Riset dan Konservasi Tumbuhan Obat Indonesia, Peluang dan Tantangan
Tanggal Posting : Rabu, 31 Mei 2023 | 15:48
Liputan : Redaksi JamuDigital.com - Dibaca : 1745 Kali
Riset dan Konservasi Tumbuhan Obat Indonesia, Peluang dan Tantangan
Potensi tumbuhan obat yang luar biasa ini merupakan peluang dalam pengembangan risetnya sekaligus tantangan untuk meningkatkan kolaborasi dengan berbagai mitra termasuk industri.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati flora yang tinggi dengan beragam suku dan budaya, Indonesia memiliki banyak kearifan lokal.

Salah satunya yaitu pengobatan tradisional yang sudah dilakukan secara turut temurun. Berdasarkan data tahun 2017, Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 32.000 ramuan tradisional di berbagai pelosok nusantara yang menggunakan 2.848 spesies tumbuhan obat.

Potensi tumbuhan obat yang luar biasa ini merupakan peluang dalam pengembangan risetnya sekaligus tantangan untuk meningkatkan kolaborasi dengan berbagai mitra termasuk industri.

Demikian disampaikan Surya Diantina mewakili Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan (PR KTKRK), BRIN pada acara Garden Talk ke-6 yang dilaksanakan secara daring, Selasa (30/5).

Sementara itu Dosen IPB University Ervizal A.M. Zuhud mengatakan ekspedisi Biota Medika yang dilepas oleh Presiden B.J.Habibie tahun 1998 silam merupakan salah satu ekspedisi tumbuhan obat yang berhasil mendata berbagai spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan suku melayu tradisional, suku talang mamak, dan suku anak dalam.

Sejak saat itu inventarisasi lapangan dan penelitian bioprospeksi tumbuhan obat banyak dilakukan dan menghasilkan berbagai publikasi, ujarnya.

Beberapa jenis tumbuhan obat yang sudah diteliti dan dikembangkan antara lain sirsak (Annona muricata), masoi (Cryptocaria massoia), kemenyan (Styrax benzoin), jelutung (Dyera costulata), kamfer atau kapus barus (Dryobalanops camphora), pasakbumi (Eurycoma longifolia), jernang (Daemonorops draco), dan kelor (Moringa oleifera).

Amzu sapaan akrabnya, menyayangkan  saat ini politik impor pangan dan obat global terutama saat pandemi covid-19 telah mengubah life style anak bangsa, sehingga sumber daya tumbuhan obat kita menjadi seperti terabaikan.

Saya berharap melalui riset-riset inovatif pemanfaatan tumbuhan yang menjadi target BRIN dapat meneruskan apa yang sudah ditemukan leluhur kita sebagai kearifan lokal dan penelitian lanjutannya, harapnya. 

Narasumber dari Royal Botanic Gardens, Kew, Bob Allkin pada forum yang sama memaparkan A global view: how nomenclature underpins effective research, regulation, trade and conservation of medicinal plants.  

Bob menegaskan pentingnya validasi nama ilmiah suatu spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat lokal, sebagai dasar penelitian bioprospeksi. Hal ini akibat masih banyaknya penggunaan nama lokal tumbuhan obat yang berbeda-beda di setiap daerah.

Selain itu sebutan yang merujuk pada khasiat bahan obat yang ada di dalamnya masih membingungkan, misalnya ginseng yang ternyata berasal dari bahan tanaman yang berbeda dengan kandungan kimia yang berbeda-beda pula, terang Bob.

Untuk itu, Kew Herbarium dengan 7,5 juta spesimen koleksi tumbuhan termasuk tumbuhan obat, menawarkan solusi penggunaan database ilmiahnya sebagai rujukan penamaan suatu jenis tumbuhan obat. Database ini terus menerus diperbarui seiring dengan perkembangan ilmu taksonomi yang semakin modern.

Bob menawarkan pemanfaatan layanan pengindeksan dan nomenklatur tumbuhan obat dengan mengunjungi situs: www.kew.org/mpns. Bob menambahkan saat ini databasenya sudah berisi 35.000 spesies tumbuhan obat dari seluruh dunia melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kebun Raya Indonesia.

Ria Cahyaningsih, peneliti PR KTKK BRIN sekaligus moderator sesi diskusi Garden Talk ke-6 pada tahun 2020 terlibat dalam literatur review di Kew Herbarium.  Ria berhasil mendapatkan 4.482 nama ’unik’ (spesies) tumbuhan obat dari 17.000 tumbuhan obat asal Indonesia yang berbeda-beda namanya. (Sumber Berita: https://www.brin.go.id/news/112943/riset-dan-konservasi-tumbuhan-obat-indonesia-peluang-dan-tantangan ). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU, NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2024. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: