Peran dan Eksistensi Jamu Makin Bermakna
Tanggal Posting : Rabu, 2 Desember 2020 | 13:12
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 295 Kali
Peran dan Eksistensi Jamu Makin Bermakna
Putri Kuswisnu Wardhani, Dewan Penasehat DPP GP. Jamu pada webinar Dukungan Pembiayaan & Teknologi dari Pemerintah dan Perbankan untuk Industri: Jamu, Kosmetik, Spa dan Aromaterapi.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Di tengah berkembangnya industri kesehatan pada masa pandemi, bagaimana peran pemerintah dan industri perbankan untuk mendukung industri Jamu nasional? Benarkah peran dan eksistensi Jamu makin menguat?

Webinar Krista Exhibitions dengan GP. Jamu bertema "Dukungan Pembiayaan & Teknologi dari Pemerintah dan Perbankan untuk Industri Besar & UKM: Jamu, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Spa & Aromaterapi Terutama Pada Masa Pandemi" berusaha menemukan jawabnya.

Kata sambutan webinar dilaksanakan pada Senin, 30 November 2020 ini, oleh Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia, dan Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Republik Indonesia- yang diwakilkan kepada Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Muhammad Khayam.

Welcome Speech: Putri Kuswisnu Wardhani, Dewan Penasehat DPP GP. Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, Ketua Umum DPP GP. Jamu.

Pembicara:

  • Darmawan Junaidi, Direktur Utama PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.
  • Sunarso, Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.
  • Henry Koenaifi, Direktur PT. Bank Central Asia Tbk.
  • Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, Dewan Penasehat GP Jamu
  • Ivana Suprana, Ketua DPD GP Jamu Jawa Tengah
  • Minarni Purnomo, Ketua DPD GP Jamu Jawa Timur
  • Gede Ngurah Wididana, Ketua DPD GP Jamu Bali
  • Nasrin M. Muhtar, Ketua DPD GP Jamu Nusa Tenggara Barat

Moderator: Thomas Hartono, Wakil Ketua Umum GP Jamu dan Christina Sudjie, CMO Krista Exhibitions.

Berikut ini, Welcome Speech- yang disampaikan oleh Putri Kuswisnu Wardhani, Dewan Penasehat DPP GP. Jamu:

Janganlah pandemi COVID-19 yang melanda dunia ini mematahkan semangat kita untuk berkarya. Apalagi sektor industri Jamu memiliki potensi besar untuk maju.

Indonesia dikaruniai kekayaan hayati terbesar nomor dua di dunia setelah Brazil. Bahkan kalau menghitungkan kekayaan hayati laut, maka Indonesia menjadi nomor satu yang memiliki biodiversitas alam.

Pelaku dari sektor Jamu dari hulu hingga hilir jumlahnya banyak. Sehingga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari semua pihak. Disaat pandemi seperti sekarang ini, negara-negaradi dunia dan masyarakat, banyak yang terguncang karena terjadinya perubahan besar didalam pola pikir, perilaku, dan pasar.

Pemerintah di semua negara mengevaluasi program kesehatannya, termasuk di Indonesia. Mulai dari jumlah kamar rumah sakit, jumlah tenaga medis, perawatan kesehatan preventif, kuratif, sistem jaminan sosial kesehatan masyarakat dan lainnya.

Karena sejumlah Kementerian dan Lembaga terkait sedang melakukan kajian dan perumusan ulang program-program kesehatan yang terbaik untuk Indonesia.  Ada sesuatu yang belum tepat terkait penanganan program kesehatan kita, yang masih banyak menekankan tindakan kuratif dari pada preventif. Menteri Kesehatan kita, dr Terawan Agus Putranto menyadari dan menyoroti hal ini.

Tidak heran biaya BPJS yang dibayarkan oleh pemerintah demkian tingginya, sehingga melampaui anggaran. Begitu juga obat-obatan medis kita, baik obat-obatan jadi maupun bahan bakunya yang beredar di Indonesia,-90% berasal dari impor antara lain dari negara China atau India.

Ini sudah disadari oleh pemerintah dan disikapi dengan menggundang investasi asing maupun lokal. Supaya bahan obat dapat dibuat di Indonesia. Kedua mendorong kesehatan preventif untuk mewarnai program pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia. Disinilah saya mengharapkan peran GP Jamu beserta para anggota-anggota yang tergabung dalam organisasi secara pro aktif mencari peluang untuk berperan.

Berita Terkait: Peluang Industri Obat Bahan Alam Saat COVID-19 

Berita Terkait: Perhimpunan Dokter Dorong OMAI Masuk JKN 

Ini adalah momentum yang tepat untuk industri Jamu yang bahan bakunya 100% dari alam Indonesia untuk maju dan menjadi penyedia subtitusi impor. Jamu sendiri terdiri dari Jamu tradisional, jamu herbal terstandar, dan jamu fitofarmaka yang sudah diuji klinis.

Masing-masing dari ketiga kategori ini punya nilai dan pangsanya sendiri-sendiri. Saya percaya para pelaku usaha mampu untuk jeli mengambil porsinya. Dimasa pandemi COVID-19 ini misalnya, masyarakat dituntut untuk meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing yang sangat berguna untuk menjadi benteng pertahanan tubuh dalam menangkal virus.

Selain menerapkan 3 M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan) secara teratur masyarakat juga dianjurkan untuk berolahraga, minum multivitamin yang mengandung Zinc dan minum ramuan jamu imunomodulator.

Tentunya ini membuka peluang pelaku industri Jamu untuk berkreasi dan pro aktif dalam mengisi kebutuhan masyarakat. Pandemi ini masih akan berlangsung dan cukup lama. Walaupun berbagai vaksin diharapkan akan bertahap uji klinis tahap akhir di akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021, namun juga masih ada yang mengatakan tidak akan membuat kebal 100%.

Artinya, masyarakat yang sudah divaksin kemungkinan ada yang masih bisa terkena, namun dengan dampak yang jauh lebih ringan. Hal ini membuktikan memberikan signal bahwa pada akhirnya menjaga imunitas atau menjaga kekebalan tubuh masyarakat tetap utama dan dibutuhkan.

Menilik hal ini, Jamu sebagai penjaga kesehatan masyarakat tetap sangat diperlukan baik secara preventif maupun kuratif. Masyarakat dituntut untuk mengadopsi gaya hidup baru yang lebih sehat. Kecenderungan ini tidak  hanya terjadi di Indonesia tetapi juga diseluruh dunia.

Disinilah peluang ekspor produk-produk Jamu Indonesia ke manca negara. Kita harus peka dalam menganalisa kebutuhan tiap-tiap negara. Disini ada Bapak Duta Besar RI. untuk Uni Emirat Arab yang mungkin dapat membantu forum ini untuk lebih jauh mengenali Uni Emirat Arab sebagai potensi pasar.

Tentu untuk GP. Jamu, ini merupakan forum penjajakan pasar yang secara bergilir atau berkala mengundang duta besar-duta besar dari negara potensial-potensial lainnya, bersama pejabat-pejabat instansi terkait untuk menjadi narasumber dan peserta diskusi interaktif.

Yang diperlukan adalah kerjasama, kecepatan gerak dan persamaan visi antara pelaku usaha dan pemerintah ataupun instasi terkait. Menurut hemat saya pandemi ini menyuarakan wake up call yang membangunkan banyak orang. Tetapi diposisi lain, juga membuka peluang besar untuk beberapa hal. Termasuk salah satu sektornya, sektor Jamu.

Untuk Indonesia sebagai suatu negara industri yang kita dapat jadikan andalan penghasil devisa negara adalah pariwisata, industri berbasis budaya dan Jamu. Dan sudah saatnya Jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu terhormat di negara-negara lain.

Saya mendo’akan sukses selalu GP. Jamu dan pelaku usaha Jamu di Indonesia. Semoga ibu dan bapak sekalian tidak hanya membawa manfaat kepada ekonomi, tetapi juga membuahkan berkah karena menunjang kesehatan masyarakat.  Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: