Kampo Jepang Sebagai Role Model, OMAI Tepat Digunakan di Fasilitas Yankes
Tanggal Posting : Senin, 29 November 2021 | 06:04
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 238 Kali
Kampo Jepang Sebagai Role Model, OMAI Tepat Digunakan di Fasilitas Yankes
Ketua Umum PDPOTJI, Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (kiri) dan moderator webinar: apt. Roshamur Cahyan Forestrania, M.Sc., Ph.D., Dosen Farmasi Universitas Indonesia.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Jepang merupakan role model yang cocok untuk Indonesia karena ada ’kesamaan kultur.’ Di mana kedokteran konvensional merupakan mainstream sistem pengobatan, dengan masyarakatnya tetap memelihara tradisi pengobatan tradisional.

Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) cocok untuk diimplementasikan dalam pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan formal, sebagaimana halnya Kampo (Obat Tradisional Jepang) juga digunakan di dalam pelayanan kesehatan nasional di Jepang.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum PDPOTJI (Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia), Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si., saat menjadi pembicara pada webinar yang diadakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Indonesia dengan topik "Potensi Mewujudkan Kemandirian Obat Asli Indonesia dengan Menggunakan Bahan Baku Obat Herbal Dalam Negeri."

Dalam webinar yang dilaksanakan Sabtu, 27 November 2021, Inggrid Tania memaparkan makalah berjudul "Potensi Pemanfaatan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan."

Kampo (Japanese Medicine), urai Inggrid Tania, secara resmi diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan Kesehatan modern sejak tahun 1976. Tahun 2001-2002 Pemerintah Jepang memutuskan menginsersikan Kampo ke dalam kurikulum inti Kedokteran dan Farmasi, dan mengimplementasikannya mulai tahun 2003.

"Para dokter konvensional di Jepang dilegalkan memberikan pelayanan kesehatan tradisional dengan herbal Kampo (baik yang pembuktiannya pengalaman empirik, saintifik maupun klinis), di samping pelayanan Kesehatan konvensional," imbuh Alumni S2 Herbal FFUI 2010 itu menjelaskan.

Bahkan dokter dan apoteker dilegalkan dalam memberikan pelayanan peresepan rebusan simplisia kering (dekokta) yang sudah memenuhi standarisasi simplisia/crude drug yang ditetapkan, tambahnya.

Ada ratusan ramuan empirik herbal Kampo yang dijamin oleh Asuransi Kesehatan Nasional. Bahkan herbal Kampo tetap didorong terus untuk mendapatkan pembuktian klinis dengan uji klinis.

"Dibutuhkan kebijakan kolaborasi multi heliks yang mendukung percepatan penelitian dan pengembangan Jamu, OHT dan Fitofarmaka dengan tetap mengedepankan standar keamanan dan manfaat, agar disa diintegrasikan secara best practice dan legal pada pelayanan kesehatan," Inggrid Tania menegaskan.

Momentum Pandemi COVID-19

Dengan adanya pandemi COVID-19, maka semakin besar kebutuhan akan percepatan penelitian dan pengembangan herbal Indonesia, di mana herbal Indonesia dengan segudang riwayat empirik, ditambah hasil-hasil penelitian praklinik telah menunjukkan perannya dalam memodulasi daya tahan tubuh dan berpotensi digunakan sebagai upaya promotif, preventif, atau kuratif (sebagai terapi komplementer, dan tidak menutup kemungkinan sebagai terapi definitif).

Jamu dan OHT didorong standarisasi dan pembuktian klinis dengan case report, case series, case control.

Inggrid Tania menyarankan, perlu dipikirkan uji klinik pragmatik terhadap Fitofarmaka, disamping uji klinik RCT, karena uji klinik pragmatik sesuai dengan real-world setting di praktik pelayanan sehari-hari, dan diharapkan dapat menghasilkan bukti effectiveness yang signifikan.

Perlunya pengkajian terhadap peraturan-peraturan lama yang mungkin tak lagi selaras dengan upaya percepatan penelitian dan pengembangan Jamu/herbal Indonesia dan integrasinya ke dalam pelayanan Kesehatan.

Dokter sebagai healthcare practitioner yang paling sentral perlu memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional/herbal dan kompetensi dalam mengintegrasikan dua paradigma pengobatan (tradisional & konvensional) yang berbeda, ke dalam pelayanan kesehatan.

Misalnya dengan cara: insersi kurikulum pengobatan tradisional komplementer/herbal ke dalam pendidikan kedokteran dan penguatan kompetensi dokter.

Praktisi pengobatan tradisional, baik yang tidak berpendidikan formal maupun yang berpendidikan formal tetap diberi wewenang memberikan pelayanan sesuai standar kompetensi masing-masing.

OMAI yang sudah melalui uji pra klinis dan uji klinis dapat diimplementasikan dalam sistem JKN BPJS Kesehatan, sebagaimana negara Jepang menerapkan Kampo Medicine di dalam pelayanan kesehatan nasional mereka. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: