Membeber Industri Jamu Era New Normal
Tanggal Posting : Kamis, 11 Juni 2020 | 02:46
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 699 Kali
Membeber Industri Jamu Era New Normal
UGM adakan Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia.

JamuDigital.Com- MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta akan membeber sejumlah persoalan industri Jamu pada era new normal dengan mengadakan FGD Seri 2, menampilkan tiga narasumber, yang dilaksanakan pada Kamis, 11 Juni 2020.

Focus Group Discussion (FGD) Seri 2 dengan tema: "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia", menampilkan narasumber:  1. Ivana Lucia (Ketua GP. Jamu Jawa Tengah), topik: Tantangan yang Dihadapi Industri Jamu dalam Launching Produk Baru. 2. Drs. Bambang Priyambodo, Apt (PT Air Mancur), topik: Masalah Perijinan Obat Tradisional. 3. Dr. Bondan Ardiningtyas, M.Sc., Apt (PT Swayasa Prakarsa), topik: Tantangan Hilirisasi hasil Penelitian Obat Tradisional di Perguruan Tinggi.

FGD virtual ini akan dipandu oleh moderator: Dr. dr. Setyo Purwono, M.Kes., Sp.PD.  (Fakultas Kedokteran-Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM).

Berita Terkait:

Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes., Direktur Direktorat Penelitian UGM dalam dokumen yang dikirim kepada Redaksi JamuDigital.Com menyebutkan bahwa sebagai salah satu stakeholder dalam pengembangan OT (Obat Tradisional), sektor industri memegang peranan penting terhadap hilirisasi produk OT.

Hal ini tidak lepas dari potensi yang sangat besar dimiliki oleh industri jamu Indonesia karena menempati urutan keempat sebagai produsen jamu setelah China, India, dan Korea. Nilai penjualan jamu di dalam negeri setiap tahunnya mencapai Rp. 20 triliun. Sedangkan untuk ekspor terdapat  sekitar Rp. 16 triliun dari total penjualan herbal dunia USD60 miliar setiap tahun.

Di dalam menjalani perannya pada pengembangan OT, industri juga tidak lepas dengan adanya kendala dan permasalahan. Beberapa kendala seperti perizinan, permodalan,  sumber daya manusia (SDM), ketersediaan bahan baku, kesulitan penerapan CPOTB, gempuran obat herbal impor, turunnya daya beli masyarakat, sampai dengan stigma Jamu yang identik dengan kekunoan hanya diminum orang-orang tua.

Pengembangan Fitofarmaka juga mengalami kendala karena membutuhkan dana investasi yang tinggi sehingga hanya mampu dikerjakan oleh industri besar. Besarnya biaya uji praklinis dan klinis membuat harga Fitofarmaka menjadi melonjak sehingga menjadi tidak populer di tengah masyarakat.

Bagaimana serunya FGD 2, Direktorat Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini berlangsung? Simak beritanya hanya di Media Online JamuDigital. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: