Era New Normal Tetap Disiplin Protokol Kesehatan
Tanggal Posting : Minggu, 16 Agustus 2020 | 07:08
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 209 Kali
Era New Normal Tetap Disiplin Protokol Kesehatan
Seminar Daring Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Situasi Terkini COVID-19 pada Jum’at, 14 Agustus 2020.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Belum ada kepastikan kapan wabah COVID-19 berakhir, untuk itu masyarakat tetap harus disiplin menerapkan protokol kesehatan pada era new normal ini.

Demikian salah satu kesimpulan pada Seminar Daring Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Situasi Terkini COVID-19 pada Jum’at, 14 Agustus 2020.

Dua pembicara yang tampil, yaitu: Direktur Penyakit Menular WHO SEARO, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, dan Prof. Dr. Asep Gana Suganda, Guru Besar Sekolah Farmasi ITB. Moderator: dr. Siswanto MHP., DTM.

Plt. Kepala Badan Litbang Kesehatan, dr. Slamet MHP. dalam sambutannya menjelaskan angka positif COVID-19 yang masih terus meningkat merupakan kekhawatiran bersama. Upaya pencegahan penyebaran COVID-19 harus terus dilakukan seiring penanganan medis kepada pasien penyakit menular ini.

"Himbauan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai protokol pencegahan COVID-19 akan terus disuarakan. Di sisi lain instansi terkait, seperti Badan Litbang Kesehatan akan mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan diseminasi hasil riset dan kajian COVID-19 untuk semakin memantapkan komitmen bersama dalam pencegahan penyebaran COVID-19," jelasnya.

Badan Litbang Kesehatan merupakan koordinator nasional laboratorium pemeriksaan sampel COVID-19. Di Badan Litbang Kesehatan terdapat lima laboratorium yang menyelenggarakan pemeriksaan sampel COVID yaitu Laboratorium di Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit, Balai Litbangkes Aceh, Balai Litbangkes Tanah Bumbu, dan Balai Litbangkes Papua.

Selain pengujian sampel COVID-19, Badan Litbang Kesehatan juga menyelenggarakan 24 kajian terkait COVID dengan beragam tema di antaranya: Survey Kesiapan Laboratorium, Uji Validasi Kit Pcr, Perhatian Publik Stigma Sosial Terhadap Pandemi COVID-19 di Jabodetabek, dan Dampak Pandemi COVID-19 terhadap kesehatan jiwa masyarakat.

Kontribusi lain yang menjadi sumbangsih Badan Litbangkes adalah All Record, sebuah aplikasi untuk pelaporan dari laboratorium pemeriksa COVID-19 dan Dinas Kesehatan. Laporan kasus dalam aplikasi ini diakses oleh Ditjen P2P dan Pusdatin Kemkes kemudian dilaporkan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Data tersebut disampaikan oleh juru bicara Gugus Tugas kepada masyarakat.

Salah satu upaya besar yang sedang dilakukan para ilmuwan di berbagai belahan dunia adalah penelitian dan pengembangan vaksin untuk COVID-19. Di Indonesia, riset tersebut telah dilakukan di beberapa institusi yaitu Eijkman, Unpad, Biofarma dan Badan Litbang Kesehatan. Eijkman melakukan pengembangan vaksin dari Whole Genome Sequencing (WGS) virus SARS-CoV-2. Bio Farma bekerjasama dengan Universitas Padjajaran melakukan uji klinik vaksin Sinovac.

Uji klinik ini akan dilakukan selama enam bulan dan jika berhasil maka vaksin akan mulai diproduksi pada kuartal kesatu tahun depan. Badan Litbangkes melalui Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan melakukan koordinasi solidarity trial untuk mendapatkan bukti klinis yang lebih kuat dan valid terhadap efektifitas dan keamanan terbaik untuk pasien Covid-19.

Uji didesain secara khusus untuk mempersingkat waktu yang diperlukan untuk menghasilkan bukti yang kuat terhadap 4 alternatif terapi tersebut tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip Cara Uji Klinis yang Baik/Good Clinical Practice.

Berita Terkait: Diseminasi Formulasi dan Uji Praklinik Jamu

Saikhu

Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Penyakit Menular WHO SEARO  menjelaskan awal mula terjadi wabah COVID-19 di China yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Dipaparkan bahwa sulit memprediksi kapan COVID-19 akan berakhir. Untuk itu, Prof Yoga Aditama semua pihak dapat tetap menjaga protokol kesehatan.

Ibarat kita semua melihat cahaya di ujung terowongan, pada saat COVID-19 terus berkembang, banyak pihak berusaha menemukan obat dan vaksin. Tuntutan adanya perilaku hidup normal baru, saat ini dan di masa mendatang akan mejadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Banyak aspek harus berubah dan menyesuaikan.

Prof. Asep Gana Suganda, dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung menyebutkan dalam presentasinya bahwa sejarah penggunaan tumbuhan sebagai obat adalah seumur peradaban manusia.

Latar belakang dari coba-coba dan La theorie des signatures (menggunakan penanda antara tumbuhan yang dipakai dengan jenis penyakit). Misal tumbuhan yang rasanya pahit untuk mengobati gula darah.

Tanaman obat yang warnanya kuning, misalnya Temulawak untuk mengbati penyakit kuning. "Dikemudian hari terbukti, temulawak sebagai hepatoprotektor," ujar Prof Asep Gana.

Tumbuhan dalam dunia farmasi, digunakan sebagai: Bahan Obat Langsung (Oba, Nutraceutical), Sumber Senyawa Aktif Biologik/Farmakologi, Sumber Bahan Pembantu Pembuatan Sediaan Obat, Sumber Prekursor/Prazat Obat, Sumber Inspirator Struktur Kimia Senyawa Aktif Bilogik/Farmakologi, Bahan Baku Kosmetika, Media Molecular Farming, Bahan Makanan.

Tumbuhan sebagai antivirus. sudah dikenal cukup lama, tapi mungkin pada awalnya leluhur kita belum tahu penyebab sebenarnya penyakit yang ditanganinya, dan baru kemudian diketahui penyebabnya adalah virus. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: