![]() |
| Spondilosis servikal adalah suatu penyakit yang umumnya menyerang usia dewasa dan usia lanjut. |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Bonus demografi yang dialami hampir di seluruh negara, menimbulkan makin banyaknya penderita pengapuran tulang, termasuk pengapuran tulang leher atau dikenal sebagai Spondilosis Servikal.
Selain faktor genetika, banyak penyebab terjadinya pengapuran pada tulang, atau lebih khususnya pada tulang di leher.
Spondilosis servikal adalah suatu penyakit yang umumnya menyerang usia dewasa dan usia lanjut. Penyakit ini disebabkan ausnya jaringan-jaringan tulang di leher, yaitu memburuknya fungsi sendi dan tulang punggung pada leher karena penuaan.
Biasanya seiring lanjutnya usia, diskus dan tulang belakang di leher mengalami kemunduran (degenerasi). Pada orang lanjut usia, daerah tulang punggung dan tulang rawan servikal makin lama makin lemah.
Berikut ini artikel berjudul "Spondilosis Servikal PENGAPURAN PADA LEHER & Penanganannya", yang dimuat pada Media Ortopedi, Edisi 08 Tahun 2017:
1.Sebanyak 90% Usia Diatas 60 Tahun Rentan Pengapuran Tulang Leher
Diperkirakan sembilan puluh persen orang-orang yang telah berusia 60 tahun ke atas mengalami masalah ini.
Meskipun penyakit ini paling umum pada orang lanjut usia, namun orang lain bisa mengalami penyakit ini jika memiliki risiko tertentu.
Penyebab Salah satu bagian dari tulang leher ada yang dinamakan dengan cakram atau piringan sendi. Cakram sendi ini berfungsi sebagai bantalan di antara ruas-ruas tulang leher.
Spondiosis servikal bisa terjadi apabila cakram sendi mengalami penyusutan, sehingga ruas-ruas tulang kurang terlindungi dan lebih sering bersentuhan, atau cakram sendi mengalami penggelembungan (herniasi) sehingga sumsum dan saraf tulang belakang dapat menjadi tertekan.
- Berita Terkait: 5 Cara Menjaga Tulang, Otot, dan Sendi, Agar Sehat Hingga Hari Tua Nanti
- Berita Terkait: NOSTEO dan NOKILIR Diresepkan Dokter Ahli Ortopedi Indonesia
- Berita Terkait: 7 Manfaat Buah Srikaya untuk Kesehatan
Selain itu, spondilosis servikal juga bisa terjadi akibat adanya kekakuan pada ligamen leher dan akibat produksi tulang baru yang berlebihan
Tubuh dapat memproduksi tulang baru di bagian pinggir tulang vertebra. Bentuk produksi tulang baru ini adalah respons alami tubuh dalam memperkuat tulang belakang akibat cakram sendi yang telah mengalami degenerasi.
Pertumbuhan ini juga dapat berakibat sumsum dan saraf tulang belakang dapat menjadi tertekan.
Selain karena faktor usia, spondilosis servikal juga berisiko tinggi terjadi pada orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok, sering menggerakkan leher, pernah mengalami cedera leher, atau memiliki pekerjaan dengan tingkat tekanan pada leher yang tinggi.
Pekerja kuli panggul adalah orang-orang yang berisiko tinggi terkena kondisi ini. Bahkan pada kasus yang jarang terjadi, spondilosis servikal dapat dipicu oleh faktor keturunan.
2.Komplikasi Jika Terjadi Pengapuran Tulang Leher
Spondilosis servikalis menyebabkan menyempitnya kanal spinalis (tempat lewatnya medula spinalis) di leher dan menekan medula spinalis atau akar saraf spinalis, sehingga menyebabkan kelainan fungsi.
Gejalanya dapat menggambarkan suatu penekanan medula spinalis maupun kerusakan akar sarafnya.
Gejala Spondilosis servikal menimbulkan gejala umum berupa nyeri leher dan kepala. Meskipun gejala spondilosis servikal umumnya tidak terasa, sekitar sepuluh persen penderitanya mengalami nyeri leher kronis.
Selain nyeri leher dan kepala, pada kasus yang jarang terjadi spondilosis servikal juga dapat menimbulkan gejala nyeri, kesemutan, dan mati rasa pada bagian lengan, kesemutan dan mati rasa pada bagian kaki, gangguan koordinasi, bahkan kesulitan berjalan.
3.Tidak Memiliki Gejala yang Jelas
Sebagian besar spondilosis servikal tidak memiliki gejala yang jelas. Jika memang ada, gejalanya termasuk:
- sakit pada leher, bahu, lengan, tangan, dan jarijari
- lengan melemah
- mati rasa dan kesemutan pada lengan, tangan, dan jari-jari
• sakit leher
Gejala yang lebih jarang muncul meliputi:
- Kehilangan keseimbangan
- Pusing
• Disfungsi kantong kemih yang menyebabkan tidak bisa berhenti buang air kecil.
Jika terjadi penekanan medula spinalis, maka pertanda awalnya biasanya adalah perubahan pada cara berjalan. Gerakan kaki menjadi kaku dan penderita berjalan dengan goyah.
Leher terasa nyeri, teutama jika akar sarafnya terkena. Kelemahan dan penciutan otot pada salah satu atau kedua lengan bisa terjadi sebelum maupun sesudah timbulnya gejala penekanan medula spinalis.
4.Kondisi Dapat Memburuk
Pada penyakit ini, tulang dan tulang rawan leher memburuk secara perlahan, ditandai dengan:
- Cakram leher yang bertugas mengatur dan menjadi pelumas antar vertebrae mengecil dan mengering karena dehidrasi
- Cakram tulang mengalami pembesaran
• Tulang punggung dan saraf mencondong karena perkembangan tulang
Diagnosis Apabila seseorang terutama berusia 50 tahun ke atas merasakan gejala-gelala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Pemeriksaan sangat penting untuk mengetahui kemampuan pergerakan leher atau refleks tangan dan kaki untuk mengetahui adanya kerusakan saraf akibat penyempitan tulang belakang.
5.Langkah Pemeriksaan dan Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosa supaya penanganannya tepat, dokter akan melakukan beberapa kali pemeriksaan bila diperlukan.
Diantaranya pemeriksaan X-ray untuk mengetahui karakteristik spondilosis servikal. Kemudian pemeriksaan MRI dan CT scan apabila gejala yang muncul parah atau apabila dokter mencurigai pasien mengalami mielopati.
MRI dapat membantu menunjukkan lokasi penyempitan kanalis spinalis, beratnya penekanan dan penyebaran akar saraf yang terlibat.
Selain itu ada pemeriksaan Elektromiografi (EMG) untuk mengetahui seberapa baik fungsi saraf dan otot leher, terutama bila dokter mencurigai pasien terkena radikulopati servikal atau mielopati.
Pemeriksaan ini biasanya dipadukan dengan pemeriksaan konduksi saraf. Pengobatan Apabila gejala spondilosis servikal masih tergolong ringan, penderita dapat mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit golongan Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS) yang dijual bebas di apotek, misalnya ibuprofen, diclofenac, dan naproxen.
6.Pemakaian Obat-Obatan Secara Rasional
Baca selalu resep dan aturan pakai yang tertera pada kemasan sebelum menggunakannya. Sangat perlu diingat bahwa obat-obatan ini mungkin kurang cocok dikonsumsi oleh penderita tukak lambung, asma, hipertensi, dan gangguan jantung.
Apabila gejala spondilosis servikal masih belum reda setelah minum obat-obat tersebut, dianjurkan untuk menemui dokter.
Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu, yaitu Codeine guna mengatasi rasa nyeri yang lebih parah, Amitriptyline yang merupakan obat antidepresi dan bisa mengatasi nyeri saraf.
Kemudian ada Gabapentin untuk mengatasi kesemutan dan nyeri pada lengan akibat iritasi pada akar saraf, Steroid suntik untuk mengobati nyeri akibat peradangan akar saraf, serta Diazepam untuk pelemas otot.
Kelainan fungsi pada medula spinalis akibat spondilosis servikalis bisa membaik tanpa pengobatan atau akan bertambah buruk. Pada awalnya dianjurkan untuk menggunakan neck collar yang lembut, penarikan leher, obat anti peradangan, obat pereda nyeri yang ringan serta pengendur otot.
Jika keadaan semakin memburuk atau jika hasil pemeriksaan MRI menunjukkan penekanan yang berat, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengurangi gejala.Tetapi pembedahan tidak dapat mengembalikan perubahan yang telah terjadi karena beberapa saraf pada medula spinalis mengalami kerusakan yang menetap.
7.Prosedur Operasi, Jika Harus Dilakukan
Umumnya prosedur operasi pada kasus spondilosis servikal tidak dapat memulihkan kondisi penderita hingga seratus persen, melainkan bertujuan mencegah gejala tidak memburuk.
Prosedur operasi biasanya dilakukan pada kasus nyeri yang tidak bisa diatasi oleh pengobatan apa pun, adanya kerusakan pada sistem saraf, radikulopati servikal yang mana cakram sendi atau tulang menjepit saraf, dan pada kasus mielopati servikal.
Beberapa jenis operasi yang bisa dilakukan, di antaranya prosedur laminektomi untuk membuang bagian tulang yang menekan sumsum tulang belakang, prosedur disektomi untuk menyingkirkan bagian tulang osteofit atau cakram sendi yang mengalami masal enggantinya dengan tulang pengganti atau plat logam.
Ada pula jenis operasi penggantian cakram sendi secara total dan menggantinya dengan cakram sendi buatan.
Pencegahan Penderita spondilosis servikal yang masih dalam kategori ringan bisa disarankan melakukan terapi penyembuhan sendiri di rumah. Banyak kegiatan yang bias dilakukan secara mandiri.
8.Upaya untuk Mengurangi Dampak Negatif
Adapun kebiasaan di rumah yang dapat dilakukan adalah:
1. Menghentikan sementara penggunaan kalung dan baju berkerah karena dapat memperburuk gejala.
2. Memperbaiki postur tubuh saat duduk atau berdiri.
3. Memakai bantal padat saat tidur untuk mengurangi ketegangan di leher
4. Cukup beristirahat
5. Batasi pergerakan leher
6. Latihan menggerakkan leher
7. Pertahankan postur tubuh yang baik saat duduk, berdiri maupun berjalan
8. Kurangi risiko cedera tulang punggung servikal
9. Hindari melakukan olah raga yang menyebabkan kondisi ini
10. Berolahraga secara teratur seperti jalan santai atau berenang.
11. Pertahankan berat badan ideal. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/male-female/pr-4463746519/8-kunci-penanganan-spondilosis-servikal-pengapuran-leher-komplikasi-ancam-tidak-mampu-berjalan ). Redaksi JamuDigital.Com








