Formularium Fitofarmaka Langkah Kemandirian Sediaan Farmasi Berkualitas
Tanggal Posting : Senin, 4 Juli 2022 | 09:05
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 76 Kali
Formularium Fitofarmaka Langkah Kemandirian Sediaan Farmasi Berkualitas
Peningkatan kebutuhan akan obat tradisional yang telah teruji aman dan berkhasiat secara klinis, menciptakan iklim riset yang lebih kondusif.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Kementerian Kesehatan RI, menetapkan Formularium Fitofarmaka pada 31 Mei 2022. Langkah ini menjadi sangat istimewa, karena membuka jalan penggunaan obat herbal yang sudah diriset dengan uji klinis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Kebijakan Menteri Kesehatan ini menjadi tonggak baru dalam pengembangat obat herbal, sehingga ke depan diharapkan semakin banyak riset obat herbal yang sudah teruji klinis, untuk digunakan untuk preventif, promotif dan kuratif- diberikan kepada pasien di Pelayanan Kesehatan oleh dokter.

Pola ini akan menuju terwujudnya Kemandirian Farmasi Nasional, karena secara bertahap akan terjadi pengrangi importasi bahan baku obat.

Berikut ini, pendapat Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Akhmad Saikhu, MSc.PH. yang disampaikan kepada Redaksi ObatNews, pada Jumat, 1 Juli 2022.

1.Apa pandangannya dengan diterbitkannya Formularium Fitofarmaka oleh Kemenkes?

Penetapan Formularium Fitofarmaka merupakan langkah tepat yang dilakukan Kemenkes untuk mendorong kemandirian sediaan farmasi yang berkualitas. Fitofarmaka dinyatakan sebagai sediaan farmasi yang berkualitas karena dihasilkan dari serangkaian uji klinis khasiat dan keamanan berbasis ilmiah.

Dampak positif dari penetapan Formularium Fitofarmaka diantaranya adalah: a) mendekatkan obat tradisional dengan pembiayaan sistem JKN; b) menstimulus riset-riset obat tradisional dan hilirisasinya menjadi Fitofarmaka; c) meningkatkan reliabilitas obat tradisional untuk penggunaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

2.Apa manfaat Formularium Fitofarmaka tersebut bagi pengembangan riset di Indonesia?

Formularium Fitofarmaka akan mendorong penggunaan obat tradisional di pelayanan kesehatan formal. Jika kuantitatif Fitofarmaka yang bisa masuk dalam Formularium mengalami peningkatan, maka jumlah pilihan obat tradisional yang dapat digunakan sesuai dengan indikasi penyakit akan lebih banyak.

Peningkatan kebutuhan akan obat tradisional yang telah teruji aman dan berkhasiat secara klinis akan menciptakan iklim riset obat tradisional yang lebih kondusif di Indonesia. Ini akan memacu peningkatan pengembangan riset di Indonesia, khususnya oleh pihak industri farmasi. Apalagi pemerintah sudah memberikan insentif bagi industri yang melaksanakan riset produknya.

3.Manfaat untuk pengembangan herbal secara umum di Indonesia seperti apa?

Herbal di Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sediaan farmasi dalam upaya kesehatan: promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif.

Sediaan herbal di Indonesia yangh digunakan untuk upaya kesehatan berupa Jamu, OHT, dan Fitofarmaka, dimana kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa populasi Jamu dan OHT memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan Fitofarmaka.

Oleh karena itu perlu kerja sama mutualisme antar semua stakeholder (akademisi, bisnis, pemerintah, masyarakat, dan media masa) dalam upaya menciptakan iklim kondusif bagi terlahirnya pengembangan Fitofarmaka-Fitofarmaka baru, dari sediaan Jamu dan OHT yang telah lama digunakan oleh masyarakat dan teruji kasiatnya.

Kedepannya, diharapkan Fitofarmaka baru akan mengkayakan Formularium Fitofarmaka yang telah ada saat ini.

4.Dapat dijelaskan kaitanya Formularium Fitofarmaka dengan kemandirian obat nasional seperti apa?

Peningkatan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam Fitofarmaka merupaka kunci utama agar Indonesia menjadi negara yang mandiri di sektor industri Fitofarmaka.

Formularium Fitofarmaka akan memicu upaya kemandirian obat nasional, mengingat Fitofarmaka dipersyaratkan menggunakan bahan baku yang sebagian besar dihasilkan oleh alam Indonesia, sehingga penguatan regulasi dalam produksi Fitofarmaka akan merangsang pihak produsen di sisi hulu (petani) untuk mengupayakan budidaya tanaman obat di Indonesia.

Upaya budidaya tanaman obat sebagai bahan baku Fitofarmaka akan menjamin ketersediaan bahan baku yang bermutu, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, sehingga perbaikan sektor ekonomi terjadi merata di semua lapisan.

Percepatan pengembangan fitofarmaka menjadi salah satu pilar pendukung ketahanan bangsa di bidang kesehatan, sebagaimana amanah Inpres no. 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

5.Apa langkah-langkah strategis yang harus dilakukan setelah Formularium Fitofarmaka diterbitkan?

Kemenkes melakukan koordinasi dengan JKN terkait penggunaan Fitofarmaka di fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga dapat masuk daftar obat BPJS.

Penguatan Litbang di sisi hulu terkait dengan budidaya tanaman obat sebagai bahan baku Fitofarmaka agar diperoleh simplisia terstandar yang memenuhi baku mutu Formularium Herbal Indonesia (FHI).

Penguatan Litbang di sisi tengah terkait pengembangan metode ekstraksi, formulasi, dan uji pra-klinik, agar dihasilkan ekstrak terstandar yang memenuhi baku mutu FHI, dan telah terbukti keamanan dan khasiatnya secara ilmiah.

Penguatan penggunaan Fitofarmaka di fasilitas pelayanan kesehatan, diluar anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) daerah, agar penggunaan Fitofarmaka semakin meningkat, sehingga upaya kemandirian obat nasional akan segera terwujud. (Sumber Berita: https://www.obatnews.com/omai/pr-4463788097/wawancara-khusus-kepala-b2p2toot-formularium-fitofarmaka-langkah-kemandirian-sediaan-farmasi-berkualitas?page=3 ). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2022. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: