Strategi Percepatan Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional
Tanggal Posting : Jumat, 11 Oktober 2019 | 06:23
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 453 Kali
Strategi Percepatan Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional
Pembicara dan Panitia Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-57 di Kampus UHAMKA, Jakarta pada 10-11 Oktober 2019.

JamuDigital.Com- PIONER MEDIA ONLINE & MARKETPLACE JAMU INDONESIA. Fakultas Farmasi dan Sains (FFS) UHAMKA Jakarta berkerja sama dengan POKJANASTOI (Kelompok Kerja Nasional Tanaman Obat lndonesia) menyelenggarakan Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-57 di Kampus UHAMKA, Jakarta pada 10-11 Oktober 2019.

Seminar Nasional ini bertema: "Percepatan Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional: Penggalian, Budidaya, Pelestarian, dan Pemanfaatan Berkelanjutan Tumbuhan Obat Indonesia".

Seminar POKJANASTOI KE- 57 diikuti sekitar 150 peserta, menampilkan pembawa makalah sebanyak 117 orang (Terdiri: 74 presenter oral, dan 43 presenter poster). Naskah-naskah hasil penelitian akan dipublikasikan dalam jurnal-jurnal bereputasi setelah diseleksi dan direview oleh bidang Ilmiah POKJANASTOI 57.

Sebagai key note speaker, Menteri Kesehatan RI., diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan, Mohamad Subuh, MD, MPPM.

Pembicara: Dra. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc., Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, Dr. Agung Eru Wibowo, Apt., M.Si., (PLT) Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika- BPPT, Dr. Raymond R. Tjandrawinata, PhD., MS., MBA., Director of Corporate Development, PT. Dexa Medica, Prof. Dr. lr. Ervizal AM. Zuhud, MS., Pembina POKJANASTOI, Prof. Dr. Dayat Arbain, Apt., Peneliti Tumbuhan Obat Sumatera dan Dosen Universitas 17 Agustus 45, Jakarta, Dr. Husniah Rubiana T. Akip., SpF., M.Kes., Sp.Ak., lkatan Dokter Indonesia DKI Jakarta, Dr. Ani Kurniawati, S.P., M.Si., Dosen Institut Pertanian Bogor , Dr. Siska, M.Farm, Apt., Dosen Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA.

Tampak hadir, Rektor UHAMKA Prof. Dr. Gunawan Suryoputro, M.Hum., dan Dekan Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA Dr. Hadi Sunaryo, M.Si., Apt.

Ketua POKJA TOOT, Akhmad Saikhu, M.Sc. PH- yang juga Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) dalam sambutannya menjelaskan bahwa Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional lahir dari sebuah simposium yang diselenggarakan pada tahun 1985, yang kemudian resmi berdiri dengan nama Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia (POKJANAS T01) 29 tahun yang lalu.

POKJANAS TOI atau yang sekarang disebut POKJA TOOT dibentuk dengan tujuan mengkoordinasi penelitian dan pengembangan tumbuhan obat dan obat tradisional mencakup kegiatan riset hulu hilir (mencakup penelitian pelestarian tanaman obat, budidaya, kontrol kualitas, fitokimia, hingga keamanan dan khasiat).

B2P2TOOT, Badan Litbang Kesehatan, sebagai Sekretariat POKJA Tanaman Obat dan Obat Tradisional sedang mengintensifkan sinergi percepatan Fitofarmaka. Sinergi tersebut berupa kerja sama secara aktif dengan industri obat tradisional yang memiliki kemampuan menghasilkan ekstrak secara CPOTB dalam pengembangan bahan Jamu Saintifik menjadi Fitofarmaka. "Untuk itu, kami membuka pintu kerja sama dengan posisi yang setara bagi industri dan lembaga riset yang memiliki visi pengembangan Fitofarmaka," ungkap Akhmad Saikhu.

Dalam siaran pers yang dibagikan Panitia Seminar disebutkan: Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Peranan Obat Tradisional lndonesia amat penting dalam pembangunan kesehatan.

Produsen Obat Tradisional yang akan memproduksi sediaan Obat Tradisional masih mengalami kendala kualitas, kuantitas dan kontinuitas Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT), baik berupa bahan baku simplisia, maupun bahan baku ekstrak.

Masalah pada bahan baku simplisia antara lain: Ketersediaan bahan tanaman yang terbatas, Banyak tanaman obat merupakan tumbuhan liar dan belum dibudidayakan; Penanganan pasca panen yang umumnya masih tradisional, tidak higienis dan sangat jauh di bawah standar; Industri bahan baku simplisia juga belum berkembang terkait dengan aspek tata niaga yang belum banyak memberikan keuntungan pada petani/pengumpul tanaman obat.

Sedangkan masalah pada bahan baku ekstrak pada dasarnya akibat teknologi rancang bangun peralatan yang masih sangat kurang, sehingga diperlukan biaya investasi yang besar untuk pembelian peralatan dan kegiatan pengembangan teknologi proses ekstraksi.

Pertumbuhan pasar Obat Tradisional di Indonesia masih tergolong kecil. Namun, dengan ditingkatkannya kualitas dan daya saing produk dengan menerapkan strategi pemasaran yang tepat, maka peluang pasar produk Obat Tradisional dan obat herbal masih terbuka luas.

Kecenderungan peningkatan pasar dalam negeri terhadap penggunaan produk Obat Tradisional terjadi dari tahun ke tahun. Meningkatnya pasar produk Obat Tradisional tentu akan juga meningkatkan kebutuhan BBOT simplisia maupun BBOT ekstrak.

Percepatan pengembangan BBOT
Percepatan pengembangan BBOT diharapkan dapat meningkatkan produktivitas peneliti dan kemajuan industri Obat Tradisional di Indonesia, sehingga dapat mengurangi ketergantungan bahan baku obat dari luar.

Pengembangan BBOT memberikan keuntungan antara lain: Kuatnya struktur industri Obat Tradisional yang memiliki kemampuan dan kemandirian, serta pangsa pasar nasional yang cukup besar; Tradisi penggunaan obat alami di kalangan masyarakat yang sangat kuat; Kekayaan sumber daya hayati tanaman dan pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh berbagai suku/etnik di tanah air; Dukungan sumber daya manusia untuk aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan dalam rangka pengembangan obat herbal, baik secara kualitatif dan kuantitatif; Dukungan sumber daya sarana dan prasarana riset di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian; Dukungan aspek regulasi dan standarisasi mutu yang memudahkan dalam industrlalisasi produk BBOT.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan informasi pengembangan Obat Tradisional dan juga kesempatan kepada peserta untuk mempresentasikan hasil risetnya. Melalui kegiatan ini, peserta dengan latar belakang ilmu farmasi dan Ilmu kesehatan terkait, produsen Obat Tradisional, pertanian, dan bidang ilmu terkait dapat mengembangkan dan membagi Ilmu pengetahuan, serta membangun koneksi riset terkait perkembangan Obat Tradisional lndonesia.

Tanaman yang menjadi fokus utama pada seminar Ini adalah Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan Daun Afrika (Vernonia amygdalina Delile). Meskipun demikian para peneliti tanaman obat lain tetap dapat mengikutl kegiatan inl.

Sponsor yang mendukung Seminar POKJANASTOI 57: Sponsor utama: B2P2TOOT, Sponsor pendukung: PT. lndogen, PPUIN, dan PT. Martina Berto. Redaksi JamuDigital.Com.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2020. All Right Reserved. @ www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: