Pergeseran Trend Pengembangan Herbal Pasca COVID-19
Tanggal Posting : Selasa, 11 Agustus 2020 | 07:32
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 250 Kali
Pergeseran Trend Pengembangan Herbal Pasca COVID-19
Akan terjadi pergeseran trend pengembangan Herbal pasca COVID-19, sebuah peluang pasar yang besar bagi para pengusaha herbal Indonesia.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Wabah COVID19 akan mempengaruhi trend pengembangan herbal dari yang sebelumnya kearah kuratif, akan bergeser kearah preventif dan kuratif, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan, sehingga potensi pasar herbal immune stimulant akan sangat tinggi.

Demikian diungkapkan Direktur Utama PT. Indofarma, Arief Pramuhanto pada webinar yang diadakan Gabungan Pengusaha (GP) Jamu dan Krista Exhibitions dengan tajuk "Kondisi Jamu dan Kegunaan Jamu untuk Kesehatan di masa Pandemi COVID-19" pada Senin, 10 Agustus 2020.

Disebutkan bahwa omzet penjualan Jamu pada tahun 2013 sebesar Rp. 14 Triliun, Tahun 2014 meningkat menjadi Rp. 15 Triliun, dan pada Tahun 2020 ini diprediksi akan mencapai Rp. 20 Triliun.

Pada webinar ini menampilkan pembicara: Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, Ketua Umum GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi, Molecular Pharmologist Dexa Group, Raymond R. Tjandrawinata; Wakil Ketua Umum GP Farmasi, Jony Yuwono; Direktur Utama PT. Indofarma, Arief Pramuhanto; dan Sekjen GP Jamu, Rusdiyanto.

Tampil sebagai pembicara pertama, Penny K. Lukito mengatakan bahwa Badan POM mengawal pengembangan obat herbal, terutama produk yang diperlukan untuk memelihara daya tahan tubuh selama pandemi. Badan POM memberikan pendampingan bagi para peneliti dan pelaku usaha sejak penyusunan protokol berbagai uji, termasuk pelaksanaan uji klinik sesuai Good Clinical Practice. "Hal ini untuk menghasilkan data klinis yang valid dan kredibel, sehingga produk tersebut dapat menjadi fitofarmaka," jelasnya.

Dalam presentasinya, disebutkan bahwa Badan POM saat ini tengah mendampingi 8 penelitian produk herbal untuk penanggulangan COVID-19. Penelitian ini melibatkan instansi terkait, rumah sakit, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan industri. Adanya sinergi yang baik ini diharapkan akan mempercepat hilirisasi penelitian produk herbal menjadi produk komersial untuk dimanfaatkan oleh masyarakat, tambahnya.

Ditengah pandemi COVID-19 ini, minat masyarakat mengkonsumsi herba untuk meningkatkan daya tahan tubuh terus meningkat. Hal ini, juga ditunjukkan dengan meningkatkannya jumlah perusahaan herbal yang memproduksi herbal untuk imunitas tubuh.

"Dari bulan Januari hingga Juli 2020 telah diterbitkan izin edar untuk 178 obat tradisional, 3 fitofarmaka, dan 149 suplemen kesehatan lokal dengan khasiat membantu memelihara daya tahan tubuh," Kepala Badan POM mengungkapkan.

Berita Terkait: Jangan Tertipu Klaim Bombastis Obat Herbal 

COVID-19 Penyakit yang Kompleks

Raymond Webinar Jamu

Raymond R. Tjandrawinata yang mempresentasikan makalah "Penelitian Obat Tradisional Untuk Pencegahan Penyakit Virus" memaparkan lima resiko pada COVID-19: 1. Viral load: jumlah paparan terbadap virus: sedikit vs banyak. 2. Gen kita, terutama gen untuk reseptor virus. 3. Rute infeksi, beda antara menghirup virus dalam aerosol vs virus yang menempel di benda yang kita sentuh, kemudia kita menyentuk area mukosa. 4. Varietas virus, tergantung dari waktu, tempat, gen pasien, dan sebagainya. 5. Sejarah imun kita, apakah pernah terpapar pada virus yang mirip

COVID-19 adalah penyakit yang kompleks, Raymond menambahkan, dan banyak yang belum kita ketahui dan kita kuasai. Kelima faktor tadi dapat bersama-sama dapat membuat seseorang asimptomatik atau malah meningkatkan keparahan pada pasien, terutama pasien dengan komorbiditas. Karena peran dari setiap faktor belum didefinisikan secara benar maka susah untuk menentukan siapa yang dapat bertahan siapa yang tidak dapat.

"Karenanya banyak orang bertanya-tanya karena makin lama infeksi makin mendekat pada kita sehingga membangkitkan teror pada kita sendiri. Diperberat dengan banyaknya berita hoax di medsos. Obat tradisional tidak dapat mengobati masalah dasar COVID-19," Raymond menegaskan.

Sehubungan dengan COVID-19 apa yang kita bisa lakukan dengan Obat Tradisional? Pencegahan -meningkatkan daya tahan tubuh. Membantu pengobatan simptomatik. OT tidak bisa membunuh virus (Bukan Anti Virus).

Kemudian dijelaskan berdasarkan hasil risetnya bahwa Fraksi herba Meniran sudah teruji klinis untuk beberapa kasus, antara lain: Kasus TB paru, ISPA (infeksi saluran pernapasan bagian atas), Hepatitis B, Herpes zoster, Kandidiasis vagina, da Infeksi varicella.

Obat tradisional dapat membantu mencegah dan/atau meredakan gejala awal saat terinfeksi virus. Obat tradisional bersifat penyembuhan COVID-19, dan tidak ada yang dapat membunuh virus SARS-COV-2. Obat tradisional bisa bersifat formulasi multi simplisia atau mono simplisia. Karena bersifat empiris, maka bukti-bukti klinisnya tidak diperlukan kriteria atas, cukup observasi klinik saja. Obat tradisional Indonesia adalah warisan Nenek Moyang, dan karenanya harus dilestarikan. Demikian kesimpulan yang disampaikan Raymond Tjandrawinata.

Kepala Badan POM mengharapkan pelaku usaha jamu untuk selalu menyediakan obat herbal berkualitas dan berdaya saing. "Pandemi ini menjadi peluang untuk memajukan obat herbal Indonesia dengan inovasi dan terobosan riset obat herbal aman, bermutu, dan berkhasiat melalui pemanfaatan sumber daya lokal," harapnya. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: