Pengembangan Jamu Melalui Pendekatan Biokultural
Tanggal Posting : Jumat, 26 Juni 2020 | 11:18
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 487 Kali
Pengembangan Jamu Melalui Pendekatan Biokultural
Suasana webinar serial 3 oleh Direktorat Penelitian UGM pada Kamis, 25 Juni 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Kebijakan pengembangan Jamu-Obat Tradisional memerlukan skenario Etikolegal khusus dengan menyinergikan Fasyankestrad, praktik para praktisinya dan produk Jamu berbasis konsep "4P" (Practices, Provider, Patient, Product).  

Pendekatan Biokultural- Jamu sebagai Budaya, kemudian didukung saintifikasi dan ikonisasi sebagai cermin STS (science, technology, society) berparadigma sehat dari hilir ke hulu membangun Kestraindo sebagai bagian dari SKN. Model pendekatan tersebut diharapkan dapat memajukan Jamu di masa datang. 

Demikian antara lain dikemukakan oleh Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, DFM., SH, M.Si.Sp.F (K)- Ketua PP KESTRAKI (Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia) saat menjadi pembicara pada FGD "Kajian Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia", serial ke-3, dengan Sub Tema: "Peran Tenaga Kesehatan dalam Pengembangan Obat Tradisional."

FGD (Focus Group Discussion) yang diadakan oleh Direktorat Penelitian UGM pada Kamis, 25 Juni 2020 dibuka oleh Prof. Dr. Mustofa, Apt, M.Kes, Direktur Direktorat Penelitian UGM. Sebagai moderator: Prof. Dr. Mae Sri Hartati W, Apt, M.Si.

Prof. Drs. Subagus Wahyuono, MSc., PhD (Fakultas Farmasi UGM) sebagai Peneliti Utama pada Kajian ini, pada akhir webinar memberikan apresiasi kepada seluruh peserta  yang sangat suportif, sehingga banyak masukan, temuan, informasi yang dapat dijadikan untuk menyusun kajian.

Berita Terkait: Penguatan Budaya Jamu Era New Normal

Berita Terkait:  OMAI Didorong di Fasilitas Kesehatan 

Prof. Agus Purwadianto menambahkan bahwa gerakan mempromosikan Jamu sebagai IKON oleh semua pelaku budaya dari simbol lokal menjadi kepercayaan internasional/global. Pasca saintifikasi Jamu, setelah atau sambil membangun Siskestraindo sebagai  bagian dari SKN-Sistem Kesehatan Nasional & Ketahanan Nasional lebih tertata dan mantap sebagai Profesi pengusung seinergi Jamu sebagai jangkar pengetahuan budaya & tradisional Republik Indonesia yang terintegrasi.

Basis "obyektivitas" pengobat-pasien/klien diubah menjadi: Intersubyektivitas: pengusung budaya Jamu di semua fasilitas pelayanan kesehatan berparadigma sehat cq penyehat (fasum, perhubungan, pariwisata, birokrasi/perkantoran, sekolah, pesantren/gereja/kuil/vihara)-  masyarakat lokal/global/komunitas khusus- termasuk pengusung gaya hidup, hobi, matra, tantangan, keilmuan).

Pasca UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya sebagai Dasar etikolegal untuk kosakata "Jamu" sebagai entitas tersendiri sebelum RUU Jamu atau Perpres Jamu. Penjelasan dari pengetahuan tradisional sebagai obyek pemajuan budaya. Idem "metode penyehatan" sebagai modalitas penyehat tradisional dengan kontinum upaya saintifikasi dan ikonisasi Jamu- termasuk "penyembuhan secara biokultural"

Kebijakan pengembangan Jamu Cq. obat tradisional, lanjut Prof. Agus Purwadianto, memerlukan skenario Etikolegal khusus dengan menyinergikan fasyankestrad, praktik praktisinya dan produk Jamu berbasis konsep "3P+1P" (WHO ROADMAP 2014 - 2023 plus), dengan saintifikasi dan ikonisasi didukung Gerakan Saintifikasi Jamu sebagai cermin STS (science, technology, society) berparadigma sehat dari hilir ke hulu untuk membangun Kestraindo sebagai bagian dari SKN.

Demikian antara lain yang dikemukakan Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, dan setelah itu semua perserta webinar- seperti daftar dibawah ini, menyampaikan masukan dan informasi yang sangat beragam:

  • dr. Hardi Pranata, Sp.S, perwakilan Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI)
  • dr. Danang Ardianto, perwakilan Balai Bessar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu
  • dr. Inggrid Tania, perwakilan Persatuan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI)
  • Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes, Pakar Herbal Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali
  • Dr. Fanni Fathihah, MARS, Perwakilan RS Holistic Purwakarta
  • Dr. dr. Hj. Anna Khuzaimah, M.Kes, Perwakilan Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat (BKTM)
  • dr. Tjok Dharmayuda, Sp.Pd, Perwakilan RS Sanglah Bali
  • dr Agus Rahmadi, Perwakilan Klinik Sehat, Tangerang Selatan
  • dr. Nafdzu Makhmudatul Muna, Perwakilan RSUD Dr. Soetomo Surabaya Jawa Timur
  • dr. Endang Mahati, Msc.,Ph.D, Perwakilan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Semarang
  • dr. Nizmawardini Yaman, M.Kes, M.Si Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembangan Ilmu Kesehatan Tradisional dan Alternatif Komplementer (PDPKT)
  • Dr. dr. Vivi Kurniati Tjahjadi, M.Si, Perwakilan Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembangan Ilmu Kesehatan Tradisional dan Alternatif Komplementer (PDPKT
  • Karyanto, Founder JamuDigital.

Serial webinar sebanyak tiga kali ini, akan diperdalam dengan wawancara kepada pihak terkait- sebelum ditulis menjadi buku yang diharapkan dapat memberikan masukan yang komprehensif kepada para stakeholders OT untuk pengembangannya yang terintegrasi di masa datang. Redaksi JamuDigital.Com 


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: