Bioekonomi Pengembangan OMAI untuk Substitusi Impor
Tanggal Posting : Kamis, 15 Oktober 2020 | 06:03
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 158 Kali
Bioekonomi Pengembangan OMAI untuk Substitusi Impor
Menristek RI., Bambang Brodjonegoro pada Webinar Krista dengan GP Jamu: "Jamu Modern & Kosmetik Indonesia, Penelitian dan Pasar Negara ASEAN, Rusia & Eropa Timur", pada Rabu, 14 Oktober 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Pegembangan herbal menjadi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) adalah menggunakan bahan bakunya dari biodiversitas asli Indonesia, diriset oleh saintis Indonesia, kemudian diproduksi di Indonesia dengan CPOB/CPOTB- yang memiliki bukti medis melalui uji pra-klinis dan uji klinis.

Hal diatas terkait dengan Konsep Bioekonomi- yaitu pada intinya adalah bagaimana kita menciptakan nilai tambah dan mengkomersialkan biodiversity kita. Salah satunya adalah dari bahan Jamu atau bahan obat.

Tentunya banyak lagi seperti kosmetik dan produk turunan lain yang diyakin akan memberi nilai tambah lebih baik untuk keberlangsungan ekonomi bangsa dan negara kita. Hal ini juga dapat untuk substitusi ketergantungan impor bahan baku obat kimia yang mencapai 95%.

Demikian antara lain disampaikan oleh Prof. Bambang Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D., Menteri Riset dan Teknologi Indonesia/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Indonesia.

Hal ini, dikemukakan pada saat memberikan sambutan Webinar Krista dengan GP Jamu: "Jamu Modern & Kosmetik Indonesia, Penelitian dan Pasar Negara ASEAN, Rusia & Eropa Timur", pada Rabu, 14 Oktober 2020.

Kata sambutan lainnya oleh Dr. Martha Tilaar, Ketua Dewan Kehormatan GP. Jamu/Founder of Martha Tilaar Group, dan Dwi Ranny Pertiwi Zarman, SE., MM, Ketua Umum GP Jamu, Daud D. Salim-CEO Krista Exhibitions.

Para pembicara yang tampil adalah:

  • Agung Cahaya Sumirat, Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia
  • Jose Antonio Tavares, Calon Duta Besar Indonesia untuk Rusia & Belarus
  • Dr. Ir. Hammam Riza, M. Sc. IPU, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Topik: Penelitian BPPT Soal Rempah-Rempah Indonesia untuk Jamu Modern
  • Vidjongtius, Direktur Utama PT. Kalbe Farma
  • Brian D. E. Tilaar, President Director of PT. Martina Berto, Tbk.), Topik: Jamu Modern & Kosmetik Indonesia Martha Tilaar Terobos Pasar Ekspor
  • Dra. Hj. Nanik R. Sunarso, MM, PT. Jamu Dami Sariwarna

Moderator: Thomas Hartono, Dipl.Ing, Wakil Ketua Umum GP Jamu, Christina Sudjie, CMO Krista Exhibitions.

Berikut inti, sambutan Menristek, Prof. Bambang Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D:

Ini adalah kesempatan yang baik untuk kita bicara mengenai potensi yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua bangsa Indonesia. Kalau selama ini kita merasa Indonesia memiliki bahan tambang misalnya minyak, gas dan timah. Itu semua adalah berkah hasil dari fosil fuel energy. Tapi Bapak/Ibu jangan lupa, itu adalah berkah dari Tuhan tapi itu hanya sekali.

Dan hasil alam yang bisa terus menerus yang ada di depan kita adalah biodiversity ini yang tidak boleh kita lupakan. Kemarin di dalam salah satu webinar ada salah satu hal menarik yang barang kali akan menjadi bagian penting dipengembangan Jamu dan Obat Herbal ke depan.

Yaitu konsep Bioekonomi. Bioekonomi pada intinya adalah bagaimana kita menciptakan nilai tambah dan mengkomersialkan biodiversity kita. Salah satunya adalah dari bahan Jamu atau bahan obat. Tentunya banyak lagi seperti kosmetik dan produk turunan lain yang saya yakin akan memberi nilai tambah lebih baik untuk keberlangsungan ekonomi bangsa dan negara kita.

Kita harus menyadari bahwa dari segi biodiversity baik dipermukaan maupun yang di laut dalam, Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tidak ada challenge, Indonesia adalah negara yang beruntung karena keanekaragaman hayati kita variasinya sangat besar di dunia. Kalau hanya memang di permukaan, kita hanya berada di nomor dua- kalah dengan Brazil. Tetapi kalau bicara di pemukaan dan di laut dalam, maka Indonesia yang nomor satu.

Nah nomor satunya tidak hanya kita ingat melalui statistik atau kita ingat sebagai catatan ilmiah. Ini harus benar-benar kita cari, apa manfaatnya dari biodiversity kita dan kemudian setelah mengetahui manfaatnya melalui riset dan pengembangan. Maka kita ciptakan nilai tambahnya sehingga Bapak/Ibu bawa dalam dunia usaha keranah komersialisasi.

Tentunya Bapak/Ibu mengetahui lebih dari saya, mengenai kekayaan Indonesia dari biodiversity tadi. Ada yang menjadi rempah-rempah- yang dari dulu sudah terkenal dimana dulu VOC menjajah kita. Dan kita lihat posisi kali ini- Indonesia adalah salah satu produsen rempah terkemuka di dunia. Paling tidak untuk empat macam: Cengkeh, Vanilla, Merica, dan Pala.

Dan ini adalah kekayaan kita yang tidak boleh disia-siakan seperti hanya menjual mentahnya saja keluar. Kita lebih baik menjual rempah-rempah tersebut dengan bentuk yang sudah memiliki nilai tambah.

Dan kita semua juga tahu bahwa Jamu itu berkonotasi obat tradisional dari Indonesia yang belakangan kita sebut sebagai herbal dan memang sekarang kita harus membuat klasifikasi.

Jamu yang dibuat dari bahan alami itu adalah jenis minuman yang memberikan kesehatan. Sedangkan disisi lain kita nanti melihat ada Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka yang semua bahannya juga berasal dari herbal.

Dan disini kita akan membedakan apa yang disebut Jamu dan  pa yang disebut dengan Suplemen Herbal. Jamu terbuat dari berbagai macam rempah dan herbal. Sifatnya minuman tradisional untuk meningkatkan stamina dan imunitas dan dari nenek moyang kita ini sudah terbukti. Dan saat ini sudah dibuat dalam berbagai bentuk, ada yang diminum, sachet, pil dan kapsul.

Nah sebaliknya kalau Suplemen Herbal intinya terbuat dari berbagai macam herbal dan tanaman asli Indonesia. Dan ini juga diklaim bahwa ini suplemen untuk kesehatan sistem imun kita termasuk dalam situasi COVID-19 ini.

Jadi artinya dari jamu dan suplemen herbal Bapak/Ibu bisa bayangkan jadi Indonesia harusnya bisa jadi pemain terbesar. Nah untuk Jamu, kalau ini saran saya sebagai konsumen, memang kalau ada baiknya kalau Jamu Indonesia itu diperkenalkan sebagai minuman sehat.

Karena kita lihat seperti Redbull itu sudah mendunia. Mereka memiliki brand yang sudah mendunia. Padahal itu kan minuman untuk suplemen kesehatan. Saya yankin juga Jamu Indonesia sebenarnya punya peluang untuk bisa seperti Redbull tadi asalkan baik dari rasa dan konten sesuai dengan selera konsumen secara umum.

Obat Modern Asli Indonesia (OMAI)

Slide OMAI Menristek

Salah satu slide yang ditampilkan Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi Indonesia saat memberikan sambutan webinar.

Tujuan akhir kita mengembangkan herbal adalah kita harus mempunyai cita-cita Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Apa itu Obat Modern Asli Indonesia? Intinya adalah bahan bakunya dari biodiversitas asli Indonesia. Kemudian pengembangannya oleh saintis Indonesia. Diproduksi di Indonesia dengan CPOB/CPOTB. Serta memiliki bukti medis pra-klinis dan klinis.

Terutama uji klinik oleh dokter Indonesia pada pasien Indonesia. Yang tentunya kita ingin menyelesaikan berbagai masalah kesehatan yang masih ada di Indonesia. Dan satu lagi mempunyai data mekanisme kerja obat.

Nah kenapa OMAI ini penting, terus terang sampai saat ini kita kalau soal obat untuk penyakit yang sifatnya tidak menular dan penyakit menular itu kita sangat tergantung pada impor. Yang impor itu adalah bahan bakunya. Statistis menyatakan 95% bahan baku obat masih impor.

Tentunya kalau kita ingin mengurangi impor tidak dengan kita mengembangkan kimia meski tetap perlu mengembangkan kimianya, tetapi kita harus tetap cari subtsitusinya.

Subtitusinya dari bahan kimia itu adalah bahan herbal. Dan bahan itu kita miliki dan problemnya adalah riset kita belum sampai membawa bahan-bahan herbal itu dapat setara dengan bahan kimia, sehingga menjadi obat dari berbagai penyakit yang sifatnya tidak menular.

Tapi kita melihat beberapa perusahaan ini sudah mampu membuat obat untuk penyakit   diabetes, hipertensi dengan bahan herbal. Tentunya itu langkah maju yang harus kita apresiasi, kita dukung, dan saya mengajak para pengusaha disini meskipun saat ini fokusnya di Jamu mau melirik terhadap OHT maupun Fitofarmaka.

Di halaman berikut ini adalah data yang saya sampaikan baik Alkes dan bahan obat kita impornya sangat tinggi. Padahal pelaku industri kesehatan kita sangat besar. Terutama yang swasta, asing dan BUMN.

Sehingga disini ada peluang, pelaku usaha yang begitu banyak dengan biodiversity yang begitu besar tidak ada alasan lagi bagi Bapak/Ibu pelaku usaha untuk fokus bagaimana caranya mengembangkan obat herbal ini baik menjadi Jamu, OHT dan Fitofarmaka.

Dan dari kami sisi riset akan memberika dukungan yang penuh. Pemerintah sudah mengeluarkan Inpres Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Termasuk tadi, bagaimana caranya memperbesar porsi dari Obat Modern Asli Indonesia.

Berita Terkait: OMAI Masuk Dalam Tatalaksana Pasien COVID-19 

Kolaborasi Triple Helix

Dari sisi kami untuk mempercepat pengembangan industri, kita harus mempercepat R&D. Karena Bapak/Ibu tahu untuk mengahsilkan minuman Jamu yang disukai banyak pihak itu harus ada risetnya. Dan kemudian dunia industri mendukung dengan manufacturing yang memiliki infrastruktur yang memadai.

Dan dari pemerintah dari sisi Kemenkes atau Kementerian Perindustrian harus ada regulasi yang pro pertumbuhan industri itu sendiri. Serta ada forum yang berkelanjutan antara ABGC- sebagai pihak yang berkepentingan. Dan tentunya Bapak/Ibu juga dapat mengembangkan SDM-nya.

Disini kita lihat tadi strategi kita ingin menuju tadi, menjadi pemain penting di Jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Tentunya sekarang Bapak/Ibu variasinya beda-beda. Kalau tempatnya- Pak Vidjongtius Kalbe Farma, mungkin sudah Fitofarmaka. Tapi saya yakin juga masih ada yang sebagain di OHT dan sebagian masih di Jamu.

Yang penting adalah kalau kita bisa menciptakan ekosistem seperti ini, maka paling tidak orang akan tahu bahwa untuk menjaga kesehatan orang Indonesia adalah dengan rajin minum jamu, Jamu yang sesuai. Tetapi kalau dia minum saja kurang cukup maka dia bisa menggunakan suplemen dalam bentuk OHT misalnya.

Dan kalau dia membutuhkan medicine tumbuhan dia dapat menggunakan Fitofarmaka. Nah, disinilah peran kami menjadi sangat penting karena untuk dapat menghasilkan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka kita harus dapat mengkombinasikan baik ilmu modernnya dan local wisdom.

Khusus untuk obat tentunya kita berharap, setelah Bapak/Ibu masuk ke Jamu semakin bisa membuat masyarakat baik di dalam maupun di luar untuk menyukai Jamu sebagai minuman sehat, maka tahapan berikutnya adalah bagaimana kita bisa membuat suplemen.

Bagaimanapun kita dalam menjaga kesehatan jangan tergantung kepada yang kuratif, tetapi bagaimana kita mencegah bagaimana agar tidak sakit.

Untuk salah satu mencegah agar tidak sakit harus ada suplemen. Itu adalah yang bisa dicover oleh Obat Herbal Terstandar (OHT) yang tentunya harus dengan uji pra klinis diketahui aman, punya khasiat yang memadai dan standarisasi. Tentunya ini juga harus didukung oleh penelitian.

Dan lebih jauh lagi, agar kita mengurangi impor bahan baku obat kimia, kita harus mengembangkan Fitofarmaka. Fitofarmaka harus melalui uji klinis yang dimana membuat orang frustasi. Karena uji klinis ini memiliki dua kata, yaitu: lama dan mahal.

Tapi memang ini perbaikan yang harus kita lakukan sehingga produsen obat agar berduyun-duyun mengembangkan Obat Modern Asli Indonesia atau Fitofarmaka.

Tentunya obat ini tergantung dengan bahan alamnya yang tersedia di Indonesia, sehingga kita sudah melakukan penelitian dan ekstraksinya. Dan sekali lagi faktor keamanan penting dan khasiatnya yang kita harapkan cocok.

Jadi kalau melihat slide ini, sebenarnya besar potensi kita untuk mandiri dalam hal suplemen, obat, maupun minuman sehat. Di dalam prioritas riset nasional kami yang akan berlaku 2020-2024. Kami juga memasukan terkait Jamu ini sudah menjadi prioritas riset kami yaitu dua, OHT dan Fitofarmaka.

Untuk mengembangkan obat tradisional kita mengembangkan triple helix. Triple helix itu adalah kerjasama tiga pihak pemerintah, industri, perguruan tinggi/lembaga penelitian. Jadi misalnya untuk produk obat tradisional ini penelitian dari kami lalu didukung oleh LIPI, BPPT, Kemenkes, Kemenpar dan kehutanan. Dan kemudian- ini perusahaan-perusahaan yang sudah terlibat baik pengembangan OHT dan Fitofarmaka.

Dan juga kita melibatkan berbagai universitas yang memiliki kelebihan dibidang pertanian sesuai dengan komuditas yang berkembang di daerahnya masing-masing.

Untuk COVID-19 dalam kondisi pandemik tentunya kita harus mendorong peran herbal, paling tidak dilevel suplemen. Kalau untuk obat Covid-19 kita tahu itu sangat susah karena belum ada obat. Ini adalah salah satu produknya Pak Vidjongtius Kalbe Farma yang waktu itu kita coba uji klinis yang intinya produk dari Kalbe Farma ini punya izin BPOM sebagai suplemen secara umum.

Dan kita juga mencoba terhadap suplemen ini, agar lebih spesifik apakah dapat menjadi suplemen saat COVID-19. Sebelum sampai uji klinis ada riview sistematis, studi bioinformatika, dan yang paling lama dan tidak mudah yaitu uji klinis di wisma atlet. Yang didalamnya mengandung bahan Jahe merah, Sambiloto, Meniran, Sembung, Cordyceps.

Nah ini yang kita sebut imunomodulator yang bahannya kita harapkan datang dari bahan alam Indonesia. Semua proses sudah kita jalankan dan besar harapan kita bahwa herbal Indonesia harusnya bias berperan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari COVID-19. Dan kami harapkan agar Jamu, OHT dan Fitofarmaka menjadi Bioekonomi. Sehingga jamu nanti dapat menjadi minuman kesehatan yang diterima oleh masyarakat Indonesia. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: