ASEAN Recommendations on Traditional and Complementary-Alternative Medicine-2020
Tanggal Posting : Minggu, 31 Mei 2020 | 02:46
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 335 Kali
ASEAN Recommendations on Traditional and Complementary-Alternative Medicine-2020
Suasana Virtual Meeting: ASEAN Recommendations on Traditional and Complementary-Alternative Medicine-2020, di B2P2TOOT- Tawangmangu, Jawa Tengah.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Di Indonesia pengobatan Jamu, Pijat Tradisional, Hipnoterapi, Yoga, Dry cupping, Nine Indonesia SPA, dan sebagian pengobatan tradisional China merupakan aneka jenis Traditional and Complementary Medicine (T & CM) yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sedangkan layanan T & CM yang dilakukan di Rumah Sakit, meliputi diagnosa dan treatment dengan acupuncture, acupressure dan herbal medicines. Ada 10 terbanyak masalah kesehatan di Indonesia yang menjadi alasan, untuk pemanfaatan  pengobatan T&CM, yaitu: masuk angin dan demam, batuk, gangguan pencernaan, sakit kepala/migrain, nyeri haid, mual kembung, konstipasi, osteoporosis, anoreksia dan nyeri otot.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kemenkes RI., Akhmad Saikhu, M.Sc.PH. seusai mengikuti "Meeting of Focal Points of Traditional Medicine to Develop the ASEAN Recommendations on Traditional and Complementary Medicine (T & CM)," yang dilakukan secara virtual pada Kamis, 28 Mei 2020.

Pada event ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A (K), M.Kes, MH.Kes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI., didampingi peneliti dari B2P2TOOT dan Puslitbangkes SDPK, serta Biro Kerjasama Luar Negeri Kemenkes RI.

Akhmad Saikhu menambahkan bahwa pertemuan ilmiah ini, dipandu/host oleh Departement of Thai Traditional and Alternative Medicine, Ministry of Health. Diikuti oleh: Indonesia, Cambodia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Singapura dan Vietnam, bersama tim ASEAN Secretariat (ASEC) mendiskusikan draft Baseline Information on T & CM Services in the Health Care System of AMS dan Recommendations on T & CM Quality Health Care.

Berita Terkait: Megarustamakan Pengobatan Tradisional Indonesia

saikhu

Lima Program Kerja

Pertemuan ini merupakan agenda The ASEAN Health Cluster 3 Work Program 2016-2020. Ada 5 program kerja yang harus dirampungkan dalam Agenda the ASEAN Cluster 3 tersebut, yaitu:

  • Sharing the best practice on T&CM, yang sudah dilaksanakan pada tahun 2017
  • Baseline information on T&CM Services in the health care system on ASEAN Member State (AMS)
  • Development of T&CM Practice Guidelines
  • Workshop and Training on QC of T&CM Products
  • ASEAN Recommendations on Quality Health Care, termasuk T&CM.

Ada dua output dalam pertemuan ini, yaitu Baseline Information on T&CM Services in the Health Care System of AMS dan Recommendations on T&CM Quality Health Care.  Informasi dasar pelayanan T&CM merupakan laporan dari survey dimana kuesioner sudah dibagikan ke masing-masing negara pada tahun 2018.

Pada kesempatan ini, Akhmad Saikhu menuturkan, masing-masing negara ASEAN melaporkan jenis-jenis pelayanan T&CM pada sistem pelayanan kesehatan maupun praktek yang ada di masyarakat negara ASEAN.

Draft rekomendasi penguatan kualitas pelayanan Kesehatan termasuk T&CM, terdiri dari 3 aspek, yaitu: aspek fasilitas Kesehatan (health facilities), aspek SDM (human resource in T&CM Healthcare) dan aspek paket pelayanan (service packages).

Rekomendasi aspek fasilitas Kesehatan antara lain AMS diminta untuk meningkatkan jumlah fasilitas Kesehatan, anggaran, perbaikan infrastruktur dan kepastian hukum dalam sistem pelayanan T&CM. Rekomendasi aspek SDM meliputi peningkatan jumlah praktisi T&CM, training, akreditasi, kolaborasi jejaring riset dan perguruan tinggi dalam riset etnobotani.

Rekomendasi aspek pelayanan antara lain mendorong dimasukkannya pelayanan kesehatan tradisional dan komplenter ke dalam Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional khususnya pada level Primary Health Care (PHC), termasuk ke dalam sistem asuransi Kesehatan.

"Karena keterbatasan pada saat online meeting, maka draft tersebut masih perlu direvisi dan difinalisasi dengan memasukkan usulan dari masing-masing AMS," kata Akhmad Saikhu menegaskan. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: