Jamu Menjadi Objek Pemajuan Budaya Bangsa
Tanggal Posting : Kamis, 10 Oktober 2019 | 06:36
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 457 Kali
Jamu Menjadi Objek Pemajuan Budaya Bangsa
Inggrid Tania, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, Stefanus Handoyo Saputro, Marlina Irawati pada PKN 2019 di Istora Senayan.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU. Ada 10 Objek Pemajuan Budaya, satu diantaranya adalah Jamu. Jamu dikelompokkan ke dalam Pengetahuan Tradisional. Yaitu ide dan gagasan dalam masyarakat yang mengandung nilai-nilai kelokalan sebagai hasil pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Contoh: busana, kerajinan Jamu, makanan dan minuman loKal, dan sejenisnya.

Demikian hal tersebut mengemuka pada Acara Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 yang berlangsung pada 7-13 Oktober 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Tampak hadir: Ketua DPP GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, Direktur Eksekutif DPD GP. Jamu Jawa Tengah, Stefanus Handoyo Saputro, dan Inggrid Tania, Ketua II ADSII (Asosiasi Dokter Saintifikasi Jamu Indonesia), Marlina Irawati (Staf DPP GP. Jamu)

PKN 2019 merupakan kegiatan Kelanjutan dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 yang telah merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia.

"Saya melihat PKN ini merupakan ruang ekspresi budaya yang terbuka bagi setiap warga negara tanpa diungut biaya, dengan beragam acara seperti Pameran, Konferensi, Seminar, Workshop, Bazar, dan lain-lain, yang melibatkan semua objek Pemajuan Kebudayaan dengan pelaku-pelakunya, mulai dari anak-anak hingga lansia, " urai dr. Inggrid Tania, M.Si. Herbal, Ketua II ADSII (Asosiasi Dokter Saintifikasi Jamu Indonesia) yang ikut memberikan edukasi Jamu pada PKN 2019 ini.

PKN ini selain merupakan ajang ekspresi, juga menjadi ajang edukasi yang menyenangkan untuk masyarakat dari semua kalangan usia. Banyak pengetahuan baru yang kita dapatkan pada PKN ini, misalnya budaya-budaya dari setiap provinsi, Inggrid Tania menambahkan.

Saya terharu, lanjut dia, menyaksikan berbagai rangkaian acara yang menggugah kesadaran dan kebanggaan bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Terlepas dari kekurangan kecil di sana-sini, Semangat Bhinneka Tunggal Ika sangat tergambarkan pada acara ini.

Khusus terkait objek pemajuan kebudayaan berupa pengetahuan tradisional tentang pengobatan/penyembuhan (termasuk Jamu), adanya konferensi/ seminar jalur rempah dan kearifan lokal berbasis ekologi, juga diskusi dengan generasi muda peneliti tumbuhan/tanaman obat (peneliti bajakah) memberikan wawasan dan menggugah semangat untuk mengembangkan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional mengenai pengobatan/penyembuhan dengan tetap menjaga keseimbangan alam.

"Saya menyaksikan bagaimana antusiasme dan partisipasi aktif pengunjung PKN dalam memanfaatkan PKN ini sebagai wisata edukasi budaya," Inggrid Tania menyampaikan kesannya.

Sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan:

  1. Adat Istiadat. Kebiasaan kelompok masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai tertentu. Contoh tata kelola lingkungan, tata cara penyelesaian sengketa, dan sejenisnya.
  2. Bahasa. Sarana komunikasi antara manusia dalam wujud lisan, tulisan, dan isyarat. Contoh: kosakata, tata bahasa dan aksara Indonesia maupun daerah.
  3. Manuskrip. Naskah beserta segala informasi budaya dan sejarah yang terkandung didalamnya. Contoh: serat, babad, kitab, dan catatan lokal lainnya.
  4. Olahraga Tradisional. Kegiatan olah fisik dan/atau mental kelompok masyarakat yang berdasar pada nilai-niali tertentu serta bermanfaat bagi kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh. Contoh: silat, pasola, lompat batu, debus, dan sebagainya.
  5. Pengetahuan Tradisional. Ide dan gagasan dalam masyarakat yang mengandung nilai-nilai kelokalan sebagai hasil pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Contoh: busana, kerajinan jamu, makanan dan minuman loKal, dan sejenisnya.
  6. Permaianan Rakyat. Kegiatan hiburan atau rekreasi kelompok masyarakat yang berdasar pada nilai-nilai tertentu. Contoh: congklak, gangsing, gobak sodor, permaian kelereng, dan sejenisnya.
  7. Ritus. Tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan kelompok masyarakat yang berdasar pada nilai-nilai tertentu. Contoh: perayaan, peringatan kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian, ritual kepercayaan, dan sejenisnya.
  8. Seni. Ekspresi artistik pribadi atau kelompok yang berdasar pada warisan budaya atau daya kreatif dan terwjud melalui berbagai bentuk dan/atau medium. Cotoh; film, sastra, seni rupa, seni pertunjukan, dan sejenisnya.
  9. Teknologi Tradisional. Sarana dan prasarana yang menunjang proses hidup masyarakat sebagai hasil pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Contoh: canting lesung, tumbuk padi, alat pembajak sawah, dan sejenisnya.
  10. Tradisi Lisan. Praktik dan produk tuturan lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Contoh: pantun, rapalan, dongeng, cerita rakyat dan sejenisnya.

Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan menempatkan kebudayaan sebagai landasan segenap lini kehidupan masyarakat. Semua produk dan praktik budaya merupakan hasil pencampuran dan pertemuan masyarakat dari budaya lain.

Tidak ada budaya yang murni. Kebudayaan adalah hasil kesepakatan sekelompok orang di suatu ruang hidup Bersama. Dewasa ini, dengan kemajuan sistem transportasi dan teknologi komunikasi, ruang hidup kita makin saling beririsan. Bisa dipastikan tidak ada budaya yang terkurung dalam cangkangnya sendiri. Kebudayaan akan terus berkembang dan berubah seiring zaman sehingga melestarikan saja tidak cukup.

Pelestarian hanya akan efektif dalam masyarakat yang statis, seragam, dan tertutup dari pengaruh luar. Nyatanya, Indonesia terbentuk dai keragaman. Kita juga akrab dengan kebudayaan bangsa lain. Setiap harinya budaya bar uterus bermunculan dan hidup berdampingan dengan budaya lama. Alih-alih hanya dilestarikan, budaya juga perlu dikembangkan.

Suatu unsur kebudayaan bisa mengandung lebih dari satu nilai atau makna. Kebudayaan lahir sebagai upaya pemenuhan kebutuhan manusia. Ketika kebutuhan manusia berubah atau bertambah, maka pemaknaan masyarakat atas kebudayaan turut berubah. Seiring berkembangya zaman, suatu unsur kebudayaan bisa memiliki nilai atau makna baru kadang beriringan dengan makna lama, kadang menggantikan, dan kadang memperkaya.

Memajukan kebudayaan berarti memajukan setiap unsur dalam ekosistem kebudyaan. Ekosistem kebudayaan tersusun atas susunan interaksi yang saling menunjang antar pelaku, pengguna, infrastruktur, lingkungan dan unsur-unsur kebudayaan dalam suatu kawasan tertentu. Seluruh unsur terhubung dengan berbagai rantai kerja yang mempersatukan jasa, benda, dan makna. Satu unsur lemah, seluruh ekosistem terdampak.

Memajukan kebudayaan berarti turut memajukan ekosistem lain di luar kebudayaan. Kebudayaan terhubung dengan segenap lini kehidupan masyarakat. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi ekosistem social-politik yang melingkupinya. Perkara Pendidikan dan jaminan social, misalnya, berdampak terhadap praktik masyarakat dalam berbudaya. Kita butuh prespektif yang tidak mengkotak-kotakkan dan strategis kerja lintas sektoral. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: