Diseminasi Hasil Penelitian Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tanggal Posting : Kamis, 21 November 2019 | 17:03
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 868 Kali
Diseminasi Hasil Penelitian Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Dr. Danang Ardiyanto sedang presentasi pada kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional 2019 di Jakarta.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional mengadakan Diseminasi Hasil Penelitian Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, dengan Sub Tema: Diseminasi hasil penelitian B2P2TOOT tahun 2018, pada 8 - 21 November 2019 di Jakarta.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradsional sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 65 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Litbang Kesehatan.

Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dari penelitian adalah melakukan publikasi ilmiah dan mendiseminasikan hasil peneltiian kepada stakeholder terkait.

Hasil penelitian tahun 2018 sebanyak 8 (delapan) judul penelitian rutin dan 23 judul penelitian yang merupakan bagian dari judul payung Analisis Lanjut Ristoja didiseminasikan pada tahun 2019. Kegiatan diseminasi dihadiri stakeholder yang meliputi unsur pemerintahan dan akademik sesuai tema penelitian.

Lima tema penelitian yang diangkat dalam diseminasi ini adalah:

  • Standarisasi tanaman obat
  • Pengembangan formula jamu
  • Pengembangan bahan baku obat
  • Uji klinik jamu
  • Karakterisasi tumbuhan obat hasil Ristoja

Stakeholder yang dimaksudkan sebagai kandidat pengguna hasil riset tanaman obat dan obat tradisional antara lain perguruan tinggi, instansi vertikal, pemerintah daerah, dan industri. Selain mengundang stakeholder calon pengguna hasil riset, dalam diseminasi ini juga akan diundang mitra Pusat Unggulan Iptek (PUI), satuan kerja di lingkungan Badan Litbang Kesehatan, pakar pembahas dari perguruan tinggi dan lembaga riset, perwakilan Komisi Saintifikasi Jamu Nasional, serta perwakilan Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

Berbagai stakeholder yang hadir diharapkan akan menjadi sumber informasi dan masukan strategi percepatan aplikasi hasil riset. Sejalan dengan hal tersebut, dalam acara ini juga akan dipaparkan percepatan fitofarmaka.

Program pengembangan fitofarmaka tidak hanya menjadi hilirisasi hasil riset dari B2P2TOOT namun sudah menjadi program nasional yang dikerjakan secara konsorsium lintas kementerian dan lembaga.

Maksud dan Tujuan. Tujuan umum dari kegiatan ini adalah menyelenggarakan fungsi B2P2TOOT yaitu diseminasi, publikasi dan advokasi hasil penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional kepada semua unsur academic, bussiness, goverment, dan community (ABGC).

Tujuan khusus: Mendiseminasikan delapan hasil penelitian tahun 2018 yang telah dilakukan di B2P2TOOT, Mendiseminasikan 23 hasil penelitian analisis lanjut Ristoja hasil kerjasama penelitian B2P2TOOT dengan perguruan tinggi.

Uraian Kegiatan. Kegiatan diseminasi dilakukan dalam bentuk pemaparan hasil penelitian, pembahasan oleh pakar, dan diskusi. Dalam paparannya, ketua peneliti akan menyajikan latar belakang, metode, hasil, kesimpulan dan rekomendasi terkait hasil penelitian yang dicapai.

Selanjutnya pembahas akan memberikan masukan atau pertanyaan untuk klarifikasi hasil penelitian dan menyampaikan saran untuk penelitian lanjut dan atau rekomendasi implementasi penelitian tersebut. Sesi diskusi diadakan untuk memberikan waktu kepada audien menanyakan materi yang belum diterima secara jelas dari hasil pemaparan, sekaligus untuk membuka peluang kerjasama riset lanjutan atau implementasi bersama hasil riset.

Dr. Danang Ardiyanto dkk menyajikan hasil riset berjudul: Pengaruh Kapsul Ekstrak Jamu Hepatoprotektor Terhadap Kadar SGPT dan SGOT Dibandingkan Dengan Kapsul Ekstrak Fructus Schizandrae dan Evaluasi Keamanannya. Berikut ini, ringkasannya:

Prevalensi gangguan fungsi hati menunjukkan peningkatan kasus di negara berkembang. Indonesia memiliki beberapa obat tradisional yang dapat digunakan untuk alternatif penanganan gangguan fungsi hati. Namun belum ada bukti yang kuat mengenai khasiat dan keamanan dari obat tradisional yang ada.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat dan keamanan penggunaan kapsul ekstak jamu pada subjek penelitian dengan gangguan fungsi hati ringan dibandingkan dengan sediaan kapsul ekstrak fructus schizandrae (Hp Pro). Penelitian ini menggunakan paralel design open label dengan 60 subyek selama 42 hari.

Kelompok kapsul ekstrak jamu hepatoprotektor diberikan 3x2 kapsul sehari, sedangkan kelompok HpPro diberikan 3x2 kapsul sehari. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi khasiat adalah kadar Enzim SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) dan SGOT (serum glutamic oxaloacetic transminase).

Sedangkan penilaian keamanan digunakan parameter BUN, dan kreatinin. Pemberian selama 42 hari formula kapsul ekstak jamu terbukti efektif dengan menurunkan nilai SGPT dan SGOT, meningkatkan kualitas hidup dengan pengukuran SF 36 sebanding dengan HpPro pada durasi pemakaian yang sama.

Formula jamu ini dari segi keamanan, tidak mengganggu fungsi faal ginjal. Kadar Ureum dan Kreatinin pada akhir perlakuan sebanding antara kelompok jamu dan kelompok obat. Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: