![]() |
| Menkes Budi G. Sadikin melalui virtual conference pada acara Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2023 yang diadakan di Semarang, Jawa Tengah |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Perilaku utama hidup sehat salah satunya mengonsumsi asupan makanan bergizi. Pola makanan dan gizi harus ditata dengan baik sesuai dengan siklus hidup, saat bayi dan anak-anak harus mendapat asupan protein hewani yang cukup, saat remaja banyak mengkonsumsi protein dan karbohidrat, dewasa dan Lansia lebih banyak makan sayuran agar hidupnya bisa lebih sehat.
Cara hidup tetap sehat adalah dengan beraktifitas fisik dan juga aktifitas akal secara rutin. Selanjutnya harus mengatur pola makan ungkap Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin.
Menkes Budi G. Sadikin melalui virtual conference pada acara Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2023 yang diadakan di Semarang, Jawa Tengah (16/06) mengatakan, "Dalam hal ini, peran asupan gizi itu penting sekali, mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga Lansia, pola makan dan pola gizinya harus diatur,"
Dikutip dari laman Kemenkes, upaya untuk merealisasikan Transformasi Layanan Primer tentang mengatasi masalah gizi di Indonesia yaitu dengan meningkatkan layanan promotif dan preventif yang lebih terarah di seluruh masyarakat Indonesia agar kualitas kesehatan pun menjadi jauh lebih baik.
- Berita Terkait: Mahasiswa Farmasi Unair Mencetuskan Pengobatan Kanker Payudara Dengan Metode Daun Pepaya
- Berita Terkait: NOSTEO dan NOKILIR Diresepkan Dokter Ahli Ortopedi Indonesia
- Berita Terkait: 4 Manfaat Buah Srikaya untuk Kesehatan
Dalam hal ini, peran ahli gizi sangat diperlukan untuk dapat mengedukasi masyarakat agar dapat mengatur pola hidupnya dan mengubah paradigma masyarakat untuk dapat menjaga kesehatannya.
"Karena saya percaya bahwa kalau kita melakukan intervensi yang lebih terarah di layanan primer atau promotif dan preventif, beban kesehatan atau kualitas kesehatan kita akan jauh lebih baik," tutur Menkes Budi.
Perubahan paradigma kesehatan perlu dilakukan, bukan bagaimana caranya menyembuhkan orang sakit, tetapi lebih ke mencegah orang menjadi sakit.
"Tolong bantu pemerintah untuk bisa membantu mengedukasi masyarakat untuk hidup sehat dengan berperilaku makan yang baik, mulai dari bayi yang kita tahu ada masalah stunting dan juga Lansia yang makannya memang harus terukur agar penyakitnya tidak keluar semua, mulai dari kanker, diabetes, dan gula yang akhir-akhir ini naik," ucapnya.
Saat ini sudah hampir 100 ribu antropometri modern disebar luaskan ke 300 ribu Posyandu kabupaten atau kota di Indonesia, yang diupayakan sebagai langkah mencegah stunting. Jadi, jika berat badan Balita saat ditimbang tidak naik atau turun harus segera diintervensi dengan penambahan makananan yang baik terutama protein hewani, jangan sampai masuk ke level stunting atau gizi kronis agar penyembuhannya bisa cepat.
Masyarakat juga harus secara rutin mengecek kesehatan, minimal di Puskesmas terdekat agar terhindar dari diabetes yang bisa menyebabkan penyakit lebih parah seperti stroke, jantung, dan kanker. Selain itu, diimbangi juga dengan mengatur pola makan dengan tidak banyak makan gula.
Ketua Umum DPP PERSAGI Rudatin SSt. MK, SKM, M.Si mengatakan dalam rangka menyongsong bonus demografi, harus memastikan anak-anak tetap sehat dengan IQ tinggi. Melakukan pola hidup sehat, memakan makanan bergizi seimbang sesuai dengan umur, dan kondisi fisik.
"Mari kita kembangkan mereka membiasakan makan makanan bergizi dengan bahan pangan lokal," ungkap Rudatin. Redaksi JamuDigital.Com








