Memilih Bahan Pengawet Minuman Sirup
Tanggal Posting : Selasa, 9 Maret 2021 | 09:59
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 271 Kali
Memilih Bahan Pengawet Minuman Sirup
Bahan Tambahan Pangan (BTP) apa, yang tepat dan diijinkan untuk Pengawet Minuman Sirup.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Sejumlah pertanyaan dikemukakan oleh peserta pelatihan online yang diadakan oleh BRI berkolaborasi dengan BRI Research Institute bertema "TANAM RERAMBAT: Tanaman Rempah Ramuan Obat" yang menghadirkan Founder, JamuDigital (www.jamudigital.com), Karyanto- sebagai pembicara utama, pada Rabu, 3 Maret 2021.

Diantara pertanyaan tersebut: Bahan pengawet apa untuk membuat Minuman Sirup? Berikut ini, jawabannya:

Memilih Jenis Pengawet Sesuai Kategori Pangan. Untuk menjawab, apakah sirup boleh ditambahkan pengawet?

Terlebih dahulu kita harus mempelajari Peraturan Kepala Badan POM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan. Kategori pangan adalah pengelompokan pangan berdasarkan jenis pangan yang bersangkutan. 

Dalam Ketegori Pangan, Sirup masuk Kategori Pangan 14.0 Minuman, tidak termasuk produk susu. Lebih detilnya, sirup masuk Kategori Pangan 14.1.4 Minuman Berbasis Air Berperisa, Minuman Elektrolit dan Particulated Drinks, masuk point 14.1.4.3 Konsentrat (Cair atau Padat) Untuk Minuman Berbasis Air Berperisa. 

Sedangkan tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP) diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan.

Dalam Peraturan Menteri ini- yang dimaksud dengan BTP adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. BTP yang digunakan dalam pangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan/atau tidak diperlakukan sebagai bahan baku pangan.
  • BTP dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan, pengolahan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan/atau pengangkutan pangan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat pangan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung.

Setelah kita mengetahui Kategori Pangan adalah produk sirup, langkah selanjutnya adalah memilih jenis BTP pengawet yang diijinkan untuk ditambahkan pada produk sirup.  Hal ini, diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor 36 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan BTP Pengawet. 

Setiap jenis BTP Pengawet kita perlu cermati, apakah diijinkan digunakan pada kategori pangan 14.1.4 Minuman Berbasis Air Berperisa, Minuman Elektrolit dan Particulated Drinks atau tidak.

Dalam ketentuan ini dijelaskan hal-hal sebagai berikut:

  • Bahan Tambahan Pangan, selanjutnya disingkat BTP, adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
  • Nama BTP atau jenis BTP, selanjutnya disebut jenis BTP, adalah nama kimia/generik/umum/lazim yang digunakan untuk identitas bahan tambahan pangan, dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Inggris.
  • Pengawet (Preservative) adalah bahan tambahan pangan untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikro-organisme.

Dalam Permenkes 033 Tahun 2012, diatur 27 golongan BTP yang diijinkan, salah satunya adalah Pengawet (Preservative). Pengawet adalah BTP untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikro-organisme.

Mengutip Lampiran I, Permenkes 033 Tahun 2012, tentang Jenis BTP ada 10 jenis BTP yang diijinkan, yaitu: asam sorbat dan garamnya, asam benzoat dan garamnya, etil para-hidroksibenzoat, metil para-hidroksibenzoat, sulfit, nisin, nitrit, nitrat, asam propionat dan garamnya dan lisozim hidroklorida.

Regulasi batas makasimal penggunaan BTP diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet.

Hanya ada dua jenis BTP-Pengawet  yang diijinkan digunakan pada Minuman Sirup, yaitu: Jenis asam sorbat dan garamnya (dapat berupa natrium sorbat, kalium sorbat atau kalsium sorbat) dengan takaran maksimal= 1.000 mg/kg,  dan Jenis asam benzoat dan garamnya (dapat berupa natrium benzoat, kalium benzoat atau kalsium benzoate dengan takaran maksimal= 600 mg/kg.

Dari dua jenis BTP pengawet ini, mana yang kita pilih?

Pilih yang mempunyai batas maksimal penggunaan yang lebih kecil yaitu: Jenis asam benzoat dan garamnya yang mempunyai batas maksimal 600 mg/kg dihitung sebagai asam benzoat.

Batas maksimal pengawet benzoat pada sirup adalah 600 mg/kg. Prinsip penggunaan BTP adalah sesedikit mungkin hingga tercapai hasil yang diinginkan.

Jadi, kita harus membuat serangkaian percobaan untuk melihat masa simpan sirup dengan beberapa variasi penambahan pengawet yang ditambahkan, pilih yang paling sedikit, namun sudah memberikan efek perpanjangan masa simpan yang diinginkan.

Penggunaan BTP dalam suatu produk adalah suatu pilihan. Anda dapat tidak menggunakannya. Tetapi, apabila menggunakan pengawet pada produk pangan harus berhati-hati. Penggunaan pengawet berlebihan dapat menjadi sumber cemaran pada produk akhir.

Pangan yang mengandung BTP, pada label wajib dicantumkan golongan, jenis dan kadar BTP yang digunakan. Gunakan BTP dengan cermat dan tepat, sebab jika melebihi aturan pakai dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Anda pasti tidak ingin menanggung dosa, karena mengakibatkan masalah kesehatan dari konsumen yang menggunakan produk Anda!

Referensi:

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan.
  • Peraturan Kepala Badan POM Nomor 36 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan BTP Pengawet.
  • Peraturan Kepala Badan POM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan.
  • Publikasi ULPK BBPOM Yogyakarta.


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: