Optimalisasi Tanaman Obat Era COVID-19
Tanggal Posting : Senin, 10 Agustus 2020 | 07:17
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 622 Kali
Optimalisasi Tanaman Obat Era COVID-19
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dan Optimalisasi Tanaman Obat Era COVID-19 di Cilacap.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, termasuk optimalisasi pemanfaatan tanaman obat pada saat pandemi COVID-19, Tim Kelompok Makro Riset Terapan Berbasis Sumber Daya Alam- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bekerjasama dengan berbagai pihak.

Bekerjasama dengan Griya Sehat Nektaria Honey Purwokerto dan Kementerian Pertanian menyelenggarakan riset aksi (action research) dan pengabdian masyarakat di Desa Pasuruhan Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap pada Senin-Rabu, 2-5 Agustus 2020.

Ketua Tim dari Unsoed, Dr. Adhi Iman Sulaiman, dan Mochamad Subechan, A.Md.Kes- Griya Sehat Nektaria Honey Purwokerto, serta Ahmad Mutarom, SP., MP- Kementrian Pertanian tampak hadir pada kegiatan tersebut.

Menghadapi pandemi COVID-19 yang mengakibatkan kecemasan, kekhawatiran dan terhambatnya interaksi sosial, ekonomi dan pendidikan di masyarakat. Dampak lebih jauh menurunkan tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonimi masyarakat, sehingga perlu ada upaya untuk mengantisipasi hal ini dengan pemberdayaan masyarakat di era pandemi COVID-19 menuju kehidupan normal baru.

Pemberdayaan masyarakat merupakan model pembangunan yang bersifat partisipatif dengan keterlibatan semua pihak mulai dari masyarakat dan pemerintah desa untuk merencanakan program, melaksanakan dan mengevaluasi pembanguan berdasarkan identifikasi dan analisis permasalahan, potensi dan prospek sumber daya yang dimiliki masyarakat.

Pemilihan lokasi tersebut dengan pertimbangan merupakan zona hijau yang dapat melaksanakan kegiatan di tengah pandemik COVID-19 namun tetap dengan melaksanakan protokol kesehatan. Kemudian masyarakat dan pesantren masih  traumatik dan ada ketidak-harmonisan akibat stigma pesantren yang dinilai radikal.

Prores riset aksi dalam pemberdayaan telah dilaksanakan sebelum masa pandemic 2019 sekitar Januari higgga Maret 2020, kemudian dilanjutkan kembali pada akhir Juli 2020 setelah diijinkan kembali untuk melakukan aktivitas dengan tetap menggunakan protokol kesehatan.

Salah satu hasil dari riset aksi yaitu masyarakat memiliki kekhawatiran dalam masa pandemi COVID-19 dan memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan terutama untuk kembali lagi mengkonsumsi minuman herbal (jamu) yang sudah menjadi tradisi masyarakat sejak dahulu kala secara turun termurun. Namun disisi lain masyarakat umumnya sudah meninggalkan tradisi minuman herbal jamu khususnya generasi muda yang belum terbiasa.

Berdasarkan hal tersebut, maka tim riset terapan Unsoed menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat dan pesantren salah satu programnya tentang penanaman dan pengolahan herbal dalam mengantisipasi pandemi COVID-19.

Kegiatan pemberdayaan melibatkan sekitar 30 orang yang terdiri dari perwakilan masyarakat, forum warga mantan pekerja migran, pihak pesantren dan mahasiswa Unsoed. Kegiatan dimulai dari:

Pertama, Penyuluhan untuk meningkatkan motivasi, sikap mental dan pengetahuan serta pemahaman tentang pentingnya ketahanan pangan lokal herbal untuk memanfaatkan pekarangan rumah dan kebun.

Kegiatan ini dilaksanakan secara panel, tanya jawab dan diskusi yang menghadirkan instruktur Ahmad Mutharom, Dr. Adhi Iman Sulaiman, dan Mochamad Subechan- yang juga sebagai Ketua PPKESTRAJAMNAS (Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Jamu Nasional).

Dampaknya masyarakat menjadi sangat antusias termotivasi untuk kembali memanfaatkan pekarangan rumah dan jenis tanaman yang bermanfaat menjadi ketahanan pangan serta kesehatan keluarga.

Kedua, Simulasi dan praktek pemilihan dan proses penanaman tanaman herbal keluarga yang dapat dijadikan tanaman obat keluarga (Toga) dengan media polybag dengan instukruktur Ahmad Mutharom, dari Kementrian Pertanian.

Pelatihan dilaksanakan dengan membagi 4 kelompok dari pesantren, masyarakat, forum warga pekerja migran, dan mahasiswa Unsoed. Adapaun prosesnya yaitu dari pengenalan jenis tanaman obat berdasarkan karakteristik, persayaratan tumbuh, dan bagian tanaman yang dimanfaatkan untuk budidaya. Selanjutnya praktek budidaya tanaman obat dalam polybag yang dimulai dengan mempersiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yaitu gunting, pisau, cetok, takaran, alas untuk mencampur media tanam.

Sedangkan bahan berupa polybag ukuran 20 cm dan 35 cm, pupuk kandang, sekam padi, dan bibit tanaman. Tahap pertama adalah membuat media tanam dengan mencampur kompos atau pupuk kandang dengan sekam padi dengan perbandingan 2 sekam padi dan 1 pupuk kandang. Media tanam dimasukan pada polybag sampai penuh. Tahap kedua adalah mempersiapkan tanaman obat yaitu tanaman kumis kucing yang diambil stek batangnya, lidah buaya, rimpang (temu lawak, kunyit, dan jahe).

Subechan

Tahap ketiga adalah melakukan penanaman. Polybag diameter 20 cm digunakan untuk stek tanaman kumis kucing dan lidah buaya. Untuk tanaman rimpang menggunakan polybag diameter 35 cm. Tahap terahir adalah menyiram polybag dengan air sampai kapasitas lapang (cukup air) dan letakan pada tempat yang teduh atau terhindar dari sinar matahari. Penyiraman dilakukan secara rutin agar media tanam tetap basah.

Penggunaan bibit tanaman kumis kucing, lidah buaya dan jenis rimpang selain sesuai dengan persayatan tumbuh wilayah pemberdayaan, juga merupakan tanaman yang mudah dijumpai dan mempunyai manfaat yang baik untuk menjaga kesehatan atau imun tubuh terlebih pada masa pandemi COVID-19 saat ini. Kumis kucing (Orthosiphon spp.) merupakan jenis tanaman obat yang diambil daunnya, berkhasiat untuk memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik), pengobatan radang ginjal, batu ginjal, dan kencing manis.

Lidah buaya (Aloe vera) selain sangat familiar digunakan untuk penyubur rambut juga berfungsi untuk sembelit, sakit kepala, peluruh haid, kencing manis, dan wasir. Jenis rimpang yaitu jahe (Zingiber officinale Rosc.), kunyit (Curcuma domestica Val.), dan temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) mempunyai fungsi yang baik untuk menjaga imun tubuh dan menjaga kesehatan hati.

Dampak dari penyuluhan dan pelatihan ketahanan pangan dan tamanan obat di pekarangan rumah, peserta memiliki motivasi yang tinggi, tergugah dan membawa contoh hasil pelatihan dalam polybag untuk meneruskan hasil pelatihan di rumah dan ladangnya termasuk pihak pesantren yang selanjutkan akan menjadi bahan praktek santrinya di lahan yang dimiliki pesantren menjadi ketahanan pangan obat keluarga.

Ketiga, Penyuluhan motivasi dan penjelasan serta simulasi dengan instruktur oleh Mochamad Subechan, tentang pemilihan tanaman herbal keluarga yang bermanfaat untuk dijadikan minuman jamu terutama dalam menjaga kesehatan dan mengobati beberapa penyakit di tengah Pandemi COVID-19 dapat dijadikan tambahan penghasilan keluarga dan bisnis kelompok usaha kecil baik tanamannya maupun hasil olahan minuman jamunya.

Beberapa tanaman obat keluarga yang selama ini banyak terdapat di pekarangan rumah dan lingkungan tetapi dianggap tidak berkhasiat dan cenderung di abaikan atau dibuang. Menjelaskan terlebih dahulu tentang penggunaan obat tradisional oleh masyarakat Indonesia untuk kesehatan umumnya sekitar 59,%, rumah tangga menggunakan cara tradisional untuk kesehatanya sekitar 30,4%, dan masyarakat menggunakan Yankestrad baik melalui praktisi kestrad maupun upaya sendiri sebesar 44,3%.

Pada kesempatan ini, juga diajarkan meramu tanaman herbal jamu yang harus memenuhi unsur keilmuan seperti nama tanaman, morfologi tanaman, bagian tanaman yang umum digunakan, khasiat tanaman, dan ilmu penyakit. Kemudian harus mengetahui tentang komposisi yang di dasarkan pada nama tanaman obat, banyaknya, perbandingan bahan.

Peserta dalam simulasi dan praltek dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu pihak pesantren dan masyarakat dengan forum warga pekerja migran untuk membuat minuman jamu segar untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal Covid 19 dengan mengolah bahan seperti jahe merah, kunyit, temu lawak, kayu manis, sereh , meniran, dan daun pandan, gula jawa organik dan gula kristal.

Prosesnya pelatihanya semua bahan empon empon di cuci dan di potong tipis tipis lalu di ambil sarinya (bisa menggunakan blender), masukan sari empon empon ke dalam air yang sudah mendidih lalu api dikecilkan, tambahkankan gula , daun pandan, asam, gula, kayu manis, kemudian siap disajikan, bisa dicampur susu murni atau kental manis.

Dampak dari penyuluhan, simulasi dan pelatihan singkat pengolahan tanaman jamu masyarakat semakin termotivasi, terinspirasi dan menyadari manfaat serta pentingnya tanaman obat keluarga menjadi minuman sehat untuk menjaga kesehatan khususnya dalam pandemik COVID-19.

Budidaya tanaman obat dan pengolahannya berupa minuman kesehatan/jamu serta sebagai obat tradisional dapat menjadi ketahanan pangan dan kesehatan keluraga, sekaligus untuk menambah penghasilan dengan membentuk usaha mandiri maupun kelompok, bahkan bisa menjadi membuka lahan pekerjaan yang menjanjikan atau prospektif dikelola secara profesional dengan standarisasi sesuai ketentuan.

Sehingga generasi muda dapat menjadi penerus generasi  budaya bangsa untuk dilestarikan dan dikembangkan sebagai wirausaha yang berbasis kearifan lokal dan kemandirian. Redaksi JamuDigital.Com

 


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: