![]() |
| Membangun kejayaan baru Jalur Rempah Indonesia melalui penguatan ekosistem pengobatan tradisional. |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Awal tahun 2023, BPOM meluncurkan gerakan "Membangun Kejayaan Baru Jalur Rempah Indonesia" untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan rempah lokal menjadi produk obat tradisional, kosmetik, dan pangan olahan berkualitas.
Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri rangkaian kegiatan pada Festival Wariga Usadha Siddhi: Membumikan Sistem Perhitungan Waktu dan Keunggulan Ilmu Pengobatan Bali, di Taman Baca Sanggingan, Ubud pada Selasa, 11 Juli 2023.
Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud ini bertujuan membumikan wariga dan usadha agar makin lestari, maju, dan berkembang, serta memberikan manfaat yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat Bali, nusantara, dan juga dunia.
Penny K. Lukito menjelaskan bahwa pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan guna meningkatkan kemandirian sediaan farmasi nasional, termasuk obat tradisional.
"Hingga saat ini, lebih dari 11.000 jamu, 81 produk obat herbal terstandar (OHT), dan 22 produk fitofarmaka berbahan alam berbasiskan uji klinik terdaftar di BPOM," ujar Kepala BPOM kepada hadirin.
BPOM juga telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka pada tahun 2018. Hingga saat ini, Satgas telah mendampingi 22 penelitian obat herbal, yaitu 10 penelitian pada tahap uji klinik dan 12 penelitian pada tahap uji praklinik. Selain itu, BPOM juga mendampingi 97 penelitian obat herbal lain.
Dalam mendorong pengembangan obat bahan alam, sejak tahun 2021, BPOM telah menginisiasi kegiatan penggalian informasi/jejak empiris kearifan lokal dalam rangka pelestarian jamu nusantara menjadi OHT dan fitofarmaka berdaya saing global dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
BPOM senantiasa proaktif dalam memberikan pembinaan bagi UMKM obat tradisional agar dapat membangun kapasitasnya secara berkelanjutan. BPOM telah menerapkan kemudahan perizinan melalui simplifikasi persyaratan dan prosedur, cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) bertahap, dan insentif keringanan biaya perizinan bagi UMKM, serta percepatan timeline sertifikasi CPOTB dan registrasi produk.
"Saya berharap inisiasi ini turut bergulir di Bali, khususnya untuk turut mendukung pelestarian usadha. BPOM dengan tangan terbuka siap mendampingi pelaku usaha usadha di Bali untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas obat tradisional," tukas Penny sebagaimana dikutip di laman web Badan POM.
Terkait pengembangan obat bahan alam ini, Kepala BPOM menegaskan perlu adanya pembangunan ekosistem pengembangan obat tradisional berkualitas tinggi dan berdaya saing global dengan tetap menjunjung nilai-nilai kearifan lokal.
Penny K. Lukito yakin Provinsi Bali sangat potensial menjadi pelopor perpaduan pengobatan tradisional dan pariwisata, diikuti dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali yang memasukkan pelayanan pengobatan tradisional integrasi dan pembangunan obat herbal Bali ke bidang program prioritas 2018-2023.
Hal ini juga didukung dengan penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan dan pariwisata di Sanur oleh pemerintah pusat. Pembangunan KEK ini diharapkan dapat membuka peluang-peluang baru untuk melestarikan pengobatan tradisional Bali secara lebih luas, di samping pelayanan kesehatan modern bertaraf internasional. Redaksi JamuDigital.Com








