![]() |
| Kekuatan potensi jamu di Bantul ditetapkan sebagai inovasi daerah oleh Dinas Kesehatan yakni Seroja, atau Sehat Ekonomi Meningkat Karo Jamu. |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Mewarisi produk budaya tidak harus sama seperti sedia kala. Masyarakat Kiringan mengombinasikan inovasi serta teknologi untuk membawa jamu semakin berdaya di rumah lahirnya.
Dari tahun 1947 sampai berpuluh-puluh tahun ke depannya, penjualan masih tradisional dan belum ada pembentukan kelompok. "Kamudian pada 2007, dari dinas meminta kami membentuk kelompok secara resmi berbadan hukum. Biar punya izin dan terdata. Kemudian ada berbagai jenis pelatihan dari berbagai pihak yang masuk ke Kiringan," kata Murjiyati saat ditemui di rumah produksi jamunya di Kiringan, Canden, Bantul, Senin, 4 Maret 2024.
Kelompok koperasi bernama Seruni Putih kemudian lahir pada 23 Maret 2007. Bermula dari bantuan dan juga iuran awal anggota, ada modal sekitar Rp30 juta yang bisa para anggota manfaatkan.
Dilansir dari Harianjogja.com, modal simpan pinjam di koperasi ini bisa anggota gunakan untuk modal dan pengembangan usaha. Tambahan modal dari pihak pemerintah maupun swasta semakin membuat para anggota yang kini berjumlah 132 orang, semakin leluasa mengembangkan usahanya.
- Berita Terkait: Wawancara Khusus Ketum PDPOTJI: Potensi Obat Herbal untuk Ketahanan Kesehatan Nasional
- Berita Terkait: Ketua Umum PDPOTJI: Kemenkes Perlu Mendorong Formularium Fitofarmaka Segera Masuk JKN
- Berita Terkait: Inggrid Tania Presentasikan Herbal Medik di PIT dan Mukernas PDUI
Pihak yang turut membersamai berkembangnya Seruni Putih adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tidak hanya dalam bentuk uang, BRI juga membantu pengadaan mesin giling bahan jamu untuk memudahkan anggota Seruni Putih membuat bahan baku.
Sebelum ada bantuan alat seharga Rp20 juta tersebut, sekali menggiling biayanya bisa mencapai Rp10.000 sampai Rp30.000, tergantung banyak sedikitnya bahan baku jamu. Bantuan juga dalam bentuk pembuatan gapura dusun dan genset untuk kegiatan warga.
Di samping akses tersebut, BRI juga memfasilitasi pelatihan agar anggota Seruni Putih semakin bisa mengembangkan produknya. "Pelatihan juga membuat banyak inovasi dengan produk jamu. Sekarang tidak hanya jamu siap minum, tapi juga ada jamu instan yang bisa bertahan sampai enam bulan. Bisa untuk oleh-oleh atau disimpan lebih lama," kata Murjiyati, yang juga Ketua Seruni Putih. Penjualan saat ini juga merambah pada sistem online, dengan melibatkan anak-anak para anggota.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengatakan bahwa jamu di Kiringan, Canden, Bantul bukan hanya sarana peningkatan kesehatan masyarakat saja, namun juga sebagai motor penggerak ekonomi serta pemberdayaan perempuan di wilayah tersebut.
"Kekuatan potensi jamu di Bantul ini ditetapkan sebagai inovasi daerah oleh Dinas Kesehatan yakni Seroja, atau Sehat Ekonomi Meningkat Karo Jamu. Inovasi ini berhasil masuk ke jajaran TOP 45 Inovasi Publik tingkat nasional," kata Halim, dalam keterangan tertulisnya beberapa waktu lalu.
Memadukan Tradisional dan Modernisasi
Sama seperti generasi di atasnya, Murjiyati juga mewarisi usaha jamu kepada anaknya. Lantaran umurnya yang muda dan lebih ramah teknologi, anak Murjiyati lebih banyak mengurus penjualan secara online.
Perpaduan resep jamu tradisional dengan digitalisasi dan modernisasi membawa dampak positif. Penjualan jamu semakin bisa menjadi tumpuan hidup para pelakunya. Seperti usaha jamu bernama Riski Barokah milik Murjiyati, dalam sehari bisa menjual 80-100 batok jamu langsung minum. Harga per batok sekitar Rp5.000.
Itu belum termasuk penjualan jamu botolan dan instan. Jumlahnya tidak menentu untuk kedua jenis jamu tersebut. Namun jumlahnya cukup banyak, terlebih saat para reseller sedang datang dan mengisi stok dagangan jamu mereka. Harga jamu botolan siap minum senilai Rp5.000 sampai Rp10.000. Sementara untuk jamu instan rata-rata seharga Rp15.000.
Semua jenis jamu hampir merata jumlah penjualannya. Pembeli biasanya memilih jamu sesuai kebutuhan dari khasiat masing-masing jamu. Tidak ada jenis jamu yang penjualannya jomplang, hampir semuanya merata.
Dengan terus berprogres untuk masing-masing anggota, kemudian saling menguatkan dalam internal Seruni Putih, Murjiyati berharap warisan budaya jamu ini bisa semakin lestari sampai anak cucunya.
Terlebih saat ini jamu tidak hanya minuman para orang tua. Pelanggan Murjiyati berasal dari semua kalangan, dari tua sampai muda. "Anak muda banyak yang beli. Anak muda semakin sadar pentingnya jamu untuk kesehatan. Tidak ada bahan kimia atau pengawet, jadi sehat," tutupnya. Redaksi JamuDigital.Com








