Antioksidan dan Antiinflamasi Alami yang Potensial
Tanggal Posting : Selasa, 16 Februari 2021 | 08:44
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 190 Kali
Antioksidan dan Antiinflamasi Alami yang Potensial
Diperlukan studi lebih lanjut mengenai penggunaan Theaflavin sebagai inhibitor RdRp SARS-CoV-2.

JamuDigital.Com- Media Jamu, Nomor Satu. Theaflavin pada Teh Hitam sebagai antivirus- potensial untuk SARS-COV-2.  Studi molecular docking dengan target RdRp SARS-Cov-2, SARS-Cov, dan MERS-Cov, hasilnya menunjukkan: Theaflavin memiliki score idock pada catalytic pocket dari RdRp SARS-Cov-2 (-9.11 kcal/mol), SARS-Cov (-8.03 kcal/mol), dan MERS-Cov (-8.26 kcal/mol).

"Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa Theaflavin inhibitor potensial untuk RdRp SARS-Cov-2," demikian ditegaskan oleh Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, M.Si pada Webinar "FNM FARID NILA MOELOEK SOCIETY" dengan tema "Pemanfaatan Herbal dalam Meningkatkan Imunitas dari Pandemi COVID-19", pada Minggu, 14 Februari 2021.

Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K), Menteri Kesehatan RI., Periode 2014-2019. Dipandu oleh Moderator: Dr. dr. Ina Rosalina, M.Kes, MH.Kes, menampilkan dua pembicara: Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, S.Si, M.Si, dan Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D, MS, MBA.

Teh Hitam, lanjut Prof. Keri Lestari, memiliki kandungan senyawa polyphenols, yaitu: catechin (10-12%), theaflavin (3-6%), thearubigins (12-18%), flavonols (6-8%), phenolic acids dan depsides (10-12%), amino acids (13-15%), dan lain-lain.

"Diperlukan studi lebih lanjut mengenai penggunaan theaflavin sebagai inhibitor RdRp SARS-CoV-2," ujar Prof. Keri Lestari.

Catechin sebagai antioksidan. Catechin dalam teh hitam melindungi sel darah merah manusia dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh peroksidasi lipid, degradasi protein sitoskeletal dan disorganisasi struktur membrane secara keseluruhan.

Catechin dapat menangkap radikal bebas yang terdapat di dalam organisme, seperti: Hydroxyl, superoxide dan lipid radicals. Catechin mencegah pembentukan radikal bebas dengan menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase yang merupakan enzim prooxidative.

Pada pasien terinfeksi SARS-CoV-2, kadar sitokin proinflamasi (IL-6, IL10, dan TNF-α) melonjak dan akan menurun selama pemulihan. Sehingga, penggunaan agen antiinflamasi menjadi alternative untuk menghindari terjadinya lonjakan kadar sitokin (cytokine storm) dalam upaya penanganan COVID-19.

Hindari makanan/minuman manis. Mengapa? Anda tidak harus menghindari gula seutuhnya, namun cobalah mencari alternatif pemanis yang lebih menyehatkan. Pemanis buatan rasanya lebih manis, membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori, dan harganya lebih murah.

Memang cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes), tetapi jika dikonsumsi berlebihan dapat beresiko kerusakan organ ginjal dan penyebab kanker. Gunakan pemanis alami, contohnya Stevia.

Stevia mengandung senyawa glikosida steviol, yang terdiri dari steviosida, steviolbiosida, rebaudiosida, dan dulcosida (Geuns, 2003). Steviosida secara signifikan menekan pelepasan mediator inflamasi (yaitu TNF- α dan IL-1β) yang distimulasi oleh lipopolisakarida (LPS) di sel THP-1 dengan mengganggu signaling pathway.  Steviosida juga menekan pelepasan nitric oxide di sel THP-1 tanpa menimbulkan efek toksik.

Demikian paparan makalah Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, M.Si., Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Apoteker Indonesia, dan Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik UNPAD- berjudul "HERBAL DAN IMUNITAS PADA MASA PANDEMI COVID-19."

Potensi Theaflavin

Pada bagian lain, juga dijelaskan strategi pemilihan pangan fungsional: mengoptimalkan kadar antioksidan mengurangi inflamasi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Nutraceutical (Pangan Fungsional) Antiinflamasi & Antioksidan, dapat meningkatkan imunitas, dengan mengonsumsi nutrisi yang tepat.

Pilih makanan yang mengandung nutrisi dan anti-inflamasi alami yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan antioksidan (nutraceutical). Hindari minuman manis sesuai rekomendasi sehat WHO. Konsumsi multivitamin (mencakup basis nutrisi) yang mungkin tidak didapatkan dari makanan.

Zinc: Kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, daging sapi yang diberi makan rumput, dan telur mengandung Zinc dalam jumlah yang baik. Magnesium: Sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian adalah sumber yang baik untuk Mg. Vitamin D: Ikan dan telur adalah sumber Vit D penunjang kekebalan.

Asam lemak Omega-3: Sejumlah penelitian menyatakan manfaat antiinflamasinya. Konsumsi ikan dan pertimbangkan untuk menambahkan formula suplemen Omega3 yang berkualitas tinggi. Suplemen Imunomodulator.

Immunomodulator adalah obat yang kerjanya meningkatkan sistem daya tahan tubuh, secara spesifik maupun non spesifik. Senyawa satu dengan lainnya dalam tanaman dapat berperan sebagai peningkat imun, maupun penekan imun, keduanya bekerja untuk menghasilkan daya tahan tubuh yang lebih kuat, dan menekan gejala radang.

Penggunaan immunomodulator untuk tujuan pencegahan corona pada orang sehat/tidak terinfeksi NCOV19 adalah hal yang tepat asalkan dikonsumsi dengan benar sesuai instruksi (tidak berlebihan).

Kandungan kurkumin pada Kunyit memiliki efek antioksidan, menurunkan peradangan dan meningkatkan enzim ACE2 yang akan mengganggu pengikatan virus Corona ke reseptor ACE 2 yang merupakan pintu masuk virus.

Temulawak juga mengandung kurkumin sama halnya dengan kunyit. Selain menjaga daya tahan tubuh, temulawak juga ampu melindungi organ hati. Senyawa gingerin pada Jahe berkhasiat untuk antiinflamasi atau mencegah radang flu. Demikian juga terdapat antioksidan pada rempah ini untuk memperkuat imunitas tubuh.

Allicin pada Bawang putih. Dengan menggeprek bawang putih dan didiamkan selama 30-60 menit. Immune-Modulatory Activity. ACE Inhibitor.Antivirus (terbukti secara empiris, uji Invitro dan Invivo pada embrio). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL, MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: