![]() |
| Literasi pemanfaatan obat tradisional bahan alam Indonesia perlu diberikan sejak dini pada generasi milineal saat ini sebagai muatan lokal. |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sebenarnya di Indonesia sudah banyak penelitian etnomedicine, namun hasilnya terpencar-pencar, maka perlu dipikirkan membangun Portal Database Nasional Ramuan Obat Tradisional dari alam Indonesia.
Embrio sudah ada sejak 2014, saat dibangun sistem jamu digital repository, namun program ini tidak berlanjut sampai saat ini.
Demikian diungkapkan oleh Akhmad Saikhu, MScPH, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kemenkes, saat menjadi Penanggap pada Webinar "Mengenal Jamu Nusantara: Eksplorasi Obat Tradisional Berbahan Alam Indonesia," yang diadakan oleh Badan POM- secara online, pada Rabu, 8 September 2021. Info webinar: Klik Disini
Akhmad Saikhu menambahkan terkait dengan studi etnomedisin, Kementerian Kesehatan melalui B2P2TOOT Balitbangkes mengadakan Riset Tanaman Obat dan Jamu pada tahun 2012, 2015 dan 2017. Ristoja adalah Studi eksplorasi dan inventarisasi kekayaan sumber daya genetik tumbuhan obat dan pengetahuan tradisional tentang pengobatan yang berbasis tanaman di 405 suku/etnis di Indonesia.
Tujuan riset adalah tersedianya database nasional yang memuat pengetahuan Etnofarmakologi, ramuan obat tradisional (OT) dan tumbuhan obat (TO) serta pemanfaatannya berbasis kearifan lokal. Hasil Riset ini menambah khasanah ilmu pengetahuan yang sudah pernah dilakukan oleh banyak peneliti di Indonesia dan menambah keyakinan atas fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan mega-biodiversitas yang tinggi serta kemampuan memanfaatkan tanaman obat sejak jaman dahulu kala.
"Secara singkat pula kami sampaikan bahwa Ristoja telah mencatat adanya 32.014 Ramuan Obat Tradisional berbahan alam Indonesia dan mengidentifikasi 2.848 spesies tanaman obat yang dipergunakan dalam obat tradisional baik dalam bentuk tunggal maupun dalam bentuk ramuan lebih dari satu jenis tanaman obat," jelasnya.
Sebagai pengelola database nasional tersebut, kami merasakan bahwa hasil ristoja ini sudah cukup banyak dimanfaatkan oleh para stakeholder termasuk oleh perguruan tinggi, paling tidak ada 23 perguruan tinggi yang pernah melaksanakan Studi Analisa Lanjut hasil Ristoja. Hasil Ristoja juga dimanfaatkan dalam program penelitian pengembangan fitofarmaka oleh para peneliti B2P2TOOT.
Kandidat tanaman obat yang terpilih ditentukan dengan telaah etnofarmakologi antara lain kalkulasi Nilai Manfaat (Value Use) dan Nilai Fidelitas (Fidelity Level). Program penelitian pengembangan fitofarmaka ini masih berproses dan membutuhkan waktu untuk mencapai output tersebut. Hasil Ristoja berupa specimen herbarium tersimpan dalam Gedung Herbarium Tawangmanguensis dengan koleksi 27.743 herbarium. Untuk meningkatkan jangkauan akses yang lebih luas kepada masyarakat, agar bisa memanfaatkan specimen herbarium tersebut, B2P2TOOT akan menyediakan dalam bentuk informasi digital berbasis web.
- Berita Terkait: Strategi Transformasi Pengembangan Jamu Menghadapi Era Disrupsi
- Berita Terkait: Karpet Merah untuk Kejayaan Obat Herbal Indonesia
- Berita Terkait: Pioner Digitalisasi Jamu

Keterangan Foto: Prof. Dr. Marlina Silalahi, S.Pd, M.Si, Akademisi dari UKI-Jakarta dan Peneliti Etnomedisin.
Menanggapi apa yang dipaparkan tadi, bahwa sebenarnya di Indonesia sudah banyak penelitian etnomedicine yang sudah dilakukan, namun hasilnya masih terpencar-pencar perlu dipikirkan secara bersama membangun suatu portal database nasional khususnya ramuan obat tradisional berbahan alam Indonesia. Embrio sebenarnya sudah ada sejak tahun 2014 ketika dibangun Sistem Jamu Digital Repository, namun sayangnya program ini tidak berlanjut sampai saat ini.
Berdasarkan hasil Ristoja kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
- Pembinaan dan pendampingan batra perlu dilakukan secara sistematis memberikan pemahaman yang lebih baik terkait dengan pemanfaatan dan keamanan, berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan.
- Perlindungan kearifan pengobatan tradisional perlu segera dilakukan karena sebagian besar batra tidak memiliki penerus dan sudah berusia lanjut.
- Ramuan obat tradisional berpotensi secara empiris untuk dimanfaatkan dalam upaya preventif terkait isu strategis kesehatan (pengembangan TOGA).
- Perlindungan terhadap tumbuhan obat yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan jamu, khususnya yang menggunakan akar, batang dan kulit batang, dalam bentuk usaha konservasi.
- Optimalisasi Litbang terhadap kandidat bahan baku obat untuk kemandirian bangsa.
- Mengusahakan agar pemerintah mendaftarkan HKI/Hak cipta atau perlindungan kekayaan/kearifan lokal.
- Kemudahan akses battra terhadap bahan baku.

Keterangan Foto: Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, Akademisi dari Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
Warisan budaya jamu dari nenek moyang sampai generasi milineal perlu dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman, image kuno dan tradisional yang ada selayaknya mendapatkan narasi yang lebih pas sehingga generasi muda menjadi bagian dalam pengkayaan budaya jamu tersebut, modernisasi citarasa boleh saja dikembangkan namun tidak perlu sampai meninggalkan hakekat keamanaan dan manfaat jamu.
Jamu sebagai budaya asli nusantara memiliki sejarah yang sangat panjang bahkan ada bukti sudah ada sejak jaman neolitikum dengan bukti sejarah ditemukan alat pipisan batu yang diduga dipergunakan untuk menggerus daun atau bijian-bijian untuk jamu. Bukti arkeologi tertera dalam relief candi-candi antara lain di Candi Borobudur yang menggambarkan penggunaan ramuan tumbuhan sebagai obat (Kalpataru) dan praktek pijat.
Kajian antropologi menunjukkan bahwa pada zaman kerajaan Majapahit, jamu menjadi minuman kebesaran bagi para bangsawan saat itu. Jamu diracik oleh profesi peracik jamu yang disebut Acaraki. Dalam kajian Filologi jamu tertulis dalam Serat Kawruh bab Jampi- jampi. Dalam Serat ini disebutkan 33 jenis empon-empon yang dipergunakan dalam pengobatan, antara lain: Dringo, jahe, kunyit, kencur, kapulaga, lengkuas, temulawak dan temu-temuan.
Jumlah resep yang menggunakan empon-empon sebanyak 333 resep. Dalam Serat Chentini yang diperkirakan ditulis pada awal abad 19, atau bahkan ada yang menyebutkan jauh sebelum itu, disebutkan adanya ramuan untuk kebugaran tubuh yaitu dengan mengkonsumsi adas, cabe, manis jangan, kadhawung, kencur, ketumbar, merica, mungsi, pala, dan pulasari.
Literasi pemanfaatan obat tradisional bahan alam Indonesia perlu diberikan sejak dini pada generasi milineal saat ini sebagai muatan lokal pada kurikulum pendidikan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa, menumbuhkan minat pada pemanfaatan dan pemeliharaan tanaman obat asli Indonesia.
Sebagian sudah dilaksanakan dengan adanya program TOGA dan Sekolah Adiwiyata (Green School). Kedua program tersebut bertujuan mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dan pemanfataan tanaman untuk kesehatan secara aman, berkhasiat dan berkualitas.
Sebagai penutup, Akhmad Saikhu menuturkan, kami informasikan bahwa pada tahun 2021, B2P2TOOT melaksanakan kajian perilaku pemanfaatan tanaman obat dan jamu pada remaja di Jawa Tengah untuk mendapatkan gambaran ilmiah seberapa jauh minat generasi milenial terhadap jamu, khususnya di Jawa Tengah. Redaksi JamuDigital.Com








