Kisah Masyhur Hilirisasi Pangan Fungsional yang Inovatif
Tanggal Posting : Selasa, 24 Agustus 2021 | 19:19
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 3302 Kali
Kisah Masyhur Hilirisasi Pangan Fungsional yang Inovatif
Kita harus ngotot agar hilirisasi berhasil, tetapi tidak keras kepala. Proses hilirisasi perlu mengajarinya pelan-pelan, mengajak berfikir proven tidak mudah.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Kisah masyhur hilirisasi permen Kayu Putih, Teknologi Tempe Cepat dan Glucodiab Drink patut menjadi inspirasi periset dari berbagai lembaga, agar memiliki road map menjelmakan hasil risetnya menjadi produk inovatif kompetitif. Semangat ’super ngotot’ itu diusung oleh Prof. Dr. Ir. C Hanny Wijaya.

Saya bersyukur, menyimak kisah masyhur dua profesor beda generasi, yaitu: Prof. Dr. Ir. C. Hanny Wijaya, M.Agr. (TropBRC; Dept. ITP FATETA IPB, P3FNI), dan Prof. Dr. Dra. Dyah Iswantini Pradono, M.Agr. (TropBRC; Dept. Kimia FMIPA IPB).

Keduanya berbagi kisah manis- lika liku melakukan hilirisasi hasil risetnya bersama tim, pada ajang webinar "Hilirisasi Produk Hasil Riset" yang diselenggarakan oleh PUI-PT Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) LPPM IPB University, Selasa, 24 Agustus 2021.

Ingatan saya meluncur pada sosok Prof. Dr Ing BJ Habibie, Presiden Ke-3 Republik Indonesia- yang dulu juga sering mengingatkan, agar riset itu berfalsafah berawal diakhir dan berakhir diawal. Riset perlu disain dengan road map yang jelas, agar menghasilkan produk inovatif kompetitif.

Sayang sekali, pesan Prof. BJ Habibie belum sepenuhnya dijadikan pedoman para peneliti, sehingga belum banyak proses hilirisasi produk hasil riset ini menjadi kenyataan. Namun, kita tetap harus terus mendorongnya.

Indonesia baru saja merayakan 76 Tahun Merdeka, pada 17 Agustus 2021. Kegalauan atas belum mandirinya Indonesia di banyak hal, disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia- dalam Rangka Hut Ke-76 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, 16 Agustus 2021.

"Kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus kita pecahkan. Tetapi, pandemi telah mempercepat pengembangan industri farmasi dalam negeri, termasuk pengembangan vaksin merah-putih, dan juga oksigen untuk kesehatan. Ketersediaan dan keterjangkauan harga obat akan terus kita jamin, dan tidak ada toleransi sedikit pun terhadap siapa pun yang mempermainkan misi kemanusiaan dan kebangsaan ini," Presiden Jokowi menegaskan.

Padahal Indonesia memiliki kekayaan mega biodiversitas- yang sejatinya sangat potensial untuk diolah menjadi bahan baku obat alami, untuk dijadikan obat herbal, atau pangan fungsional. Ini tantangan kita bersama untuk mewujudkannya! Klik disini untuk membaca: Merajut Kemandirian Obat Nasional, OMAI Masuk Sistem JKN 

Dalam proses hilirisasi dan komersialisasi dikenal sejumlah istilah, antar lain: invensi (invention), inovasi (innovation) dan difusi (diffusion). Jewkes, Sawers dan Stillerman (1969) menyebutkan bahwa invensi (invention) adalah sesuatu dapat bekerja dengan baik didukung oleh ujicoba, fakta-fakta yang dapat bekerja dan berfungsi. Ada kegunaan, ada kemanfaatan untuk kemudahan yang dinikmati masyarakat dari invensi.

Inovasi dimaksudkan mengadaptasikan suatu invensi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dan meningkatkan aktivitas ekonomi (komersial). Sedangkan Difusi didefinisikan sebagai tingkat dan  kecepatan penyebaran setiap hasil/produk riset ke pengguna atau sistem sosial.

Kisah Profesor Ngotot Hilirisasi Hasil Riset

Suara lantang dan ceria meluncur ringan dari Prof. Dr. Ir. C Hanny Wijaya, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang pagi ini memaparkan makalahnya "Tiga Versi Hilirisasi Hasil Penelitian Pangan Fungsional Menjadi Karya Inovasi"

Saya mengenal Prof. Hanny- sejak awal-awal saya mendirikan JamuDigital. Tentunya Prof. Hany pernah juga tampil di JamuDigital.Com.  Ini artikel, Klik Disini: Optimasi Ekstraksi Bahan Minuman Tradisional Indonesia.  Artikel ini mengupas proses ekstraksi yang optimal bahan-bahan minuman tradisional Indonesia, yaitu: Kumis kucing, Secang, Jahe dan Temulawak.

Dengan latar belakang Pendidikan S1 (Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Indonesia)-1983, S2 (Kimia Pertanian, Universitas Hokkaido, Jepang)-1987, dan S3 (Kimia Pertanian, Universitas Hokkaido, Jepang)-1990, Prof. Hanny tentu sangat piawai dalam proses riset pangan fungsional.

Kendati lama tinggal di Jepang, logat bahasa Jawanya masil kental, karena Prof. Hanny lahir di Semarang, Jawa Tengah. Banyak hasil invensi yang belum terkomersialisasi dengan baik. Padahal potensinya besar, untuk menjadi produk yang unggul.

"Pengembangan pangan fungsional lokal dan ingredien alami yang ramah lingkungan sebagai upaya pelestarian sumber daya berkesinambungan," ungkap Prof. Hanny seraya menambahkan bahwa pangan itu bukan obat, preventif bukan kuratif.

Inovasi Prof Hanny

Kiat Prof. Hanny dalam memproduk konfeksioneri fungsional yang unik, ada tujuh, yaitu:

  • Khas Indonesia
  • Berbahan baku lokal
  • Disukai citarasanya
  • Harga Terjangkau
  • Mudah dan Praktis
  • "Omiyage" (buah tangan)
  • Berkhasiat

Dikutip dari website Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI)- Terminologi konfeksioneri sangat erat kaitannya dengan segala hal yang manis, gula-gula dan juga permen. Namun, konfeksioneri lebih dari sekadar itu, pada dasarnya konfeksioneri dibagi menjadi bakers confections dan sugar confections. Bakers confections atau biasa juga disebut dengan flour confections terdiri dari jenis-jenis kue, pastries, dan produk panggang seperti bakeri.

3 Versi Hilirisasi Produk

Cajuputs Candy-Permen Kayu Putih. "Minyak atsiri kayuputih adalah 100% produk asli Indonesia, karena disuling dari daun tumbuhan kayuputih yang tumbuh asli di Kepulauan Maluku, dibudidayakan secara luas di Pulau Jawa dan digunakan sebagian besar penduduk Indonesia," ulas Prof. Hanny tentang awal mula meriset Kayu Putih.

Tentang aroma khas Kayu Putih, juga memiliki ikatan emosional tersendiri bagi profesor yang terpilih menjadi Anggota kehormatan IAFoST (International Academy of Food Science and Technology) ini, mungkin karena lahir di Jawa, dimana kebiasaan masyaraat Jawa sejak kecil memang terbiasa diboreh dengan minyak Kayu putih sehabis mandi.

Top of mind Kayu Putih memang dalam bentuk minyak- yang serba guna- yang sangat terkenal di Indonesia. Bagaimana jika diolah menjadi pangan fungsional dalam bentuk permen? Nah itu dia yang diriset oleh Prof. Hanny.

Eksistensi permen Kayu Putih ini menjadi trending ditengah pandemi COVID-19 yang salah satu gejalanya adalah batuk. Mengunyah permen Kayu Putih tentu akan menghangatkan badan. Mulai dari kerongkongan hingga ke perut. Sehingga dapat menjadi pelega tenggorokan!

Permen Cajuputs merupakan sebuah karya inovasi permen keras fungsional (lozenges) komersial. Khasiat cajuputs memberikan sensasi menyegarkan pernafasan, melegakan tenggorokan, dan menghangatkan. Selain itu, Cajuputs Candy juga menjaga homeostasis mikroflora mulut dengan potensi fungsi sebagai "oral health care".

Cajuputs candy original merupakan produk pertama yang dirilis ke pasar, saat ini telah dikembangkan varian citarasa juga varian non-sukrosa yang cocok untuk penderita diabetes.

Komersialisasi produk Cajuputs Candy original telah dirintis sejak tahun 2003-2005 oleh Pusat Studi Biofarmaka-LPPM IPB, dilanjutkan oleh PT Biofarindo hingga 2011. 

Road Map Cajuputs Candy. The innovation of "Cajuputs Candy." Starting from 1996 up to now (25 years), research on the efficacy & development of original product- non sucrosa original (2012).- non-sucrose fruity with honeydew milky flavor (2013).-soft (chewy) candy (2015). - honey dan matcha mango (2016 - present). Anti Dental Caries (in vitro). In collaboration with Prof. Boy Bachtiar, Faculty of Dentistry University of Indonesia.

Glucodiab. Merupakan pengembangan Fungsi Fisiologis Aktif Dan Produksi Serta Komersialisasi Ramuan Fungsional Berbasis Kumis Kucing. Telah dilaunching pada 16 December 2020, disambut dengan baik oleh Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN, BPOM, LPDP serta IPB.

"Saya bermimpi membuat Jamu yang enak. Diterima rasa dan aroma. Manfaat yang terbukti secara ilmiah, mutu yang terkendali. Keunggulan akademik sangat ampuh dalam kompetisi pasar," ujar Prof. Hanny penuh semangat, seraya menambahkan; "Tanam benih yang baik, harapkan panen yang baik pula".

Teknologi Tempe Cepat. Ini adalah inovasi teknologi tepat guna yang dapat mempercepat proses pembuatan tempe, sehingga dapat menghemat biaya. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan mutu tempe yang kurang konstan, jika dilakukan dengan metode tradisional.

"Tempe Cepat" adalah tempe yang dibuat dengan pengasaman kimiawi menggunakan Glucono Delta-Lactone (GDL), untuk mereduksi lama pengasaman kedelai. Teknologi ini memiliki kelebihan ramah lingkungan karena hemat air dan mengurangi limbah air rendaman, serta mempercepat proses pembuatan tempe. Selain itu, tempe yang dihasilkan memiliki mutu dan cita rasanya yang lebih stabil.

Dalam hlirisasi, kita harus membuat trend. Ada nasehat, buah yang manis itu yang dipetik dengan susah payah. Produk obat itu pasarnya panjang, kalau pangan fungsional memang terkadang naik turun trendnya, pesan Prof. Hanny.

Awalnya, Prof. Hanny juga tidak yakin dengan upaya hiirisasi. Jika kita dapat menunjukkan produk yang unggul, maka akan dapat partner juga. Kita dosen sudah digaji, tugas kita menyebar informasi yang kita riset. Saya bahagia, ide saya banyak dimanfaatkan masyarakat," lanjutnya.

Kita harus ngotot agar berhasil hilirisasi, tetapi tidak keras kepala. Dalam hilirisasi perlu mengajari secara pelan-pelan, mengajak berfikir proven itu tidak mudah. Namun sekarang saya sudah mulai dapat memberikan pencerahan kepada banyak pihak untuk menularkan hilirisasi.

Ada kebahagian yang tidak dimiliki oleh siapapun, jika kita dapat bermanfaat untuk banyak orang, dari kita yang pegawai negeri sudah mendapat dana dari pemerintah, tentu sangat penting untuk menghasilkan yang bermanfaatkan bagi masyarakat. "Ini yang sering saya sampaikan kepada para periset di banyak kesempatan," tegasnya.

"Saya melakukan ini sebagai pegawai IPB, ada lembaga yang mengatur kerjasama dengan pihak luar yang ingin melakukan kerjasama. Apa yang saya kerjasamakan atas nama IPB, saya sebagai jembatan saja. Hirilirasasi itu harus kerjasama tim," tegas Prof. Hanny.

Menjawab pertanyaan saya, apakah ada matakuliah Hilirisasi Riset di Fakultas-Fakultas mengingat dari paparan Prof. Hanny tadi yang perlu skill dan konsep manajemen untuk mengimplementasikan hilirisasi, agar ada bekal bagi para periset? "Belum ada matakuliah seperti itu. Untuk itu, saya bersedia berbagi kepada berbagai pihak untuk menjelaskan prosesnya dari hulu hingga ke hilir," urai Prof. Hanny.

Terus semangat Prof. Hanny dan para Peneliti Indonesia. Ayo Bikin Indonesia Bangga!

Depok, 24 Agustus 2021

Karyanto- Founder JamuDigital

LAMPIRAN. Data Lengkap Invention Prof. Dr. Ir. C Hanny Wijaya. Professor of Food Technology Study Program

Expertise: Food Chemistry, Functional Food, Food Flavor, Food Additives and Regulations, Food Sensory Evaluation, Food Chemistry Analysis

Invention:

  • Cajuputs Candy (Eucalyptus Oil Candy)
  • Functional drinks based on Java Tea
  • Quick Tempe
  • Other findings:
  1.  Commercial garlic powder (patent)
  2.  Commercial shallot powder (patent)
  3.  Ballast agents and scrubbing agents from dammar gum (patent)
  4.  Drinks containing Ganoderma lucidum extract (patent)
  5.  Andaliman powder (process)

Achievement:

  • Science and Technology Award and Innovation category from the Ministry of Research, Technology and Higher Education in 2018
  • Hokkaido University Ambassador for 2016-2019 period and 2019-2022 period
  • Honorary Member of IAFoST (International Academy of Food Science and Technology), 2018.
  • 3rd Place of Most Outstanding Lecturer in Science and Technology Category, 2018
  • Chosen in Indonesian Innovation from Kemenristekdikti and Business Innovation Center 110 (2018), 106 (2014), 103 (2011), 101 (2009), 100 (2008).
  • Japanese Society for Promotion of Science (JSPS) FY Bridge Fellowship 2018
  • ASEAN Food Production at AFC Singapore, 2013
  • Extraordinary Intellectual Property Award (AKIL) from six RI ministries, 2012
  • Roosseno Award (Indonesian Spice Council), 2013.
  • The Most Outstanding Lecturer in Small Medium Industry Study Programs (MPI-IPB), 2003, 2009, 2010, 2011, 2012, 2014.
  • The Most Inspiring Lecturer in Fateta-IPB, 2013
  • 100 Indonesian Outstanding Women Researchers (Indonesian Outstanding Researchers). UNESCO, 2010
  • Award for the Indonesian Food Technology Association (PATPI) Award, 2010.
  • Best oral presenter on 1st International Symposium on Temulawak, 2008.
  • Citra Wanita Berprestasi Terbaik Indonesia (Yayasan Citra Profesi Indonesia), 2000.
  • Citra Wanita Indonesia (Yayasan Nirwana Indonesia), 1999.
  • Woman of the Year 1998-1999 (Indonesian Award Foundation), 1999.
  • URGE (University Research for Graduate Education) Publication Award, 1997.
  • Citra Kartini Award in the category of Outstanding Scientists, Citra Prestasi Indonesia Foundation, 1996
  • Invited Scientist of JAFIC (Japan Association of Food International Commercial), 1991.
  • Outstanding Woman Scientists, Association University Woman of Japan, 1989.
  • Winner of Japanese Composition Contest for Foreigner, International Exchanges Research Institute, 1989.
  • Inviting fellows from JSPS, DAAD, URGE, and Japan Foundation.

Organization:

  • President of the Indonesian Association of Flavor and Fragrant (Association of Flavor and Fragrance Indonesia, AFFI), 1996-present.
  • Chair of the Hokkaido University Alumni Association in Indonesia, 2015-present.
  • Chair of the Indonesian Association of Functional and Nutrition Food Activists, 2015-present.
  • Members of the European Association for Integrating Knowledge Science and Engineering Knowledge into the Food Chain (ISEKI-food association), Austria, 2011-2014.
  • Member of the Indonesian Microbiology Association, 2014-present.
  • Member of the Indonesian Food Technology Association (PATPI), 1992-present. (Dikutip dari: https://dev.ipb.ac.id/lecturer/index/2019/04/prof-dr-ir-c-hanny-wijaya/10)

 


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2024. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: