Pemanfaatan Herbal di FASYANKES Melalui Formularium Nasional
Tanggal Posting : Sabtu, 29 Mei 2021 | 13:31
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 279 Kali
Pemanfaatan Herbal di FASYANKES Melalui Formularium Nasional
Pengembangan Jamu-Obat Herbal Indonesia perlu dukungan dari para stakeholders, termasuk tersedianya kebijakan agar dapat dimanfaatkan di Fasyankes dan masuk sistem JKN.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Memperingati Hari Jamu Nasional 2021- "Memanfaatkan Peran Jamu untuk Memelihara Kesehatan Masyarakat", Media Jamu Indonesia-JamuDigital mewawancarai sejumlah tokoh Jamu Nasional untuk membahas berbagai peluang dan tantangan Jamu Indonesia.

Berikut ini pandangan DR. Drs. Budiman Gunawan, Apt., MARS, Ketua Komisi Nasional Saintifikasi Jamu, dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan Jamu di FASYANKES di masa datang.

Budiman Gunawan sebelumnya pernah menjabat sebagai Dirbinmatkes PUSKESAD-Pusat Kesehatan Angkatan Darat, dan Kepala Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (LAFI Ditkesad). Beliau alumni Fakultas Farmasi UGM Angkatan 1981. Berikut pendapat, harapan dan saran-sarannya:

Mengingat COVID-19 merupakan penyakit baru dan mekanisme kerja Jamu untuk COVID-19 belum diketahui, maka diperlukan pengembangan Jamu dengan memperkuat bukti ilmiah.

Pengembangan Jamu ini diarahkan ke uji klinik produk Jamu yang telah memiliki NIE untuk menjadi Fitofarmaka, dan melakukan riset inovasi Jamu yang berpotensi untuk penanganan COVID-19 ke arah Fitofarmaka atau bahan baku obat.

Peran Komnas Saintifikasi Jamu sendiri diantaranya mendorong ketersediaan bukti ilmiah untuk Jamu tersebut.

Permintaan masyarakat dan pelayanan kesehatan untuk pemanfaatan Jamu  guna penanganan COVID-19 meningkat, yaitu sebagai pendukung untuk memelihara kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh, ataupun meredakan gejalanya, seperti batuk.

Pemenuhan Jamu ini, dapat berupa racikan sendiri berdasarkan ramuan empiris dan produk obat tradisional yang telah memiliki nomor izin edar (NIE) dari Badan POM: Jamu, Obat Tradisional Terstandar-OHT, Fitofarmaka.

Upaya-Upaya terobosan yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Pemanfaatan evidence based di pelayanan kesehatan
  • Mengajak stakeholders meningkatkan pemanfaatan Jamu, termasuk oleh pengobat tradisional
  • Dukungan pemanfaatan obat herbal di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FASYANKES) melalui Formularium Nasional
  • Penguatan brand Jamu Indonesia

Harapan untuk pengembangan obat tradisional Indonesia:

  • Adanya komitmen dari penentu kebijakan (Presiden atau Menkes), agar memanfaatkan herbal asli Indonesia (bahan baku bukan import) yang sudah teregistrasi oleh BPOM untuk di FASYANKES dengan masuk dalam sistem/BPJS
  • Akselerasi 12 formula ramuan jamu Saintifikasi Jamu B2P2TOOT menjadi ekstrak menjadi OHT atau FF
  • Komnas Saintifikasi Jamu mengawal penelitian berbasis pelayanan. Saat ini, masih untuk penelitian dan pelayanan Jamu. Ke depan dapat dilakukan di Griya Sehat atau RS Integrasi terhadap pelayanan ketrampilan, baik tunggal/komplemen dalam pelayanan konvensional perlu Permenkes baru.

Saran-Saran untuk mengembangkan pemanfaatan obat tradisional:

  • Perlunya Permenkes pemanfaatan Jamu Teregistrasi dalam FASYANKES dan masuk JKN
  • Perlunya hilirisasi ramuan Jamu Saintifik
  • Perlunya tindak lanjut proses sertifikasi untuk ramuan Jamu Saintifik

Komnas Saintifikasi Jamu mendukung Kestraindo dalam ketersediaan Jamu Saintifik, regulasi dan SDM. Sudah saatnya pemanfaatan Jamu dalam Fasyankes dan masuk JKN, Pemberdayaan DSJ dan ASJ dalam dalam Litbang berbasis Pelayanan. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: