Festival Jamu dan Wayang Memeriahkan Acara Jogja Cross Culture
Tanggal Posting : Selasa, 6 Agustus 2019 | 06:10
Liputan : Redaksi - Dibaca : 359 Kali
Festival Jamu dan Wayang Memeriahkan Acara Jogja Cross Culture
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Purwadi saat membuka Jogja Cross Culture 2019, Sabtu, 3 Agustus 2019. Foto: www.tempo.co.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE JAMU INDONESIA. Ribuan warga dan wisatawan terus memadati kawasan Titik Nol Kilometer. Mereka menyaksikan perhelatan agenda budaya Jogja Cross Culture, yang dipusatkan di kawasan Titik Nol Kilometer Sabtu-Minggu, 3-4 Agustus 2019.

Hari pertama Jogja Cross Culture Sabtu (3/8) dimulai sejak pukul 15.00 WIB dengan aksi pembukaan Festival Jamu, yang diikuti para perajin jamu yang mewakili seluruh kecamatan di Kota Yogya.

Tak kurang 12 stand jamu tradisional berderet di sisi utara Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Asyiknya, sambil dihibur pertunjukkan tari Kayon, pengunjung bisa menyeruput secara gratis minuman herbal segar berbahan ekstrak kencur, beras, jahe, dan asam.

Dalam festival jamu ini, setiap stan tidak berlomba-lomba menjajakan jamunya. Bahkan para perajin juga antusias berbagi pengetahuan, bagaimana khasiat dan cara pembuatan minuman tradisional itu kepada pengunjung.

Menginjak malam harinya, masih di kawasan Titik Nol yang kian ramai, pengunjung disuguhi pertunjukkan Wayang Kota, yaitu pementasan wayang ukur yang dibawakan lima orang dalang muda. Mereka adalah dalang Bumi Gedhe Taruna, Ganes Sutono, Bayu Probo, Sunu Prasetya, dan Bayu Gupito.

Kelimanya berkolaborasi membawakan lakon Kancingjaya, yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Gatotkaca dengan disutradarai oleh Ki Catur "Benyek" Kuncoro yang menjadi penulis naskahnya.

Penampilan wayang ukur ini dimulai dengan satu dalang berada di depan kelir sepanjang 10 meter dan setinggi 2,5 meter, yang membelakangi penonton seperti aksi dalang umumnya. Sementara empat dalang lain dibantu oleh para panjak berada di balik kelir.

Para dalang itu lalu secara bergantian dan kompak menggerakkan wayang sehingga memunculkan bayang-bayang yang memperindah tampilan selama kurang lebih tiga jam ini.

Wayang ukur yang dimainkan sendiri merupakan milik maestro wayang asal Kota Yogyakarta, Sigit Sukasman.

"Kancingjaya merupakan salah satu nama dari tokoh utama lakon ini yaitu Gatotkaca, yang tidak banyak dikenal orang. Kisah ini menjadi menarik karena keutuhan cerita, fase demi fase dibangun dari penyatuan kelima dalang," ujar penulis naskah Ki Catur Kuncoro.

Pagelaran ini mencatatkan sebuah proses fase demi fase penyatuan para dalang. Diawali dengan kegiatan workshop wayang ukur, para dalang usia muda yang awalnya hanya mendengar tentang keunikan wayang ukur itu, lantas memiliki kesempatan untuk menyentuh bahkan memainkannya dalam pementasan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi yang hadir dalam perhelatan itu mengatakan lewat Jogja Cross Culture ini menjadi penanda bahwa Yogya masih menjadi rumah beragam kultur yang terus berinteraksi saling menyesuikan jaman tanpa kehilangan ruhnya.

"Jogja Cross Culture menandai bagaimana kultur di Yogyakarta selalu bisa bersama-sama dengan kultur lain saling menghidupkan dan memberikan kekuatan. Sehingga terus melahirkan persilangan budaya dalam bentuk kesenian yang dinamis " ujar Heroe.

Pada hari kedua Jogja Ctoss Culture Minggu (4/8), sejak pagi digelar agenda bertajuk Historical Trail Njeron Journey, yang mengajak para peserta menjelajah dan mengenal keunikan dan keragaman budaya yang ada di dalam beteng Keraton Yogya.

Usai itu dilanjutkan kegiatan Sketsa Bersama Maestro di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta yang menghadirkan sejumlah seniman kawakan Yogya.

Baru pada tengah hari 12.00 WIB giliran Keroncong Paramuda menghibur masyarakat di kawasan Titik Nol tersebut. Anak-anak pun mendapat kesempatan menikmati dan bersenang-senang di Jogja Cross Culture dengan Dolananè Bocah nJobo Latar pada pukul 15.00 WIB yang disambung dengan aksi menari bersama ratusan penari di kegiatan nJogéd nJalar Jog Jag Nong.

Pada Minggu petang selepas Isya’, Jogja Cross Culture dipungkasi dengan Historical Orchestra Selaras Juang kemudian peluncuran program pemerintah kota, gandhes luwes dan jenang golong gilig, yang diharapkan akan menjadi makanan khas Kota Yogyakarta.

Menutup seluruh rangkaian Jogja Cross Culture 2019 ini, digelar Cross Culture Performance Réunèn yang salah satu bintang tamu di dalamnya adalah Nugie. (Sumber: https://travel.tempo.co/read/1232159/jogja-cross-culture-etalase-wisata-jogja-dari-wayang-hingga-jamu/full&view=ok). Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2019. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: