Hilirisasi Riset Herbal dan Kepastian Pemanfaatan di Yankes
Tanggal Posting : Selasa, 7 Juli 2020 | 08:55
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 619 Kali
Hilirisasi Riset  Herbal dan Kepastian Pemanfaatan di Yankes
Webinar Hilirisasi Tanaman Obat pada Masa Tatanan Hidup Baru pada Senin, 6 Juli 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pandemi COVID-19 membawa hikmah, salah satunya yaitu semangat memberdayakan potensi sumber daya alam Indonesia, melalui percepatan hilirisasi riset herbal dan pentingnya adanya kepastian pemanfaatan di pelayanan kesehatan secara nasional.

Regulasi yang mengatur produk herbal yang dihasilkan dari program hilirisasi hasil riset tanaman obat dengan berbagai uji pra klinis dan uji klinis untuk digunakan dalam sistem Pelayanan Kesehatan sangat diperlukan, agar program hilirisasi riset herbal mendapat kepastian pemanfaatannya, untuk mendorong kemandirian dengan menggunakan produk herbal Indonesia.

Demikian antara lain benang merah dari Webinar Herbal Series Ke-6 yang dilaksanakan oleh ILUNI PDIB FKUI & PDHMI dengan tema: "Hilirisasi Tanaman Obat Indonesia di Masa Tatanan Hidup baru", pada Senin, 6 Juli 2020.

Dipandu oleh moderator, dr. Sonia Wibisono, webinar ini menampilkan Keynote Speaker: Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, DFM, SH, M.Si, Sp.F(K), Ketua Umum PPKESTRAKI (Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia), dengan membahas "Mengatasi Kendala Hilirisasi Obat Tradisional."

Dua narasumber yang tampil adalah:

  • Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes, MHKes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan RI, yang mempresentasikan makalah dengan topik: "Kebijakan Pemanfaatan Obat Tradisional oleh Tenaga Kesehatan dan Masyarakat."
  • Prof. Dr. dr. Purwantyastuti Ascobat, M.Sc., Sp.F(K), Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI-RSCM, dengan memaparkan topik: "Percepatan Uji Klinis Tanaman Obat di Masa Pandemi."

Sebagai pembahas yang tampil di sesi terakhir, yaitu Pimpinan Dexa Group, Ferry Soetikno mengungkapkan perlunya fokus terhadap hilirisasi hasil riset untuk bersama-sama membangun ekosistem- menggunakan berbagai biodiversitas Indonesia. Hasil riset yang sudah berkali-kali melewati uji pra klinik dan uji klinik, kini sudah siap dipakai oleh pasien. Pentingnya untuk setiap yang kita miliki, kita gunakan dan disampaikan tadi sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

"Jadi bangsa ini, patut memberikan apresiasi dan semangat atas segala upaya dan resources yang kita gunakan. Apalagi di era COVID-19 ini. Kami PT Dexa Medica sudah menghasilkan lima Fitofarmaka, hasil resources yang kami lakukan menghasilkan bioactive fraction yang sangat selektif," ungkap Ferry Soetikno.

Prof Tuti dan Dr. Ina

Keterangan Foto: Prof. Dr. dr. Purwantyastuti Ascobat, M.Sc., Sp.F(K), dan Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes, MHKes, saat tampil pada webinar yang diikuti lebih dari 1.000 peserta.

Prof. Dr. Agus Purwadianto dalam akhir presentasinya menyimpulkan bahwa Kebijakan hilirisasi Jamu sebagai model kesehatan tradisional memerlukan telaah regulasi dan sejarah implementasiya di bidang Yankes. "Konsistensi Etikolegal mensinergikan Fasyankestrad di sisi hilir dengan praktik, praktisi dan produk Jamu berbasis konsep 3P (Practices, Product, Provider) + 1P (Patient/Public) (WHO RoadMap 2014-2023), ditunjang dengan Saintifikasi, program Ikonisasi berparadigma sehat dalam SisKestraindo, sebagai bagian dari SKN, akan berhasil jika kita mampu mengatasi kendala perspektif, filosofis, sosiologis dan teknisnya," pungkasnya.

Berita Terkait: Daftar OMAI Tahun 2020

Dr. dr. Ina Rosalina menuturkan bahwa prinsip kerja pemanfaatan herbal ada tiga, yaitu: Merevitalisasi Fungsi Tubuh, Tubuh dapat bekerja secara optimal, Kemampuan tubuh dalam beradaptasi terhadap lingkungan menjadi baik. Sedangkan pemanfaatan herbal, berdasarkan: Empirical Based (sediaan segar, sediaan modern), dan Evidenced Based (sediaan modern kategori OHT dan Fitofarmaka).

Pemanfaatan Obat Tradisional: Oleh masyarakat (sediaan segar, Jamu, OHT, Fitofarmaka), Oleh Tenaga Kesehatan (OMAI-Obat Modern Asli Indonesia, kategori OHT dan Fitofarmaka)- dan perlu terus adanya edukasi untuk promotif dan preventif.

"Jadi sekarang ini, kami di Kementerian Kesehatan membuat tim untuk membuat penelitian terintegrasi dengan lintas Kementerian dan lintas sektor, apakah obat/herbal ini dapat untuk mengobati COVID-19 itu masih dalam penelitian.  Intinya untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita sudah tahu semua, tapi untuk mengobati masih dalam ranah penelitian," tuturnya saat sesi tanya jawab.

Tentang mengkonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat konvensional, lanjut Dr. Ina Rosalina, sebetulnya tidak ada masalah. Kalau menurut saya, misalnya obat herbalnya tablet A/B/C kemudian habis itu, minum obat konvensional. Sebetulnya, itu punya kerja masing-masing, jadi tidak apa-apa.

Kalau misalnya, kita minum obat diabetes. Nah boleh tidak minum obat diabetes dicampur obat herbal untuk diabetes? Nah itu silahkan saja, karena itu komplemen (membantu). Bukan berarti, obat konvensionalnya, berhenti tetapi herbal saja. Namun itupun, kita harus lihat masing-masing perindividunya. Karena nanti, misalnya ada kelainan ginjal, tentu obat apapun harus hati-hati.

Tetapi untuk diminum bersama, misalnya obat diabetes yang isinya kayu manis misalnya dicampur dengan ramuan atau ekstrak kayu manis obat konvensionalnya minum dan dicampur ini maka ya boleh-boleh saja karena saling membantu.

Setiap obat bebas, semua dokter itu boleh meresepkan. Obat herbal itu masih termasuk obat bebas, jadi dokter boleh saja meresepkan obat herbal. Seperti misalnya obat herbal diabetes Inlacin, dokter boleh saja meresepkan atau misalnya kaplet yang isinya daun katuk untuk ASI, dokter meresepkan boleh-boleh saja.

Hanya kalau di Rumah Sakit atau Puskesmas, ini masuk BPJS tentu obat tersebut harus mengacu pada formularium rumah sakit, agar dibayarkan oleh rumah sakit. Tapi sebetulnya, kalau dokternya meresepkan di tempat praktek mandirinya, itu boleh-boleh saja...silahkan.

Karena untuk mengobati COVID-19 belum ada, yang penting daya tahan tubuh kita harus tetap kuat. Daya tahan tubuh yang kuat seperti apa, yaitu PHBS. Selain olahraga, makan yang bergizi- yang mengandung banyak vitamin A, C, D, juga minum ramuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, baik yang empiris atau yang sudah di uji pra klinik/uji klinik, Dr. Ina Rosalina menjelaskan.

Prof. Dr. Purwantyastuti Ascobat menuturkan bahwa uji klinik diperlukan sebelum boleh diguankan pada manusia, harus ada data keamanan dan kemungkinan manfaat.  Pertimbangan manfaat-resiko seblum uji klinis (masalah etik), ada kajian etik lebih dulu, BPOM menimbang manfaat dan mudarat bagi rakyat banyak, bila produk hasil uji klinik akan dipasarkan.

Ada dua jalur herbal menuju uji klinik menjadi fitofarmaka: Jalur Jamu (obat tradisional sesuai definisi WHO). Jalur herbal ’baru": tidak ada riwayat empiris di Indonesia (bagian tumbuhan, cara produksi- ekstraksi, fraksinasi, cara pakai (topical, oral), dosis, indikasi, kombinasi.

Kalau menjadi fitofarmaka harus di uji klinis karen definisi Fitofarmaka sudah diujikan pada manusia. Ada kaidah-kaidah ilmiah yang harus diikuti. Tetapi kalau dijual sebagai produk jamu ya boleh-boleh saja, itu bagian dari budaya. Jamu juga harus memiliki izin edar dari Badan POM, jika dijual dalam bentuk produk Jamu. 

Tetapi Jamu tidak dimintakan bukti, kecuali bukti dalam penggunaan empirisnya. Jadi ada dalam buku-buku zaman dulu. Tapi kalau mau jadi Fitofarmaka  harus diujikan pada manusia. Karena ada kaidah-kaidah ilmiahnya.

"Sampai sekarang, untuk fitofarmaka termasuk obat bebas sampai nanti untuk penyakit tertentu: diabetes atau darah tinggi, itu sebenarnya harus melalui apotek atau dokter, karena ada cara-cara pemakaian. Seperti obat hipertensi, kalau nanti minumnya banyak-banyak akan hipotensi. Jadi tidak bisa dipakai sembarangan," Prof Tuti mengingatkan.

Ferry Soetikno

OMAI Dalam Sistem JKN

Ferry Soetikno yang tampil pada sesi terakhir mengatakan bahwa Dexa Medica mengucapkan banyak terimakasih atas kesempatan ini, karena kita memang bersama-sama, sebagai suatu ekosistem membangun keyakinan bahwa kita dapat menggunakan berbagai macam biodiversitas yang kita miliki.

Kita sudah mulai mendengar, bahwa ada puluhan ribu biodiversitas di Indonesia. Tapi mungkin sekarang, saya ingin mengajak bapak/ibu semua fokus terhadap hilirisasi hasil riset sesuai topik utama hari ini.

Jadi apa yang sudah dilakukan riset berkali-kali dan melewati uji pra klinik dan uji klinik dan sebagainya itu, sudah siap dipakai oleh pasien dan masyarakat. Jadi yang tadi berkali-kali saya lihat, bahwa 25 Fitofarmaka sudah melewati uji klinik dan pra klinik.

Dan kita setuju, bahwa uji klinik itu mahal dan sulit. Saya kira Prof. Tuti tahu hal ini. Dan ternyata, kita sudah berhasil. Untuk itulah, saya mengingatkan pada 9 September 2004 di kantor Badan POM, STIMUNO mendapatkan sertifikat Fitofarmaka, pada hampir 16 tahun yang lalu.

Berita Terkait: OMAI Mengangkat Kearifan Lokal 

Jadi bangsa ini patut memberikan apresiasi dan semangat, lanjut Ferry Soetikno, atas segala upaya dan biaya maupun resources yang kita gunakan, dan tidak menyebabkan kita ragu. Dan apalagi di Era COVID-19 yang urgent ini. Kami dari PT Dexa Medica sudah menghasilkan lima Fitofarmaka, dan hasil resources yang kami lakukan menghasilkan bioactive fraction yang sangat selektif.

Misalnya tadi Dr. Ina mengatakan Inlacin untuk diabetes melitus, 100 mg per kapsul per hari. Ini sangat penting, bahwa kita bisa melihat Inlacin 100 mg per kapsul ini kapsulnya ukuran nomor tiga- sangat kecil dan mengandung bioactive fraction dari kulit Kayu manis dan juga dari Bungur. Kemudian saya kira, kita juga melihat bahwa pentingnya setiap yang kita miliki ini, kita gunakan dan disampaikan tadi sebagai Obat Modern Asli Indonesia.

Jadi kata-kata obat ini penting, tadi sudah dijelaskan Dr. Ina, kita tidak hanya komplementer seperti yang dijelaskan Dr. Ina, tetapi juga kita dpat untuk substitusi. Nah pada saat substitusi ini, saya harus berbagi kepada bapak/ibu sekalian, kita sangat tergantung pada bahan baku obat yang kita impor.

Tapi alangkah bersyukurnya kita, kalau kita dapat menggunakan bahan baku Obat Modern Asli Indonesia dari bumi Indonesia sendiri. Dan tidak kalah pentingnya, kita mempunyai kapasitas produksi yang besar, sehingga kita tidak perlu kecil hati, kalau sampai kita harus membuat dari bahan alam Indonesia.

Untuk itulah, dalam keadaan COVID-19, begitu banyak urgent yang timbul. Mari kita gunakan apa yang sudah kita miliki. Itu adalah yang kita gunakan terlebih dahulu dan kita mengutamakan hal itu. Jadi untuk itulah, saya mengharapkan OMAI menjadi bagian di dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Kenapa kita masih ragu? Ini adalah pertanyaan kita bersama dan tantangan kita bersama.

Dan yang penting juga, kita bersama-sama melakukan sosialisasi, pembelajaran mengenai OMAI, agar kita semakin yakin, semakin mantab dalam menggunakan OMAI di negeri sendiri. Itulah harapan kami dan agar proses ini berjalan terus, tapi kita selalu ingat kita dalam keadaan urgent dan sangat-sangat cepat untuk menghasilkan kemandirian bangsa dalam bahan baku obat dari alam Indonesia, Ferry Soetikno mengakhiri bahasannya. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: