![]() |
| Wisata Kesehatan Jamu untuk mendukung ketahanan kesehatan keluarga. (Dok. PPKESTRAJAMNAS) |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Inisiatif masyarakat untuk ikut membangun ketahanan kesehatan keluarga, dapat menjadi pendorong peningkatkan kesehatan masyarakat, ditengah pandemi COVID-19, sekaligus menggerakkan Wisata Kesehatan Jamu sebagai local wisdom.
Hal ini, dikemukan oleh Mochamad Subechan, A.Md.Kes, Griya Sehat Nektaria Honey Purwokerto, dan Ketua PPKESTRAJAMNAS (Perkumpulan Profsi Kesehatan Tradisional Ramuan Jamu Nasional) kepada Redaksi ObatNews dan JamuDigital pada Sabtu, 23 Juli 2022.
Ketahanan pangan lokal dan herbal sudah menjadi local wisdom, sekaligus menjadi kekuatan ekonomi masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah dan kebun untuk dijadikan lahan pertanian holtikultura yang dapat memberikan tambahan pendapatan masyarakat.
Termasuk budi daya tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai alternatif dalam menjaga kesehatan di masa pandemi COVID-19.
Masyarakat pedesaan khususnya di Jawa telah memiliki tradisi membuat, mengkonsumsi dan memasarkan produk minuman herbal berupa jamu sehat dan alami, yang sudah kurang diminati dan ditinggalkan generasi milenial dengan banyaknya minuman bersoda, sirup, dan suplemen instan, termasuk banyaknya obat-obatan modern di pasaran.
Namun ketika Pandemi COVID-19 antara tahun 2020-2022 budidaya tanaman obat dan pengolahannya menjadi Jamu sehat atau obat herbal makin diminati oleh masyarakat.
1.Ketahanan Kesehatan Keluarga
Melestarikan dan membudidayakan tanaman obat seperti tanaman obat keluarga (TOGA) dan pengolahan pascapanennya berupa produk herbal di masyarakat menjadi sangat penting dan strategis.
Hal ini menjadi insprasi, semangat dan kepedulian dari Tim Riset dan Pemberdayaan UNSOED dengan melaksanakan budidaya dan pengolahan pascapanen tanaman herbal bekerjasama dengan Klinik dan Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) Kalibakung Kabupaten Tegal, Griya Sehat Nektaria Honey Purwokerto.
Juga Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Ramuan Jamu Nasional (PPKESTRAJAMNAS) serta masyarakat Desa Kalibakung yang tergabung dalam TP-PKK, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Kelompok Wanita Tani (KWT) yang juga tergabung dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) dan generasi muda dari Karang Taruna sebagai peserta pemberdayaan sebanyak 25 orang.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh tim Penelitian Dasar Kompetitif Nasional (PDKN) UNSOED yang diketuai Dr. Adhi Iman Sulaiman, S.IP., M.Si yang menyatakan, "Kegiatan riset dan pemberdayaan Green-Economy dengan budidaya dan produk tanaman herbal merupakan bentuk kepedulian.
Dan tanggung jawab kami sebagai akademisi untuk ikut berpartisipasi dalam melsetarikan dan mengembangkan tanaman herbal sebagai warisan budaya atau kearifan lokal, ketahanan pangan dan ketahanan kesehatan masyarakat," harapnya.
Program ini dirancang dengan tujuan: 1.Meningkatkan semangat dan insprirasi manfaat budidaya dan produk olahan tanaman obat untuk meningkatkan kesehatan dan ekonomi.
2.Membentuk kelembagaan atau kelompok budidaya dan produk tanaman obat minimal di pekarangan rumah dan kebun sebagai Tanaman Obat Keluraga (TOGA) dan menghasilkan produk olahan herbal berupa minuman, permen dan serbuk jamu sehat, sabun cuci piring dan lantai berbahan herbal untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maksimal untuk kelompoknya".
Umi Diah Arti, SKM, Kepala WKJ Kalibakung mengatakan, "Kami sangat mendukung dan berterima kasih atas kerjasamanya untuk melakukan riset dan pemberdayaan budidaya dan produk herbal dari Tim PDKN UNSOED.
- Berita Terkait: Daun Alpukat Tumpas Diuretik
- Berita Terkait: Beli NOSTEO dan NOKILIR dari Brunei. Wow Era Digital...Makin Asyik
- Berita Terkait: 5 Buah Ini Dapat Membantu Menurunkan Kolesterol
Karena ini dapat membantu dalam mensosialisasikan, mengkampanyekan dan menpromosikan peran dari Klinik dan Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) Kalibakung Kab. Tegal ke masyarakat sekitar dan masyarakat di luar Tegal," ungkapnya.
Bahkan harapan kami, lanjut Diah, dapat bersinergi dan bermitra dengan masyarakat sekitar bukan hanya membudayakan lagi hidup sehat alami tetapi untuk dapat mempunyai nilai usaha ekonomi atau pendapatan masyarakat dengan menjadi pemasok bahan baku herbal yang dibutuhkan oleh WKJ Kalibakung Tegal".
Koordinator Substansi Program, Kerjasama dan Jaringan Informasi, Awal Prichatin Kusumadewi, M.Sc. Apt. menjelaskan bahwa, "Program pemberdayaan budidaya dan produk herbal secara komprehensif dan berkelanjutan berdasarkan potensi sumber daya alam.
Seperti ketinggian, unsur tanah dan jenis tumbuhan herbal yang cocok serta khas, serta harus memperhatikan pasar hasil produknya betul-betul dapat dibeli WKJ sesuai spesifikasi dan perjanjian jual beli," jelasnya.
Tri Widiyat, M.Sc. Sub Koordinator Kelompok Sub Substansi Kerja Sama dan Jaringan Informasi juga mengungkapkan, "Dalam kegiatan pemberdayaan budidaya herbal dan produk pascapanen juga perlu menjalin kerjasama antara pihak Unsoed dengan pemerintah desa, kelembagaan masyarakat desa dan WKJ Kalibakung supaya bersinergi dan kolaborasi secara berkelanjutan".
Menurut Santoso, S.Farm Sub Koordinator Kelompok Sub Substansi Sarana Penelitian, menegaskan, "Pentingnya ada mekanisme perjanjian pembelian antara kelompok budidaya tanaman herbal dari masyarakat dengan pihak WKJ Kalibakung".
2.Pelatihan Mengolah Herbal
Implementasi kegiatan riset dan pemberdayaan budidaya dan produk herbal dimulai pada Jumat, 15 Juli 2022.
Kegiatan berupa penyuluhan atau edukasi tentang manfaat tanaman herbal bagi kesehatan dengan narasumber dr. Indah Hastuti dari Klinik dan WKJ Kalibakung Tegal dan pelatihan pembuatan minyak herbal untuk pegal. Linu dan masuk angina dari Bayu Triatmojo, Amd.Kes dari WKJ Kalibakung Tegal.
Kemudian pada Sabtu, 16 Juli 2022 penyuluhan, simulasi dan pelatihan tentang manfaat tanaman obat bagi peningkatan kesehatan dan ekonomi masyarakat dengan narasumber dan instruktur Mochamad Subechan, A.Md.Kes dari Griya Sehat Nektaria Honey Purwokerto sekaligus sebagai Ketua PPKESTRAJAMNAS (Perkumpulan Profsi Kesehatan Tradisional Ramuan Jamu Nasional) untuk memberikan motivasi dan inspirasi para peserta.
"Dengan melakukan budidaya Tanaman obat dan mengolah hasil pasca panen dengan baik dan benar maka produknya aman, bermanfaat dan bermutu, sehingga hasilnya tidak saja untuk menjaga kesehatan (promotif dan preventif) tapi bisa menyembuhkan penyakit secara aman dan efektif serta meningkatkan pendapatan masyarakat," Subechan menambahkan.
Pada kesempatan ini, Sibechan memberikan pelatihan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPTOB) dan produk sediaan jamu segar dan jamu instant siap saji. Selain itu juga memberikan penyuluhan tentang ijin edar produk sediaan obat tradisional dan olahan pangan baik dengan ijin P-IRT, MD maupun TR.
3.Pelatihan Produksi Sabun
Dilanjutkan pada Minggu, 17 Juli 2022 dengan materi pelatihan tentang produk sabun cuci piring dan sabun lantai dengan pewarna berbahan herbal seperti Kunyit, daun Suji, dan Secang dapat juga dicampur pewangi alami serta herbal seperti dari daun Mint, daun Pandan, daun Sereh, Jeruk nipis dan Lemon. Dipandu oleh instruktur Dr. M. Salman Fareza, M.Si, dari Fakultas Farmasi UNSOED.
Ketua Tim Dr. Adhi Iman Sulaiman menambahkan, "Kegiatan pemberdayaan ini di desain dengan mengutamakan peningkatan motivasi dan inspirasi terlebih dahulu sehingga penyuluhan dan pelatihanya diawali justru produk pascapanen berupa:
Produk minuman dan serbuk jamu, minyak herbal dan sabun herbal kemudian pembentukan kelompok budidaya tanaman herbal serta terakhir baru pelatihan budidaya tanaman herbalnya, jelasnya.
Selama kegiatan pemberdayaan budidaya tanaman herbal dan produk pascapanen, peserta sangat antusias dan semangat mengikuti, dengan mampu mengerjakan tugas kelompok untuk membuat produk herbal yang sudah di latih di rumah.
Indikator keberhasilan riset dan pemberdayaan dilakukan dengan diberikan tugas kelompok untuk membuat kembali produk minuman jamu dan jamu serbuk serta sabun cuci piring. Kemudian dengan menyebarkan angket pre-test dan posh-test ke peserta, dibahas dengan dialog interaktif serta FGD untuk membahas, mengevaluasi dan menganalisis hasil.
Semoga kegiatan ini memberi manfaat sebagai pelaksanaan "Green-Economy" dengan pemberdayaan dan kemitraaan budidaya tanaman herbal (TOGA).
Tanaman Obat Keluarga) antara Klinik dan Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) Kalibakung, Kab. Tegal dengan masyarakat Desa Kalibakung sebagai peserta.
Target jangka panjangnya dapat mengadopsi kawasan pengobatan, wisata dan edukasi Klinik Saintifikasi Jamu dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembagan Kesehatan Kementrian kesehatan (B2P2TOOT) di Kalisoro, Kec Tawangmangu, Kab Karanganyar, Jawa Tengah. . (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/herb/pr-4463952378/membangun-ketahanan-kesehatan-keluarga-berbasis-kawasan-wisata-kesehatan-jamu?page=5 ). Redaksi JamuDigital.Com








