Kendala Penelitian Ilmiah JAMU
Tanggal Posting : Kamis, 3 September 2020 | 06:32
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 1104 Kali
Kendala Penelitian Ilmiah JAMU
Dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D. (PPKESTRAKI - PDHMI) saat menjadi pembicara pada Webinar: Penelitian Jamu Modern Berkualitas untuk Kesehatan Masyarakat & Export.

JamuDigital.Com-PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Kendala dan problematika penelitian Jamu antara lain: Peneliti yang kompeten dan tersertifikasi GCP, Peneliti yang memahami bahan alam dan ilmu kesehatan tradisional, Pembuatan protokol penelitian, Dana penelitian, dan setelah dilakukan penelitian, lalu apa dampaknya?

Demikian dikemukakan oleh Dr. Fenny Yunita, M.Si., Ph.D. (PPKESTRAKI - PDHMI), saat menjadi pembicara pada Webinar "Penelitian Jamu Modern Berkualitas untuk Kesehatan Masyarakat & Export" yang diselenggarakan oleh GP. Jamu besama Krista Exhibitions pada Senin, 31 Agustus 2020.

Dr. Fenny Yunita mempresentasikan makalah dengan topik: "Peran Penelitian dalam memperkaya sisi ilmiah JAMU sebagai warisan budaya bangsa"

Pada webinar ini, Menteri Kesehatan RI., Terawan Agus Putranto berkenan memberikan kata saambutan. Sebagai keynote speaker, Jaya Suprana (Ketua Dewan Pengawas GP Jamu). Pembicara lain yang tampil:

  • Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., M.Biomed (Dirjen Kefarmasian & Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI), diwakilkan kepada Dita Novianti Sugandi, Topik: Penyediaan Obat Tradisional untuk Kesehatan Masyarakat.
  • Rachmat Sarwono (Direktur PT. Borobudur Industri Jamu), Topik: Kombinasi Mastin & Sambio untuk Menjaga Stamina & Daya Tahan Tubuh di Era New Normal
  • Edward Basilianus, SE., MM. (Nucleus Farma), Topik: Supplement Superpoten Antioxidant
  • apt. Drs. Victor S. Ringoringo, SE., MSc. (PT. Deltomed), Topik: Tantangan & Peluang Ekspor Jamu Indonesia

Moderator: Thomas Hartono, Dipl.Ing (Wakil Ketua Umum GP Jamu), Christina Sudjie (CMO Krista Exhibitions).

Berita Terkait: Menkes: OMAI Telah Dieskpor ke Berbagai Negara 

Berita Terkait: Badan POM Rilis Daftar OMAI 2020

Menurut dr. Fenny Yunita, jenis bukti untuk klaim (indikasi) obat tradisional: Pertama, Bukti riwayat penggunaan tradisional: Literatur klasik: Serat Jampi Jawi, Kloppenburg, Heyne, Cabe Puyang, Warisan Nenek Moyang, Obat Asli Indonesia, buku lain yang >50tahun tercetak atau telah digunakan masyarakat (3 generasi).

Farmakope & monograf: Farmakope Herbal Indonesia, Materia Medika Indonesia, Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, FOHAI, FROTI, References/Textbooks: Daftar Obat Alam (DOA-ISFI), Database Direktorat Penilaian OT, Kosmetik & Produk Suplemen. Kedua, Bukti ilmiah: studi deskriptif, case series, kohort, uji klinik.

Tradisional: Harus ada riwayat penggunaan herbal sebagai obat tradisional. Definisi WHO terkait keamanan jangka panjang dan terhadap 3 generasi- tidak perlu diuji lagi keamanannya, kecuali tiba-tiba ada laporan efek samping yang tadinya tidak diketahui (St John’s wort, mempengaruhi enzim pemetabolisme obat CYP450, sehingga interaksi dengan obat bisa membahayakan pasien)

Herbal baru: Bila herbal baru berarti belum diketahui keamanan dan manfaatnya, harus ikut tahapan penemuan obat baru (drug development: uji toksisitas, uji hewan model, uji klinik fase 1,2,3,4), untuk obat baru ada berbagai uji keamanan sesuai keperluan: toksisitas akut, kronik, teratogenisitas, mutagenisitas, karsinogenisitas, dan lain-lain.

Dipaparkan Dr. Fenny Yunita, bahwa uji klinik adalah:

  • Kegiatan penelitian eksperimental yang mengikutsertakan subjek manusia
  • Untuk menemukan/memastikan efek klinik, farmakologik dan/atau farmakodinamik lainnya,
  • Mengidentifikasi setiap reaksi yang tidak diinginkan, mempelajari absorbsi, distribusi, metabolisme & ekskresi dari suatu produk uji,
  • Untuk memastikan keamanan dan/atau efektifitas produk yang diteliti.

Produk Uji: Obat, Obat Herbal, Suplemen Kesehatan, Pangan, atau Kosmetika yang akan digunakan dalam Uji Klinik.

Ada empat fase uji klinik: Fase 1: Keamanan, Fase 2A: Dose ranging/dose escalation study, Fase 2B: Efikasi pada pasien (populasi terbatas), Fase 3: Efikasi pada pasien (populasi lebih luas), Fase 4: Keamanan pasca pemasaran.

Untuk mempercepat riset herbal, pemerintah merilis Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Nomor 22 Tahun 2019, 13 September 2019: Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Produk Fitofarmaka:

  • Bidang bahan baku
  • Bidang teknologi manufaktur dan standardisasi,
  • Bidang uji pra klinik dan uji klinik
  • Bidang pengembangan pelayanan kesehatan tradisional
  • Bidang produksi dan promosi fitofarmaka. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: