OMAI Harus Terus Didorong di Fasilitas Kesehatan
Tanggal Posting : Kamis, 4 Juni 2020 | 12:47
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 335 Kali
OMAI Harus Terus Didorong di Fasilitas Kesehatan
Dr. Muhammad Dimyati, Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD, Prof. Dr. Subagus Wahyuono, M.Sc., Apt dan Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. FGD: Kajian Kebijakan Pengembangan OT.

JamuDigital.Com- MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. OMAI (Obat Modern Asli Indonesia) harus terus didorong penggunaannya di dalam Fasilitas Kesehatan. Ada sejumlah opsi kebijakan untuk pengembangan obat tradisional yang terintegrasi dan hilirisasi yang optimal.

Produk herbal Indonesia, yang sudah lulus uji pra klinis, dan uji klinis (yang terbukti berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit) perlu terus didorong, agar dapat menjadi bagian dari tata laksana pengobatan di dalam pelayanan kesehatan.

Demikian antara lain bahasan yang mengemuka pada "Focus Group Discussion I dengan tema: Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia," yang dilaksanakan oleh Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada pagi ini, Kamis, 4 Juni 2020.

Acara dibuka oleh Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes., Direktur Direktorat Penelitian UGM, dilanjutkan presentasi Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD (Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM), dengan topik: Riset dan Analisis Kebijakan Obat Tradisional di Indonesia, dan presentasi Dr. Muhammad Dimyati (Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional), dengan topik: Penelitian Obat Tradisional di Perguruan Tinggi: Hambatan dan Tantangan.

FGD dipandu oleh Prof. Dr. Subagus Wahyuono, M.Sc., Apt., dan Dr.rer.nat. Nanang Fakhrudin, M.Si., Apt. secara bergantian.

FGD UGM

Berita Terkait: UGM Adakan Kajian Kebijakan Pengembangan OT

Karyanto JamuDigital

Keterangan Foto: Karyanto-Founder JamuDigital saat diskusi pada FGD "Focus Group Discussion I dengan tema: Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia."

"Pengembangan OT dari Jamu menjadi Fitofarmaka merupakan proses atau kegiatan yang bersifat interdisiplin yang melibatkan seluruh kepentingan. Semua pihak harus bekerja sebagai sebuah tim dengan perannya masing-masing yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama,"  Prof. Laksono Trisnantoro mengawali presentasinya.

Kenyataan yang ada didalam pengembangan OT di Indonesia, lanjut Prof. Laksono, masing-masing bekerja sendiri-sendiri sehingga sulit di integrasikan. Analisa kebijakan, dimana posisi Obat Tradisional dalam perjalanan alamiah penyakit? Opini kebijakan apa yang tepat?

Prof. Laksono Trisnantoro menawarkan beberpa opsi-opsi kebijakan: 1. Sebagian diusahakan tetap masuk ke Pelayanan Kesehatan Formal melalui Clinical Trial, menjadi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). 2. Sebagian besar Obat Tradisional untuk pencegahan. 3. Sebagaian Obat Tradisional melalui jalur makanan/minuman fungsional.

Potensi penggunaan, Prof. Laksono Trisnantoro menambahkan dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Akan popular jika ada pengaruh dari interaksi sosial. Interaksi sosial ini dapat dipicu oleh tenaga dokter dan ahli gizi yang bekerja di layanan primer.

Founder JamuDigital, Karyanto pada saat diskusi dengan Prof. Laksono Trisnantoro mengutarakan tentang perlunya political will dari pemerintah agar potensi obat tradisional dapat berkembang pesat untuk menyehatkan bangsa.

Jika kita amati, lanjut Karyanto- yang juga alumnus Farmasi UGM ini, belum ada lembaga yang menjadi leader dalam pengembangan obat tradisonal- yang fokus memikirkan pengembanan obat tradisional, dari hulu-hilir, integrasinya dengan sistem kesehatan nasional. "Jika memang diperlukan, mungkin ada pejabat setingkat Dirjen untuk Jamu-Obat Tradisional," Karyanto mengungkapkan.

Prof. Subagus Wahyuono dalam diskusi juga ikut menegaskan tentang perlunya negara hadir di dalam pengembangan obat tradisional Indonesia. Dijelaskan, seperti halnya TCM yang sangat maju di China, yang kini menjadi kiblat dunia dalam pengobatan tradisional. "Nah di Indonesia perlu ditetapkan, apa yang menjadi ciri dari Jamu atau obat tradisional Indonesia,’ urai Prof. Subagus Wahyuono.

Kepala B2P2TOOT Kemenkes RI, Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. mengungkapkan bahwa sebenarnya secara alokasi pendanaan untuk pengadaan obat tradisional di pelayanan kesehatan sudah ada yaitu dapat menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK), dana ini dapat digunakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengadakan obat tradisional dan selanjutnya diberikan kepada pasien.

Bagaimana serunya diskusi FGD ini, apa strategi riset pengembangan obat tradisional menghadapi era new normal?

Ikuti terus serial berita "Focus Group Discussion I dengan tema: Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia", hanya di www.jamudigital.com. Tiada Jemu, Mewartakan Jamu. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: