komunitas masayarakat berpotensi tinggi mengalami DHS pada kantung-kantung lepra
  • Membuat kartu identitas hipersensitifitas obat yang dapat dibawa oleh pasien lepra atau eks-pasien lepra saat melakuakn pengobatan lain.
  • Menambahakan fasilitas pemeriksaan DHS pada sarana laboratorium yang suda hada di daerah kantung lepra minimal 1 fasilitas pada level kabupaten
  • Mendiseminasikan hasil temuan pada seluruh jejaring kesehatan seperti organisasi profesi kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap DHS pada daerah kantung lepra.

Yunita Fritianti menguraikan kesimpulan risetnya berikut ini:

  • Praktik pengobatan tradisional di Gayo Lues tidak semata hanya untuk kesehatan, melainkan untuk mendukung peran perempuan dalam masyarakat.
  • Sistem kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional sangat tinggi. Hal ini tentu sulit untuk menggantikannya dengan pengobatan medis yang dianggap oleh masyarakat setempat tidak mempunyai nilai yang sama dengan pengobatan tradisional. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: