4 Key Point Hasil FGD Konvensi Nasional Kemandirian Penyediaan Bahan Baku Obat dari Bahan Alam
Tanggal Posting : Jumat, 5 Agustus 2022 | 07:17
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 72 Kali
4 Key Point Hasil FGD Konvensi Nasional Kemandirian Penyediaan Bahan Baku Obat dari Bahan Alam
Prof. Yuli Widyastuti, PLT. Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, bersama Kepala Badan POM, Penny K. Lukito pada Konvensi Kemandirian Nasional BBO Bahan Alam.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Badan POM menginisasi Konvensi Nasional "Kemandirian Nasional dalam Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam sebagai Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Saing Produk," yang diadakan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada 4 Agustus 2022.

Diantara beberapa kegiatan tersebut adalah "Focus Group Discussion Kemandirian Nasional dalam Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam sebagai Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Saing Produk Obat Tradisional."

Hal diatas dalam upaya menyiapkan diri untuk menangkap peluang demand terhadap obat dari bahan alam, baik untuk demand dalam negeri dan demand pasar ekspor ke mancanegara.

Kegiatan ini terlaksana melalui sinergi antara BPOM dengan 7 (tujuh) kementerian/lembaga, yaitu: 1.Kementerian Kesehatan, 2.Kementerian Pertanian, 3.Kementerian Perindustrian, 4.Kementerian Perdagangan, 5.Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, 6.Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 7.Badan Riset Inovasi Nasional.

Juga melibatkan pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, serta tokoh masyarakat dan media.

1.Pasokan Bahan Baku Obat Alam Bermutu dan Berdaya Saing

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menjelaskan bahwa obat bahan alam berpotensi besar untuk dikembangkan, mengingat besarnya permintaan masyarakat terhadap obat bahan alam dewasa ini.

Penjualan jamu dan obat herbal nasional di Indonesia diperkirakan dapat mencapai Rp.23 triliun pada tahun 2025.

Potensi ini juga membuka peluang bagi jamu yang berorientasi ekspor, agar dapat menjadi komoditi andalan di pasar global.

WHO memprediksi permintaan tanaman obat dapat mencapai nilai USD. 5 Triliun pada tahun 2050.

Potensi pengembangan yang besar tersebut perlu didukung dengan kemampuan penyediaan dan pasokan bahan baku yang memenuhi standar/persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu, serta kuantitas.

"Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan menjaga stabilitas ketersediaan bahan baku obat bahan alam, baik dari sisi jumlah, kontinuitas (sustainability) , mutu, maupun harganya melalui berbagai upaya intervensi dari hulu ke hilir," ungkap Kepala Badan POM dalam sambutannya.

2. Empat Key Point FGD Kemandirian Nasional Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam Bermutu dan Berdaya Saing

FGD menampilkan sejumlah narasumber, antara lain: Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Prof. Dr. Ir. Yuli Widyastuti, MP., PLT. Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Prof. Dr. Irmanida Batubara, SSi MSi, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPMP IPB.

Sedangkan sebagai penanggap, antara lain: Ditjen Hortiklutra Kementerian Pertanian, Dijen Farmalkes Kementerain Kesehatan, BALITTRO, Fakultas Farmasi UGM, Fakultas Peterbekan dan Pertanian UNDIP, PT Bintang Toedjoe, Java Plant, PT Dexa Medica.

Prof Yuli Widyastuti memaparkan makalah berjudul "Tantangan Dan Konsep Strategis Nasional Untuk Pemenuhan Jumlah Kebutuhan Bahan Baku Produksi Obat Bahan Alam Mendukung Produksi Obat Tradisional."

Prof. Dr. Irmanida Batubara, SSi MSi, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPMP IPB mengupas materi berjudul "Tantangan dan Konsep Strategi Nasional untukTercapainya Bahan Baku yang Memenuhi Persyaratan Mutu Bagi Produksi Obat Bahan Alam."

Berikut ini, Empat Key Point FGD Konvensi Nasional Kemandirian Bahan Baku Obat Bahan Alam yang diterima Redaksi JamuDigital:

1. Jamu merupakan produk kesehatan yang dapat menggerakkan perekonomian, namun sampai saat ini sarana produksi obat tradisional masih mengandalkan bahan baku obat bahan alam impor

2. Sarana produksi obat tradisional belum dapat sepenuhnya menggantungkan kebutuhan bahan baku obat bahan alam dari pasokan dalam negeri, mengingat keterbatasan dalam penyediaan baik dalam hal jumlah maupun mutunya.

3. Terkait dengan belum mandirinya penyediaan bahan baku dari sisi jumlahnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Kondisi saat ini berupa kompleksitas masalah dari hulu ke hilir. Mulai dari tidak tersedianya data kebutuhan jumlah dan jenis bahan baku obat bahan alam sampai terdapat problematika rantai distribusi serta informasi pasar yang bisa diakses secara terbuka.

b. Tantangan berupa keberlanjutan ketersediaan sumber daya alam dan tuntutan global terhadap standar mutu bahan baku.

c. Terhadap tantangan dapat dilakukan upaya sebagai berikut:

-  Pendataan jumlah dan jenis kebutuhan, serta pelaku usaha bahan baku obat bahan alam.

-  Penguatan kelembagaan petani dan pengumpul simplisia.

-  Pengembangan platform digital rantai pasok bahan baku obat bahan alam.

-  Mendorong terwujudnya regulasi terkait produksi dan distribusi bahan baku obat bahan alam.

-  Mendorong riset-riset pengembangan Bahan Baku obat bahan alam.

d. Terkait upaya yang dimaksud pada poin c, pihak yang berperan adalah:

-  Kementan. Melalui program Kampung Tanaman Obat untuk meningkatkan produksi bahan baku obat bahan alam.

-  Perguruan Tinggi. Dengan melakukan penyuluhan sebagai pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

-  Pelaku usaha IEBA. Menginformasikan kondisi lapangan yang dihadapi untuk dilakukan pembahasan.

-  Pelaku usaha sarana produksi OT. Budidaya jahe merah sehingga dapat menjadi role model untuk membangun ekosistem budidaya bahan baku dengan melibatkan unsur ABCG.

4. Terkait dengan belum mandirinya penyediaan bahan baku dari sisi mutunya dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Kondisi saat ini. Sebagian besar bahan baku obat bahan alam dalam negeri berasal dari tumbuhan liar, bahan baku tidak sustainable, diperlukannya mutu bahan baku yang konsisten untuk fitofarmaka terutama yang berkaitan dengan senyawa bahan akti/ marker.

b. Tantangan meliputi permintaan yang tidak menentu, belum tersedianya standardisasi dan sebaran penanaman bahan baku.

c.  Peluang meliputi memiliki beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk menstandardisasi bahan baku, memiliki pusat riset dan road map Jamu.

d.   Terhadap tantangan dapat dilakukan upaya sebagai berikut:

-  Memperjelas strategi supplay antara petani dan pelaku usaha di bidang ekstrak/ obat tradisional.

-  Pembuatan dan penerapan standardisasi metode identifikasi bahan aktif.

-  Melakukan standardisasi mulai dari pembibitan sampai dengan ekstraksi untuk pendapatkan produk/ formula terstandar.

-  Kerja sama A-B-G-C: saling dukung, saling untung, dan penuh berkah.

e. Terkait upaya yang dimaksud pada poin d, pihak yang berperan adalah:

- Pemerintah: membuat regulasi yang mengatur standardisasi mutu bahan baku obat bahan alam dan melakukan pembinaan kepada pelaku usaha.

- Akademisi: melakukan riset pengembangan standardisasi bahan baku obat alam (metode analisa, pattern oriented, standardisasi penanganan bahan paska panen) dan melakukan pembinaan kepada pelaku usaha.

- Pelaku usaha: melakukan kontrol terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas dan berkomitmen menyediakan bahan baku obat bahan alam untuk dalam negeri yang berkualitas.

-  Masyarakat: menggunakan dan mempromosikan produk obat tradisional. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: