Masukkan GP. Jamu Saat RDP Komisi IX DPR
Tanggal Posting : Kamis, 1 Oktober 2020 | 07:07
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 209 Kali
Masukkan GP. Jamu Saat RDP Komisi IX DPR
Komisi IX DPR RI dipimpin Nihayatul Wafiroh (Wakil Ketua) Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Holding BUMN Farmasi pada 28 September 2020.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Komisi IX DPR RI mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum untuk mendapatkan masukan substansi/materi RUU tentang Pengawasan Obat dan Makanan, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin 28 September 2020.

Rapat Dengar Pendapat Umum tersebut dengan Holding BUMN Farmasi, Pengurus Gabungan Perusahaan Farmasi (GP. Farmasi), Pengurus Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP. Jamu Indonesia), Pengurus International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG), Pengurus Gabungan Pengusaha Obat Tradisional Asing (GAPOTA), Pengurus Asosiasi Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan Pengurus Asosiasi Apotek Indonesia (ASAPIN), Mendapatkan masukan untuk substansi/materi RUU tentang Pengawasan Obat dan Makanan.

Berikut ini, masukkan Ketua GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman:

Jadi pertama berkaitan dengan pasal 1, kami binggung disini tercatat obat bahan alam dan juga ada obat tradisional perbedaan deskripsinya yang belum saya pahami ini. Apa beda obat bahan alam dan obat tradisional yang dimaksud oleh RUU ini.

Kemudian selanjutnya pasal 8 ayat 1, obat bahan alam digolongkan menjadi obat tradisional, herbal terstandar dan fitofarmaka. Bahwa kata jamu sekarang akan dihilangkan itu menjadi rasa keberatan kami. Karena sebagaimana kita ketahui kata jamu itu adalah warisan budaya Indonesia. Dan sekarang kami sedang proses pendaftaran ke UNESCO.

Kalau sekarang akan dihilangkan terus digantikan dengan obat tradisional bahkan kami sendiri pun tak bisa mencantumkan bahwa ini obat yang mengobati. Jadi mengapa harus ditulis obat tradisional atau obat herbal terstandar kalau itu tidak bisa untuk mengobati.

Berita Terkait: DPR Mendesak Kemkes Perluas Riset OMAI dan Vaksin untuk COVID19

Berita Terkait: DPR MENDORONG OMAI untuk Kemandirian Obat Nasional

Maka kami, GP Jamu tetap mengusulkan itu tetap sebagai Jamu, Jamu Terstandar dan Jamu Fitofarmaka. Dan bahwa nanti ada obat bahan alam atau sebagainya itu hanya tambahan saja untuk kelompok yang lain.

Jadi kami harapkan kata jamu itu tidak hilang, karena itu adalah sebagaimana kata batik adalah batik, jamu adalah jamu bukan herbal jamu itu adalah Indonesia. Sebagaimana akan kita publikasikan ke dunia bahwa jamu itu adalah kata untuk obat herbal Indonesia yang tidak bias digantikan dengan kata yang lain.

Dan untuk Pasal 17 itu dapat dibaca dengan rinci terkait dengan cara pembuatan jamu yang baik. Kemudian untuk pasal 19 setiap orang dilarang menghapus, mencabut, menutup dan menganti label. Mohon itu kalau nanti di acc itu tidak masalah. Tapi berikan kami waktu untuk merubah label semua itu karena banyak sekali stock yang harus kami habiskan.

Terkait pasal 26 distributor yang tidak melakukan distributor akan dikenakan sanksi, kenapa distributor yang tidak melakukan pendistribusian izin produknya dicabut.

Saat tanya jawab, Ketua Umum GP. Jamu menyampaikan sebagai berikut:

Baik terimakasih jadi saya menjawab tadi maaf tadi ibu saya lupa namanya. Berkaitan dengan jamu, kategori jamu dalam regulasi sekarang itu ada tiga yaitu Jamu secara empiris, Obat Herbal Terstandar (OHT) yang sudah uji pra klinis yang tidak boleh menyebutkan klaim dapat menyembuhkan, dan Fitofarmaka yang sudah teruji klinis nah itu yang sudah dituliskan mengobati penyakit apa.

Terkait sekarang dengan adanya penyebutan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) itu mungkin yang dimaksud itu adalah Fitofarmaka. Jadi itu boleh di klaim sebagai obat. Saya dapat memahami bahwa ini jumlah Fitofarmaka hanya sedikit baru sekitar 24 produk. Karena untuk sampai ke Fitofarmaka itu biayanya besar sekali untuk uji klinis.

Sehingga ketika disebut sebagai Jamu Fitofarmaka daya jualnya itu kurang. Kalau secara bisnis saya memang lebih suka disebutnya sebagai obat walaupun kami semua obat tradisional sehingga semua tidak bisa disebut obat.

Hanya karena Jamu sebagai warisan budaya Indonesia maka mungkin saya mohonkan jalan tengah saja. OMAI dapat mengantikan Fitofarmaka untuk memenuhi keinginan industri besar yang mempunyai produk itu yang sudah uji klinis. Tetapi tolong tetap Jamu itu tetap, karena sebelumnya OMAI itu kan tidak ada di regulasi sekarang bahkan di RUU ini tidak disebutkan ada OMAI.

Tapi sebagian besar Menteri-Menteri menyebutkan OMAI sebagian anggota DPR dan BPOM itu saya pahami. Jadi tolong ambil jalan tengahnya Jamunya jangan dihilangkan OMAI nya juga dapat masuk. Bahwa tadi di RUU disebutkan ada Jamu. Namun itu kan hanya khusus Jamu gendong dan Jamu racikan itu tidak terdaftar di BPOM. Jamu racikan atau Jamu gendong itu hanya terdaftar di Dinkes.

Nah itukan sekarang aturannya sudah baguslah. Karena sudah higinenis. Bahwa kita juga memahami ini untuk kepentingan masyarakat. Kemudian saya mau menanggapi dari Gapota pak Budi ya, tahun 2019 kemarin merk produk jamu dari China itu ada 1.800 merk dan tidak ada produk jamu Indonesia di China. Jadi bapak dapat pahami bagaimana perasaan anggota industri jamu Indonesia.

Baru tahun kemarin saya dan ibu Penny bersama tim melakukan kerjasama ke China sebelum COVID-19. Nah itu kami perlu bertahun-tahun untuk supaya masuk. Waktu itu kami sudah menawarkan ke Gapota. Tolong dong.. barter dong, akhirnya kami berupaya sendiri dan akhirnya tahun lalu kami MOU dengan China sehingga ibu Penny juga ikut dan itu adalah sejarah besar Indonesia. Bahwa Jamu Indonesia dapat diterima di China dengan mencari buyer sendiri.

Dan untuk saat ini kami dari tahun 2017-2018 berjumlah 986 industri resmi yang besar maupun kecil tinggal 846 dan importir yang ada obat tradisional jumlahnya sudah 400. Bahwa problem di market dan sebagainya itu memang banyak sekali. Termasuk yang disampaikan oleh pak Budi, Pasak Bumi yang di ekspor illegal ke Malaysia. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: