Kisah Masyhur Hilirisasi Obat Herbal Terstandar
Tanggal Posting : Kamis, 26 Agustus 2021 | 05:43
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 3021 Kali
Kisah Masyhur Hilirisasi Obat Herbal Terstandar
Prof. Dyah Iswantini menjelaskan dalam melakukan penelitian Obat Herbal harus memperhatikan, tiga hal ini, yaitu: Kualitas, Keamanan, dan Efikasi.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Ingin berhasil melakukan hilirisasi produk hasil riset Obat Herbal Terstandar (OHT)/Fitofarmaka yang kini dikenal sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI)? Pahami dan implementasikan Manajemen Tahapan Hilirisasi Produk!

Tahapannya secara umum terdiri dari up stream dan down stream, yaitu terkait dalam beberapa hal penting ini, yaitu: raw material, suppliers, manufacture, distribution, consumers. Dan menggunakan diagram Proses Hilirisasi Produk: Standardisasi Bahan Baku, Uji Pra-klinik dan Uji Klinik.

Apa peluang yang dapat diperoleh: Sebagai substituent, Sebagai komplementer, Sebagai adjuvant Therapy. Lantas apa tantangannya? Masih banyak penelitian yang belum terhilirisasi atau masih dalam proses. Siapa para pengampu kepentingan yang terkait sebagai kunci masa depan obat herbal: ABGCM (Academica, Business, Government, Community, Media).

Itulah antara lain, catatan penting saya- ketika saya menyimak paparan Prof. Dr. Dra. Dyah Iswantini Pradono, M.Agr. (TropBRC; Dept. Kimia FMIPA IPB-University) pada webinar "Hilirisasi Produk Hasil Riset" yang diselenggarakan oleh PUI-PT Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) LPPM IPB University, Selasa, 24 Agustus 2021.

Pada ajang ini juga tampil sebagai narasumber: Prof. Dr. Ir. C. Hanny Wijaya, M.Agr. (TropBRC; Dept. ITP FATETA IPB, P3FNI). Artikel tentang Prof Hanny Wijaya: Klik Disini, Kisah Masyhur Hilirisasi Pangan Fungsional yang Inovatif. 

Keduanya berbagi kisah manis- lika liku melakukan hilirisasi hasil risetnya bersama tim mereka. Kesabaran dan kegigihan mewujudkan mimpi memiliki produk dari hasil riset yang sudah menguras energi, pikiran dan biaya.

Bagi saya, sharing pengetahuan ini sangat menarik, karena dua profesor beda generasi ini, sama-sama memiliki spirit untuk ’membumikan’ hasil risetnya menjadi produk yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dampaknya tentu sangat luas, tidak saja aspek kemanfaatan dari produk tersebut, tetapi juga multiplier effect yang dapat bergulir, seperti akan bergeraknya sektor hulu penyediaan bahan baku obat herbal, hingga daya pengungkit di sektor hilir yaitu industri obat herbal, pendistribusian, hingga menyentuh ke tangan konsumen.

Mempresentasikan makalah berjudul "Hilirisasi Produk Obat-Obat Herbal Terstandar untuk Penyakit Degeneratif", Prof. Dyah Iswantini yang menempuh Pendidikan Sarjana Kimia di Universitas Gadjah Mada (1990), Gelar Master dari University of Kyoto, Japan (1997), dan Gelar Doktor dari University of Kyoto, Japan (2000) ini, memberikan kiat dalam melakukan hilirisasi, yaitu:

"Jangan mudah putus asa, terkadang perencanaannya berubah-ubah, dan kita harus fleksibel. Maka perlu banyak kandidat produk. Harus semangat terus meneliti sebagai hobby, nanti pasti ada yang nyantel....," ujar wanita kelahiran Sukoharjo- Jawa Tengah ini, menyiasati tantangan yang tidak mudah dalam mewujudkan hilirisasi produk hasil riset.

Mengapa Prof. Dyah Iswantini memilih hilirisasi obat herbal untuk penyakit degeneratif ya...?

Ini penjelasannya. Penyakit degeneratif adalah penyakit yang disebabkan oleh penurunan kualitas sel tubuh yang berdampak sistemik. Umumnya diakibatkan oleh proses penuaan. Misalnya: Penyakit Hipertensi, penyakit jantung, Diabetes, Asam Urat (Gout), Osteoporosis.

Penyakit degeneratif tidak bersifat menular, namun menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dan penyebab kerugian hingga miliaran dolar (WHO, 2006).

Sekitar 1 dari 3 orang di dunia menderita hipertensi, menurut catatan WHO pada 2015. Dari 10 penyebab kematian di Indonesia, 5 diantaranya terkait dengan penyakit degeneratif Faktor tertinggi adalah Hipertensi. Itulah alasan Prof. Dyah memilih riset obat herbal untuk degeneratif dan melakukan hilirisasi.

Indonesia sebagai Negara Mega-Biodiversitas

Tiga perempat dari 40. 000 spesies flora di dunia dapat ditemui di Indonesia, dan 940 di antaranya diketahui khasiatnya sebagai obat herbal yang secara tradisional digunakan oleh beragam suku bangsa di Indonesia. Pemanfaatan biodiversitas Indonesia sebagai herbal merupakan salah satu wujud rasa syukur kita akan limpahan karunia-Nya.

Dalam pengembangan Obat Tradisional Indonesia, mulai dari Saintifikasi Jamu hingga Obat Herbal Fitofarmaka yang sekarang digaungkan sebagai OMAI (Obat Moders Asli Indonesia). Kemudian ada UU No. 36/2009, Tentang Kesehatan, disebutkan Jamu adalah "Pengobatan Tradisional", bahan-bahan maupun ramuan yang diambil dari tanaman, hewan, mineral, ekstrak ramuan, maupun campurannya yang mana secara tradisional digunakan berdasarkan norma yang hidup di masyarakat.

Pengembangan Obat Herbal "Jamu" di Indonesia terus dilakukan karena kekayaan biodiversitas, memiliki aspek: Kekayaan Sosial dan Budaya, Ekonomi dan Teknologi Kesehatan. Terlebih lagi adanya gerakan "Kembali ke Alam." Maka tidak heran, jika pasar Obat Herba di dunia mencapai 105 Milyar USD (2017), dana diperkirakan akan naik menjadi  5 Triliun USD pada 2050.

Prof. Dyah menjelaskan dalam melakukan penelitian Obat Herbal harus memperhatikan, tiga hal ini, yaitu: Kualitas, Keamanan, dan Efikasi. "Obat tradisional dan ramuannya serta data etnobotani merupakan kekayaan tradisional yang perlu digali dan dicari landasan ilmiahnya. Juga memperhatikan aspek supply and demand dalam keseimbangan, agar terjaga dalam aspek kuantitas," sarannya.

Dukungan pemerintah dan kontribusi usaha pemanfaatan biodiversitas Indonesia untuk pengembangan herbal. Seperti: Deklarasi "Jamu Brand Indonesia" (Presiden SBY, 2008). Program "Saintifikasi jamu" sejak tahun 2010.

Produk telah dikembangkan oleh Prof. Dyaha adalah herbal anti gout, anti hipertensi, dan anti obesitas yang telah teruji secara in vitro dan pra klinis serta dilengkapi dengan mekanisme kerja formula, ketersediaan bahan baku herbal yang terstandar.

Produk hilirisasi itu, yaitu: Obat Herbal Anti-Gout: Peranan Obat Herbal Anti gout dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, mengurangi ketergantungan obat impor. Bahannya dari Sidaguri, Seledri, Tempuyung (Nuric). Obat Herbal Anti Obsitas: Kunci Pepet, Asam Gelugur (ProliSlim). Dan Obat Herbal Anti Hipetensi: Pegagan, Kumis Kucin, Sambiloto.

Kalkulasi yang sangat perlu diperhikan, antara lain: Penelitian didasarkan akan kebutuhan pasar, Kerjasama dengan industri setelah memperoleh kandidat OT, Penelitian didasarkan oleh kebutuhan industry,  Keterlibatan BPOM dari awal sampai komersialisasi, Perhitungan ekonomi sejak penentuan bahan baku dan ekstrak, Teknologi peningkatan senyawa aktif bahan baku dan ekstrak, Keterlibatan profesi kesehatan sejak awal penelitian, Pendampingan ahli hukum dalam penyusunan kerjasama komersialisasi dan pengembangan produk komersial.

Semangat Prof. Dyah Iswantini, terus tularkan gairah hilirasi, agar hasil riset dapat mengalir menjadi produk obat herbal Indonesia yang berkualitas hingga mampu menembus pasar global!

Depok, 26 Agustus 2021

Karyanto, Founder Jamu Digital

LAMPIRAN. Prof. Dr. Dyah Iswantini Pradono, M.Sc.Agr. Professor of Chemistry Study Program

Expertise: Field of Development of Herbal Medicines and Biosensors

Invention:

  • Herbal medicine for anti-gout, anti-obesity and anti-hypertension which has high efficacy over other drugs in general.
  • Herbal anti-obesity concoction can reduce weight up to 11.22% for 12 days (normal eating conditions). This product has received marketing authorization from BPOM and is produced by PT Indofarma Tbk under the name "Prolislim". The work mechanisms is by inhibiting the absorption of fat in the intestine.
  • Herbal anti-hypertension concoction is also having great result. The herbal product has ability to reduce blood pressure faster. This product is the result of collaboration with PT. Indofarma Tbk, BPPT and Balittro.
  • Anti-gout products have been produced by PT Biofarindo under the name "Nuric" and product development is being carried out in collaboration with PT BLST IPB.
  • In addition to developing herbal medicines, it has found uric acid biosensor methods, alcohol and Indonesian microbial-based antioxidants.

Achievement:

1. Produce 7 patents, 5 of it have been granted, namely:

  • Extract Formula of Apium Garveolens L. and Sida Rhombifolia as Fitopharmaca for Gout (Lead inventor)
  • Herbal Medicine Composition for Gout (Inventor Member)
  • Laxative Composition containing Standardized Extract from Kamandrah Seeds (Inventor Member)
  • Acid Gelugur Extract Formula and Rhizome of Kunci Pepet as Slimming agent (Inventor Chair)
  • Antihypertensive Herbal Medication Formula Based on Gotu Kola Extract (Lead Inventor)

2. The Most Prospective Indonesian Innovation from the Indonesia Business Innovation Center, Ministry of Research, Technology and Higher Education and the Indonesian Institute of Sciences / LIPI for the Health-Drug Category:

  • Antioxidant Nano biosensor Based on Indonesian Biodiversity (2015)
  • Anti-Hypertension Standard Herbal Medicine Indonesia (2015)
  • Healthy Joints with Celery (2013)
  • Goodbye Obesity (in 2011)
  • Hypertension Exterminator (in 2011)
  • Kamandrah as Living Larvicide Prevention of Dengue Hemorrhagic Fever (Year 2010)
  • The formula for Apium graveolens and Sida rhombifolia Lamk. as Anti Gout (in 2008)

3.  1st Place of 2012 National Most Outstanding Lecturer

4.  Best Research from the Research and Technology-Kalbe Science Award in 2012

5. Widyasilpawijana Science and Technology Award from the State Ministry of Research and Technology of Indonesia in 2011

6. Extraordinary Intellectual Property Award by the Government of Indonesia represented by four Ministers (Minister of National Education, Minister of Agriculture, Minister of Research and Technology and Minister of Law and Human Rights) in 2009

Organization:

  • Chair of the Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, IPB
  • Speaker at the Tropical Biopharmaceutical Study Center, LPPM IPB
  • Assessor of Higher Education National Accreditation Agency (BAN PT)
  • National research reviewers
  • Reviewer of the Private Education Development Program from Indonesian Ministry of Research, Technology and Higher Education. (Sumber Dokumen: https://ipb.ac.id/lecturer/index/2019/04/prof-dr-dyah-iswantini-pradono-m-sc-agr/5)


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2024. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: