![]() |
| Setengah abad yang lalu, Coach Karyanto sekolah di SMPN 1 Kawedanan, Gorang-Gareng, Magetan, Jawa Timur. Nostalgi nan penuh arti hari ini. |
JamuDigital,Com- MEDIA JAMU, NOMR SATU. MAGETAN- JAWA TIMUR. Lima puluh tahun bukan waktu yang singkat. Pada tahun 1977, Coach Karyanto lulus dari SMP Negeri 1 Kawedanan. Jumat sore, 11 September 2026, dia kembali ke sekolah yang sama- sebagai seorang coach dan menjadi narasumber yang membawa pesan tentang masa depan.
Kepada pelajar SMPN 1 Kawedanan era AI, dan alumni SNESKA 1977- Coach Karyanto mengajak mereka menguasai tiga kompetensi manusia yang tidak mudah digantikan oleh kecerdasan buatan, yaitu: Critical Thinking, Emotional Intelligence, dan Growth Mindset.
Ada pertemuan yang sekadar menghadirkan seseorang untuk berbicara. Ada pula pertemuan yang membawa kembali kenangan, pengalaman, sekaligus gagasan baru ke tempat seseorang pernah memulai perjalanan hidupnya.
Jumat sore, 11 September 2026 suasana berbeda terasa di SMP Negeri 1 Kawedanan, Magetan. Sekolah itu kembali menerima salah satu alumninya-Coach Karyanto, alumni SNESKA tahun 1977-untuk mengisi Webinar Nasional IKA SNESKA 2026.
Hampir setengah abad setelah meninggalkan bangku sekolah tersebut, Coach Karyanto kembali "pulang" ke sekolah.
Kali ini ia datang membawa satu pesan penting untuk generasi pelajar di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan (AI):
"AI akan semakin pintar. Oleh karena itu, manusia harus semakin kuat mengusai soft skill."
Pesan tersebut disampaikan dalam tema webinar nasional “3 Soft Skills yang Tidak Bisa Digantikan AI: Kunci Sukses Pelajar untuk Tetap Produktif, Adaptif & Relevan di Era AI.”
Acara berlangsung secara hybrid, mempertemukan peserta secara langsung di SMPN 1 Kawedanan dan peserta yang mengikuti melalui Zoom. Bahkan juga diikuti secara online oleh beberapa sekolah SMP di Gorang-Gareng , Magetan.

Bukan Melawan AI, tetapi Belajar Menggunakan AI
Di hadapan para pelajar, guru, alumni, dan peserta webinar, Coach Karyanto tidak menempatkan AI sebagai musuh.
Sebaliknya, ia mengajak peserta untuk melihat AI sebagai alat yang dapat meningkatkan kemampuan manusia.
Menurutnya, persoalan masa depan bukan lagi siapa yang mampu mengalahkan AI.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apa yang tetap menjadi kekuatan manusia ketika AI semakin cerdas?"
Dari situlah ia mengajak peserta mengenali tiga kemampuan yang harus terus diasah.
1. Critical Thinking - Berpikir Kritis
AI dapat memberikan jawaban dengan sangat cepat. Namun, manusia tetap harus mampu bertanya:
Apakah jawaban itu benar? Apakah sumbernya terpercaya? Apa buktinya? Apa dampaknya? Apakah ada perspektif lain?
Pelajar masa depan, menurut Coach Karyanto, bukan sekadar mereka yang mampu menggunakan AI untuk mencari jawaban.
Tetapi mereka mampu menilai, menilai, menguji, dan mengambil keputusan secara bijak.
2. Emotional Intelligence - Kecerdasan Emosional
Di tengah dunia digital yang semakin cepat, kemampuan memahami manusia justru semakin penting.
Mengenali emosi diri, mengelola emosi, memahami orang lain, berempati, bekerja sama, dan membangun hubungan merupakan kemampuan yang tidak cukup hanya dipelajari dari algoritma.
Coach Karyanto mengajak pelajar memahami bahwa kesuksesan bukan hanya persoalan IQ dan teknologi, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain.
Teknologi bisa semakin canggih. Tetapi hubungan antarmanusia tetap menjadi kekuatan manusia.
3. Growth Mindset - Mentalitas Bertumbuh
Dunia yang berubah cepat membutuhkan manusia yang mau terus belajar. Bagi Coach Karyanto, pelajar tidak boleh takut salah, gagal, atau tertinggal.
Kesalahan bukan akhir perjalanan. Kegagalan bukan identitas. Justru keduanya dapat menjadi bahan bakar untuk belajar dan berkembang. "Belum bisa" bukan berarti "tidak bisa".
Inilah semangat growth mindset yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah.

Dari SNESKA 1977, Kembali Membawa Inspirasi
Ada dimensi lain yang membuat webinar ini terasa istimewa. Coach Karyanto bukan pembicara yang datang dari luar tanpa hubungan dengan sekolah.
Coach Karyanto dalah alumni SMPN 1 Kawedanan yang lulus pada tahun 1977. Sekolah yang dahulu menjadi tempatnya belajar sebagai seorang pelajar, kini menjadi tempatnya berbagi pengalaman tentang human capital setelah melalui perjalanan panjang sebagai jurnalis, praktisi komunikasi publik & personal branding, trainer senior, coach bersertifikat BNSP RI, dan penggerak berbagai pengembangan program pensiun mulia.
Kepulangannya menjadi semacam perjalanan melintasi waktu. Dulu ia duduk sebagai siswa. Kini ia berdiri di depan generasi yang sedang mempersiapkan masa depan.
Dari bangku sekolah menuju dunia profesional. Dari seorang pelajar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dan dari alumni menjadi inspirator bagi generasi berikutnya.
Apresiasi dari Kepala Sekolah
Kepala Sekolah SMPN 1 Kawedanan, Esti Nurhayati memberikan kesan positif terhadap paparan yang disampaikan Coach Karyanto. Menurutnya, materi tersebut tidak hanya berbicara tentang bahaya atau tantangan AI, tetapi justru memberikan perspektif bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuksesan pelajar.
Pesan ini menjadi penting. Sebab generasi muda tidak cukup hanya diajarkan untuk berhati-hati terhadap teknologi.
Mereka juga harus dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, produktif, dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, AI bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. AI justru dapat menjadi partner belajar dan bekerja, selama manusia tetap memiliki kemampuan berpikir dan karakter yang kuat.
Inspirasi yang Tidak Berhenti di Ruang Webinar
Menariknya, dampak kegiatan tersebut tidak berhenti setelah webinar selesai. Sejumlah alumni yang mengikuti kegiatan mengaku mendapatkan inspirasi dari materi Coach Karyanto dan mulai melihat kemungkinan untuk mengadaptasi materi tersebut dalam berbagai kegiatan mereka.
Menyempurnakan suatu materi berubah menjadi lebih dari sekadar presentasi. Ia menjadi gagasan yang bergerak dari satu orang ke orang lain.
Ketua Ikatan Aumni SNESKA, Setyo Wuryanto juga menyambut baik acara perdana IKA SNESKA ini, terumakasih Mas Karyanto ini, jauh-jauh dari Jakarta berkenan hadir, dan semoga program seperti ini dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Webinar yang dipandu oleh moderator Agus Budi (Pengurus IKA SNESKA) dan MC Yamirah (Pengurus IKA SNESKA)- webinar ini sangat interaktif karena peserta dapat bertanya jawab dengan Coach Karyanto untuk mendalami materi lebih aplikatif lagi.
Dari sekolah ke alumni.
Dari alumni ke komunitas.
Dari webinar ke berbagai aktivitas nyata.
Sebuah gagasan memang memiliki kehidupan sendiri ketika orang-orang mulai bermanfaat.

Pesan untuk Generasi SNESKA
Kembali ke sekolah setelah puluhan tahun ternyata bukan sekadar nostalgia. Bagi Coach Karyanto, momen tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda:
Jangan takut dengan AI.
Jangan pula bergantung sepenuhnya kepada AI.
Gunakan AI.
Pelajari AI.
Manfaatkan AI.
Tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan yang membuat manusia tetap menjadi manusia: Berpikirlah. Merasa. Tumbuh.
Berpikir Kritis. Berani berpikir dan berpikir.
Kecerdasan Emosional. Mampu memahami diri dan sesama.
Growth Mindset.Mau terus belajar dan berkembang.
Dari alumni untuk generasi. Dari pengalaman untuk masa depan.
Dari SNESKA 1977 ke SNESKA hari ini dan esok. Coach Karyanto - Alumni SMPN 1 Kawedanan 1977. "AI boleh semakin pintar. Manusia harus semakin bernilai."










