Kolaborasi Seminar On Natural Product di IPB
Tanggal Posting : Sabtu, 3 November 2018 | 07:22
Liputan : Redaksi - Dibaca : 677 Kali
Kolaborasi Seminar On Natural Product di IPB
Pembicara dan peserta Seminar On Natural Product di IPB, 1 November 2018.

JamuDigital.Com. Kolaborasi World Class Professor Program Scheme A proudly presents Seminar On Natural Product, menampilkan para pakar dibidangnya, yaitu: Prof. Eiichiro Fukusaki (Osaka University, Japan), Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha (Bandung Institute of Technology, Indonesia), Prof. Dr. dr. H.M.T. Kamaluddin, MSc. SpFK (Sriwijaya University, Indonesia), Dr.Kholis Abdurachim Audah, Ph.D (Vice Director of Research Swiss German University), Dr. Siti Sa’diah, MSi., Apt. (FKH-IPB: Trop BRC IPB, Indonesia) Dr. Waras Nurcholis, SSi., MSI. (Biokimia FMIPA-IPB, Indonesia).

Sebuah kolaborasi dari para peneliti dan akademisi yang memiliki perhatian yang besar terhadap produk-produk herbal, khususnya untuk pengobatan. Acara ini berlangsung pada 1 November 2018, di Auditorium FKIP-IPB, Bogor, dilaksanakan oleh PERHIPBA (Perhimpunan Peneliti Bahan Alam), RISTEKDIKTI, dan TROP BRC-IPB.

Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha menyampaikan materi yang berkaitan dengan "The Potency of Mushroom As Nutraceutical." Prof. Dr. dr. H.M.T. Kamaluddin, MSc. SpFK menyampaikan materi ‘Strategi Obat Tradisional di Fasilitas Pelayanan kesehatan."

Dr.Kholis Abdurachim Audah, Ph.D. menyampaikan materi "Development of Extract Library is Necessary to Aceelerate Drug Discovery Processes." Dr. Siti Sa’diah, MSi., Apt. menyampaikan materi "Aktivitas Toksoplasma dari Bahan Alam." Sedangkan Dr. Waras Nurcholis, SSi., MSI. menyampaikan materi "Pengembangan Bahan Baku Temu Ireng Sebagai Obat Bahan Alam."

Prof. H.M.T. Kamaluddin menilai sebenarnya obat herbal sangat potensial di masa mendatang. Karena 30.000 spesies dari 40.000 spesies yang ada di dunia, terdapat di Indonesia.

Dari potensi ini masih banyak uang yang dapat dihasilkan dengan cara bekerjasama dengan pemerintah, industri dan sebagainya. Dan juga harus mengikuti regulasi pemerintah, agar tidak menyimpang dalam pengembangan obat herbal.

Namun, memang masih ada kendala, seperti masih banyak sejawat sesama dokter yang masih enggan menggunakan obat tradisional.

Jika kita melihat di seluruh dunia, lanjut Prof Kamaluddin, rata-rata penduduknya mengakui bagus terhadap produk herbal, bahkan berkhasiat. Dan di Indonesia sendiri, hasil riset kesehatan dasar bahwa bahan herbal ini diminati.

Dari beberapa kesepakatan, melihat bahwa obat herbal itu dilihat bukan dari khasiatnya dulu, tetapi keamanannya. Semoga obat herbal dapat diterima di kalangan kedokteran dan masyarakat pada umumnya. Dengan adanya obat herbal yang sudah diuji klinik dan uji pra klinik.

Dan sebagai tantangan kita bersama, bagaimana obat herbal ini dapat masuk ke dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Walaupun sekarang, sudah ada obat herbal yang masuk kedalam pelayanan tingkat pertama, seperti di Puskesmas-Puskesmas.

Simak artikel dari pembicara lain, hanya di: www.jamudigital.com. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: