Produksi Pati Pharmaceutical Grade Berbasis Ubi Kayu
Tanggal Posting : Rabu, 4 Agustus 2021 | 06:22
Liputan : Redaksi JamuDigital.Com - Dibaca : 128 Kali
Produksi Pati Pharmaceutical Grade Berbasis Ubi Kayu
Inovasi produk oleh B2TP berupa Partially Pragelatinized Starch (PPS) yang dibuat dengan memodifikasi Tapioka secara fisis menggunakan teknik ekstrusi.

JamuDigital.Com- MEDIA JAMU, NOMOR SATU. Tingginya kebutuhan bahan baku dan bahan tambahan obat di Indonesia, terus mendorong riset untuk menghasilkan inovasi eksipien lokal yang memenuhi kualitas pharmaceutical grade. Potensi itu, antara lain dengan inovasi Teknologi Produksi Pati Farmasi sebagai Eksipien (Bahan Baku Obat) berbasis Ubi Kayu-Tapioka.

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah sebagai bahan baku dalam pembuatan pati farmasi seperti ubi kayu, sagu dan jagung, namun hingga saat ini belum ada satu pun produsen pati farmasi yang berdiri di Indonesia.

Kebutuhan pati farmasi di dalam negeri masih tergantung impor dari berbagai negara, karena belum adanya pabrik pati farmasi di dalam negeri. Saat ini industri farmasi Indonesia telah dapat memproduksi 90% kebutuhan produk obat dalam negeri bahkan untuk ekspor, namun hampir 95% produksi tersebut tergantung pada Bahan Baku Obat (BBO) impor padahal sumber daya Indonesia dapat dikembangkan.

Eksipien farmasi adalah suatu komponen dari produk farmasi selain bahan aktif yang ditambahkan saat formulasi untuk tujuan tertentu. Eksipien juga dapat sebagai komponen yang sangat diperlukan selain dari bahan aktif obat tersebut. Sebagian besar formulasi obat menggunakan eksipien dengan proporsi yang lebih banyak dibandingkan bahan aktif obat.

Saat ini belum ada industri farmasi bahan baku sediaan obat (eksipien) berbahan baku ubi kayu di Indonesia. Industri farmasi menggunakan jagung sebagai pati farmasi yang diperoleh dari impor.

Merespon kondisi tersebut, Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) - BPPT melakukan kajian dan pengembangan eksipen berbasis pati ubi kayu (tapioka) guna mewujudkan kemandirian obat di dalam negeri oleh industri farmasi nasional. Khususnya terkait dengan teknologi produksi bahan baku obat penunjang (excipient) baik sebagai binder, filler maupun disintegrant. Demikian siaran pers BPPT pada 22 Juni 2021.

Media Jamu, Nomor Satu

Inovasi produk yang dihasilkan B2TP berupa Partially Pragelatinized Starch (PPS) yang dibuat dengan memodifikasi tapioka secara fisis menggunakan teknik ekstrusi. Dari uji formulasi pembuatan tablet paracetamol 250 mg dari PPS tersebut diperoleh hasil bahwa prototipe PPS tersebut dapat digunakan sebagai binder dengan kualitas tablet yang baik.

Adapun data yang diperoleh mempunyai keseragaman bobot 455.25 ± 8 mg, kekerasan tablet 5.5 (syarat keberterimaan 4-8) dan waktu hancur baik 1.16 ± 0.3 menit (syarat keberterimaan farmakope < 15 menit).

Menindaklanjuti hasil kajian tersebut, B2TP BPPT mengajak PT. Bangka Asindo Agri untuk menerapkan teknologi produksi pati farmasi pertama di Indonesia dalam rangka penyediaan bahan baku obat (eksipien) ini. Selain itu, B2TP siap bekerjasama dengan industri dalam penerapannya. (Sumber Berita: https://www.bppt.go.id/siaran-pers/4343-sp-055-vi-2021-inovasi-teknologi-produksi-pati-farmasi-sebagai-eksipien-bahan-baku-obat-berbasis-ubi-kayu). Redaksi JamuDigital.Com


Kolom Komentar
Berita Terkait

JAMU DIGITAL: MEDIA JAMU NOMOR SATU

Tentang Kami

@ Copyright 2021. All Right Reserved.  www.jamudigital.com

  Link Media Sosial Jamu Digital: