| Lustrum 80 Tahun FARMASI UGM 2026. Angkatan 1981 Farmasi UGM bersama Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Satibi (26-09-2026). |
JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Perhelatan Lustrtum XVI- 80 Tahun Farmasi UGM pada 25-26 September 2026, memiliki makna istimewa bagi Angkatan 1981 Farmasi UGM!
Mengapa? Kami dipertemukan 45 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1981, ketika kami bersama-sama menjadi mahasiswa Farmasi di UGM.
Tidak ada yang berubah di antara kami, kecuali usia kami yang terus menua.
Kebahagiaan dan kebanggaan masih tersirat ketika kami bersua: yaitu menjadi keluarga besar UGM. Meniti beratnya kuliah di Farmasi UGM. Senantiasa jadi bumbu cerita yang selalu yummy rasanya.
Jabatan dan status tidak membuat kami berjarak.
Setiap kali bertemu, kami masih merasa menjadi teman yang apa adanya, ketika kami kuliah bersama, praktikum bersama, bersiap untuk ujian bersama.

Keterangan Foto: Angkatan 1981 Farmasi UGM bersiap mengikuti puncak acara 80 Tahun Farmasi UGM, pada Sabtu, 26 September 2026 malam- di Kampus Fakutas Farmasi UGM Yogyakarta,
Ada persahabatan yang lahir karena kebetulan. Ada pula persahabatan yang tumbuh karena perjalanan panjang.
Perjalanan panjang inilah yang membikin soliditas persahabatan kami.
Namun, ada persahabatan yang ditempa oleh waktu, pengalaman, perjuangan, suka-duka, keberhasilan, kehilangan, hingga akhirnya menemukan makna baru ketika usia memasuki senja.
Barangkali demikianlah penggalan kisah Angkatan Farmasi UGM 1981.
Kami datang ke Yogyakarta pada awal 1981 sebagai anak-anak muda dengan mimpi yang belum sepenuhnya berbentuk.
Sebagian berasal dari kota besar, sebagian dari daerah. Ada yang sudah memiliki gambaran tentang masa depan, ada pula yang sekadar ingin menyelesaikan pendidikan sebaik-baiknya.
Yang mempertemukan dan mengikat kami saat itu sederhana: Farmasi UGM.

Keterangan Foto: Wakil Angkatan 1981 Farmasi UGM pada Rapat Senat Terbuka, Lustrum XVI dan Dies Natalis ke-80 Fakultas Farmasi UGM, Sabtu, 26 September 2026: "Transformasi Farmasi di Era Society 5.0: Inovasi Digital untuk Kefarmasian yang Humanis dan Berkelanjutan"
Tetapi kami tidak pernah menyangka bahwa kampus itu kelak bukan hanya menjadi tempat memperoleh ilmu, melainkan juga menjadi tempat lahirnya sebuah keluarga besar yang hubungan batinnya terus bertahan selama puluhan tahun.
Dari Bangku Kuliah, Terus Menjadi Persahabatan
Masa kuliah adalah masa ketika persahabatan terbentuk secara alamiah.
Kami belajar bersama, berdiskusi, melakukan praktikum, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, dan sesekali mencari jeda dari kesibukan akademik dengan bercanda bersama.
Ada cerita tentang laboratorium, dosen, praktikum, buku-buku kuliah, organisasi mahasiswa, kegiatan kampus, hingga kehidupan sederhana anak kos.

Keterangan Foto: Wakil Angkatan 1981 Farmasi UGM pada Rapat Senat Terbuka, Lustrum XVI dan Dies Natalis ke-80 Fakultas Farmasi UGM, Sabtu, 26 September 2026: "Transformasi Farmasi di Era Society 5.0: Inovasi Digital untuk Kefarmasian yang Humanis dan Berkelanjutan"
Wesel telat, bahkan ada sejumlah rekan yang harus menyambi bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya.
Saat itu mungkin semuanya terasa biasa.
Namun, setelah puluhan tahun berlalu, justru hal-hal sederhana itulah yang menjadi kenangan paling mahal.
Kami baru menyadari bahwa persahabatan tidak selalu dibangun oleh peristiwa besar. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan kecil: duduk bersebelahan di kelas, berdiskusi hingga sore, saling meminjam catatan, membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, atau sekadar berbagi cerita tentang kehidupan.

Kami belajar farmasi bersama, tetapi sesungguhnya kami juga sedang belajar tentang kehidupan bersama.
Di kampus itulah kami mengenal satu sama lain bukan berdasarkan jabatan, kekayaan, atau pencapaian.
Kami mengenal teman sebagai pribadi.
Dan mungkin inilah salah satu kekuatan terbesar sebuah angkatan.
Ketika Jalan Hidup Mulai Berbeda
Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan kami mulai bercabang. Di awal kami berkarir, memang komunikasi kurang lancar, karena teknologi informasi saat itu- belum memungkinkan kami segera memberi kabar.

Ada yang memasuki industri farmasi. Ada yang menekuni pelayanan kefarmasian. Ada yang menjadi akademisi, peneliti, birokrat, pengusaha, praktisi, profesional komunikasi, maupun menempuh berbagai bidang yang masih
beririsan dengan ilmu yang kami pelajari.
Dunia membawa kami ke berbagai tempat.
Ada yang tetap tinggal di Yogyakarta. Ada yang harus berpindah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan berbagai kota lainnya. Bahkan ada yang kemudian berkiprah jauh dari Indonesia.

Jabatan pun datang silih berganti.
Ada yang menjadi profesor, direktur, pejabat, pemimpin organisasi, profesional senior, pengusaha, atau tokoh di bidang masing-masing.
Tetapi menariknya, ketika bertemu kembali, sering kali jabatan-jabatan itu seakan menghilang.
Kami kembali menjadi teman seangkatan.

Nama dan wajah yang mungkin tidak berubah terlalu banyak dalam ingatan, meskipun rambut sudah mulai memutih dan langkah tidak lagi secepat dahulu.
Di situlah kami menemukan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh karier:
rasa memiliki.
Bahwa di tengah perjalanan profesional yang panjang, masih ada sekelompok orang yang mengenal kita sejak sebelum gelar, jabatan, dan berbagai pencapaian melekat pada nama.

Persahabatan yang Diuji Waktu
Empat puluh lima tahun bukan waktu yang pendek.
Dalam rentang waktu tersebut, kehidupan tentu menghadirkan berbagai cerita.
Ada yang mencapai puncak karier. Ada yang mengalami perubahan pekerjaan. Ada yang membangun usaha dari nol. Ada yang menghadapi masa sulit.

Pada titik-titik seperti itu, arti kebersamaan terasa semakin dalam.
Ketika seseorang mendapatkan keberhasilan, kita ikut berbahagia.
Ketika seseorang mengalami kesulitan, kita berusaha hadir.

Karena itu, menjaga silaturahmi bukan lagi sekadar agenda reuni.
Ini menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan hidup yang pernah kita lalui bersama.
Dari Karier Menuju Masa Pensiun

Kemudian tibalah fase yang mungkin dahulu tidak pernah terlalu kami pikirkan: pensiun.
Saat masih menjadi mahasiswa, pensiun terasa begitu jauh.
Ketika sedang membangun karier, pensiun mungkin hanya terlihat sebagai tanggal administratif yang masih puluhan tahun di depan.

Tetapi waktu ternyata bergerak sangat cepat.
Satu demi satu memasuki masa pensiun.
Seragam kerja ditanggalkan. Jabatan dilepaskan. Rutinitas kantor berakhir.
Namun kehidupan tidak berhenti.
Justru pada fase inilah kami mulai memahami bahwa pensiun bukan akhir perjalanan, melainkan perubahan bentuk perjalanan.

Kami mulai memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga, kesehatan, spiritualitas, kegiatan sosial, komunitas, menulis, mengajar, berwirausaha, berkarya, maupun melakukan berbagai hal yang dahulu tertunda karena kesibukan profesional.
Dan di sinilah soliditas Angkatan ’81 mendapatkan makna baru.
Dahulu kami bertemu karena sama-sama mahasiswa Farmasi UGM.
Kemudian kami bertemu sebagai para profesional.
Kini kami bertemu sebagai manusia yang sedang memasuki fase kehidupan yang berbeda.
Tidak lagi berlomba mengejar jabatan, tetapi berbagi pengalaman kehidupan.
Tidak lagi bertanya, "Apa jabatanmu sekarang?"

Melainkan mulai bertanya:
"Bagaimana kabarmu?"
"Bagaimana keluarga?"
"Apa kegiatanmu setelah pensiun?"
"Masih sehat?"
"Sekarang sedang mengerjakan apa?"
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru menjadi semakin bermakna.
80 Tahun Farmasi UGM: Merawat Warisan Kebersamaan
Delapan puluh tahun Farmasi UGM bukan hanya perjalanan sebuah institusi pendidikan.
Ini adalah perjalanan ribuan manusia yang pernah duduk di bangku kuliahnya, belajar, bertumbuh, berkarya, dan kemudian membawa nama almamater ke berbagai penjuru kehidupan.
Di dalam perjalanan panjang itu, Angkatan ’81 hanyalah satu bagian kecil dari sejarah panjang Farmasi UGM.
Untuk merawat silaturahmi, Kami punya agenda tahunan: Jalan-Jalan Bareng!
Itulah resep jitu membangun kebersamaan kami, ditengah kesibukan momong cucu, menjalani pensiunpreneur, dan aktivitas ketika masa lansia tiba.
• Karyanto (4424/FA) / Angkatan 1981 Farmasi UGM








